Reporter: Rashif Usman | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bertahan di zona merah sepanjang perdagangan Senin (18/5/2026). Hingga pukul 15.40 WIB, IHSG anjlok 2,59% ke level 6.549,46.
Tim riset Pilarmas Investindo Sekuritas menilai gejolak pasar keuangan domestik semakin meningkat di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp17.600 per dolar AS. Dalam situasi depresiasi rupiah yang cukup tajam tersebut, perhatian pelaku pasar justru tertuju pada respons pemerintah yang dinilai kontroversial.
Pelaku pasar disebut merespons negatif pernyataan Prabowo yang menyebut masyarakat di wilayah pedesaan tidak menggunakan dolar AS dalam aktivitas sehari-hari.
Alih-alih menenangkan pasar, komentar tersebut justru menjadi sentimen negatif di pasar. Pelaku pasar menilai pernyataan itu memperlihatkan kurangnya kepekaan pemerintah terhadap urgensi stabilisasi mata uang.
Baca Juga: Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Pasar Soroti Konflik Geopolitik dan Pernyataan Prabowo
"Ini sebagai sinyal lemahnya komitmen pemerintah dan otoritas lainnya dalam menjaga nilai tukar dan membangun kredibilitas fundamental ekonomi nasional di mata investor global," kata Tim riset Pilarmas Investindo Sekuritas, Senin (18/5/2026).
Selain itu, Indeks IHSG dan bursa regional Asia bergerak melemah, sentimen aksi jual tajam di Wall Street pada akhir pekan kemarin dan diperparah oleh kekhawatiran akan meningkatnya konflik di Timur Tengah dan potensi guncangan pasokan minyak.
Pasar cenderung lebih berhati-hati di tengah ketegangan geopolitik yang kembali meningkat di Timur Tengah. Sentimen melemah setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan peringatan baru kepada Iran, meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut di kawasan tersebut dan potensi gangguan terhadap pasokan minyak global.
Presiden Donald Trump terus mengambil sikap yang lebih keras terhadap Teheran karena pembicaraan antara Washington dan Iran tetap buntu, sehingga Selat Hormuz sebagian besar tetap tertutup. Kekhawatiran semakin meningkat setelah muncul laporan bahwa fasilitas energi di Teluk Persia diserang selama akhir pekan.
Aktivitas perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok turut menjadi perhatian pasar. Produksi industri Tiongkok tumbuh 4,1% year-on-year pada April 2026 atau melambat dari kenaikan 5,7% pada Maret dan di bawah ekspektasi 5,9%. Hal yang sama juga pada penjualan ritel Tiongkok naik 0,2% year-on-year pada April 2026, melambat tajam dari kenaikan 1,7% pada Maret dan jauh di bawah perkiraan kenaikan 2%.
Dampak perang tarif dagangan dan konflik Timur Tengah tentunya ini meredam momentum pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang merupakan salah satu negara kekuatan ekonomi terbesar di dunia.
Baca Juga: Rupiah dan Rupee Sentuh Rekor Terburuk Sepanjang Masa, Ini Sentimen yang Menyeretnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













