Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) sepanjang 2025 menunjukkan pertumbuhan yang solid. Emiten distribusi alat kesehatan ini membukukan laba bersih Rp65,13 miliar atau naik 23,83% secara tahunan (yoy), sejalan dengan lonjakan aset sebesar 46,65% menjadi Rp2,43 triliun.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai, pertumbuhan tersebut mencerminkan kualitas fundamental yang cukup baik.
“Pertumbuhannya berkualitas. Kenaikan aset mencerminkan ekspansi kapasitas riil dan penguatan basis fundamental, bukan jangka pendek,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (24/4/2026).
Sejalan dengan itu, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menyoroti bahwa pertumbuhan laba yang lebih tinggi dibandingkan pendapatan menunjukkan adanya peningkatan efisiensi operasional.
“Bottom line naik 23,8% yoy, lebih tinggi dari pertumbuhan pendapatan sekitar 12% yoy, yang mencerminkan efisiensi. Namun, lonjakan aset lebih dari 46% menunjukkan ekspansi agresif, sehingga efektivitas utilisasi aset menjadi kunci ke depan,” jelasnya.
Baca Juga: Ultrajaya (ULTJ) Bagi Dividen Tunai Rp 1,35 Triliun, Cek Jadwalnya
Dari sisi ekspansi, IRRA tercatat telah memperluas jaringan distribusi hingga 2.504 titik di seluruh Indonesia. Langkah ini dinilai akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan penjualan, meskipun efeknya tidak instan.
Wafi mengatakan, penambahan jaringan distribusi tersebut akan mempercepat penetrasi pasar, khususnya di wilayah Tier 2 dan Tier 3.
“Dampaknya signifikan. Penambahan jaringan itu mempercepat penetrasi produk ke pasar Tier 2 dan 3 dan secara langsung mendorong kenaikan volume penjualan,” ujarnya.
Senada, Sukarno menilai ekspansi jaringan akan memperkuat volume penjualan dalam jangka menengah, terutama di luar kota besar, meski optimalisasinya membutuhkan waktu.
“Dampaknya positif, tetapi bertahap seiring waktu optimalisasi jaringan,” imbuhnya.
Namun demikian, ekspansi yang agresif juga membawa konsekuensi terhadap margin laba. Pada 2025, margin laba bersih IRRA tercatat sebesar 5,90%.
Wafi memperkirakan margin tersebut berpotensi tertekan dalam jangka pendek akibat peningkatan beban operasional, terutama dari pengembangan infrastruktur logistik dan sistem manajemen inventori.
“Margin rawan tertekan jangka pendek akibat beban awal infrastruktur logistik. Namun akan kembali stabil di jangka menengah seiring efisiensi skala ekonomi,” jelasnya.
Sukarno juga melihat potensi tekanan serupa, meski menilai margin saat ini masih relatif stabil. Pemulihan margin akan sangat bergantung pada kemampuan perseroan dalam mencapai skala ekonomi.
“Potensi pemulihan bergantung pada operating leverage dari ekspansi yang dilakukan,” katanya.
Dari sisi bisnis, segmen in vitro diagnostics (IVD) masih menjadi kontributor utama pendapatan IRRA, dengan nilai mencapai Rp693,48 miliar.
Wafi menilai segmen ini akan tetap menjadi motor penggerak kinerja perseroan pada 2026, terutama karena karakteristik produknya yang bersifat recurring.
“Produk reagen dan alat tes yang habis pakai menjamin visibilitas pendapatan 2026 yang kuat, didukung perluasan pasar regional,” ujarnya.
Sukarno juga sependapat bahwa segmen IVD akan tetap menopang pertumbuhan, meskipun tetap terdapat risiko dari fluktuasi permintaan di pasar.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, kedua analis memberikan pandangan yang berbeda terhadap prospek saham IRRA.
Wafi merekomendasikan hold dengan target harga Rp400 per saham.
Sementara itu, Sukarno memberikan rekomendasi buy dengan target harga Rp500 per saham, didukung oleh kinerja yang positif serta valuasi yang dinilai masih relatif menarik.
“Dengan pertimbangan kinerja yang positif dan valuasi yang relatif murah, saham ini masih menarik,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













