kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.550.000   -4.000   -0,16%
  • USD/IDR 18.093   13,00   0,07%
  • IDX 5.388   59,54   1,12%
  • KOMPAS100 697   10,48   1,53%
  • LQ45 545   8,81   1,64%
  • ISSI 183   1,92   1,06%
  • IDX30 305   4,36   1,45%
  • IDXHIDIV20 400   6,31   1,60%
  • IDX80 80   1,24   1,57%
  • IDXV30 111   1,31   1,20%
  • IDXQ30 101   1,89   1,91%

Harga Saham Blue Chip Ini Bangkit Usai Turun Ke Titik Terendah, Analis: Akumulasi


Jumat, 23 Oktober 2026 / 06:00 WIB
Harga Saham Blue Chip Ini Bangkit Usai Turun Ke Titik Terendah, Analis: Akumulasi
ILUSTRASI. Harga Saham Blue Chip Ini Bangkit Usai Turun Ke Titik Terendah, Analis: Akumulasi


Reporter: Rashif Usman | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Harga saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mulai bangkit usai pelemahan bersamaan anjloknya pasar saham domestik akibat pengumuman Morgan Stanley Corporation International (MSCI). Analis melihat pembalikan harga saham anggota LQ45 ini menjadi momentum untuk akumulasi.

Harga saham UNVR pada perdagangan Kamis 22 Oktober 2026 ditutup di Rp 1.415 naik 3,28% atau 45 poin secara harian. Harga saham UNVR terus merosot pascapengumuman MSCI pada 15 Oktober 2026 yang membuka kemungkinan mengeluarkan pasar saham Indonesia dari kelompok emerging market  ke standalone market. 

Pada 19 Oktober 2026, harga saham UNVR ditutup di Rp 1.325. Ini merupakan harga terendah dalam setahun terakhir. 

Analis menyatakan harga saham UNVR masih berpotensi melanjutkan kenaikan. Hal ini didukung oleh kinerja perusahaan yang bagus.

UNVR mencatatkan pertumbuhan penjualan dan laba bersih selama sembilan bulan pertama 2026. Meski demikian, kualitas pemulihan kinerja emiten barang konsumsi ini masih menjadi perhatian karena laba bersih turut ditopang keuntungan dari penjualan operasi yang dihentikan.

Baca Juga: Manajemen Bayan Pun Tak Bisa Jelaskan Harga Murah Penjualan Saham Ke Haji Isam

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, penjualan UNVR hingga September 2026 mencapai Rp 25,8 triliun, tumbuh 7,2% secara tahunan atau year on year (YoY). Pada periode yang sama, laba bersih meningkat 25,96% YoY menjadi Rp 4,2 triliun, dibandingkan Rp 3,34 triliun pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, laba dari operasi berkelanjutan tumbuh 10,6%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penjualan. Capaian ini menunjukkan adanya perbaikan kinerja operasional di tengah tekanan inflasi yang masih membayangi daya beli masyarakat.

Presiden Direktur Unilever Indonesia Benjie Yap mengatakan, pertumbuhan tersebut ditopang kinerja yang merata di berbagai unit bisnis dan saluran penjualan. Perseroan juga terus meningkatkan daya saing melalui penguatan eksekusi strategi dan investasi pada prioritas bisnis.

UNVR turut mencatatkan pertumbuhan volume penjualan selama lima kuartal berturut-turut. Untuk mempertahankan tren positif tersebut, perseroan memperkuat merek, mengembangkan portofolio produk premium, serta memperluas bisnis digital.

"Pertumbuhan laba yang melampaui pertumbuhan penjualan menunjukkan kemajuan berkelanjutan dalam membangun bisnis yang lebih kuat," kata Benjie dalam keterangan resmi, Kamis (22/10/2026).

Baca Juga: IHSG Menguat Tiga Hari Beruntun ke 5.387, Cek Saham yang Banyak Diborong Asing

Kualitas pemulihan laba UNVR jadi sorotan

Meski mencatatkan pertumbuhan kinerja, analis menilai investor perlu mencermati sumber kenaikan laba bersih UNVR.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, laba bersih perseroan masih mencakup keuntungan sebesar Rp 870,27 miliar dari penjualan operasi yang dihentikan.

Karena itu, pertumbuhan laba bersih belum sepenuhnya menggambarkan kekuatan bisnis inti UNVR. Menurut Elandry, pertumbuhan penjualan dan efisiensi operasional perlu menjadi indikator utama dalam menilai keberlanjutan pemulihan kinerja perseroan.

"Pertumbuhan penjualan dan efisiensi perlu menjadi indikator utama untuk mengukur kualitas pemulihan laba. Jadi, hasil ini positif, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan pemulihan bisnis sudah solid," ujar Elandry kepada Kontan, Kamis (22/10/2026).

Elandry menambahkan, prospek UNVR hingga akhir 2026 dan sepanjang 2027 akan bergantung pada konsistensi pertumbuhan penjualan inti, daya beli masyarakat, efisiensi biaya, serta kemampuan perseroan mempertahankan margin di tengah persaingan.

Perbaikan konsumsi rumah tangga dan efektivitas strategi bisnis berpotensi menopang kinerja perusahaan. Namun, tekanan daya beli serta kenaikan biaya bahan baku dan distribusi masih menjadi risiko yang perlu dicermati investor.

Tonton: Media ASEAN Ramai Bicarakan Indonesia yang Tahan Bantuan Asing untuk Atasi Karhutla

Rekomendasi saham UNVR

Dari sisi investasi, Elandry menyarankan investor mengakumulasi saham UNVR secara bertahap untuk jangka panjang. Ia menetapkan target harga indikatif di kisaran Rp 1.800 hingga Rp 2.000 per saham.

Meski prospek pemulihan mulai terlihat, investor tetap perlu memantau perkembangan laba operasional dan keberlanjutan pertumbuhan penjualan. Kedua indikator tersebut penting untuk memastikan peningkatan kinerja UNVR benar-benar didukung penguatan bisnis inti, bukan semata-mata keuntungan dari transaksi nonberulang.


 

KPK Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut, Tersangka Baru Diperiksa!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×