Reporter: Rashif Usman | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45 kembali menjadi perhatian investor setelah mengalami koreksi cukup dalam sepanjang 2026. Apakah sekarang waktunya mulai koleksi saham berkarakteristik blue chip tersebut?
Saham blue chip adalah adalah saham lapis satu yang telah berpengalaman di bursa dan memiliki fundamental kuat. Saham blue chip biasanya memiliki nilai kapitalisasi pasar besar mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah dan likuiditas tinggi di pasar.
Secara historis, sejumlah saham blue chip di Bursa Efek Indonesia (BEI) kini diperdagangkan pada valuasi yang lebih rendah dibandingkan rata-rata beberapa tahun terakhir. Meski demikian, valuasi murah belum tentu menjadi sinyal bahwa saham tersebut sudah layak dikoleksi.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menilai penurunan valuasi, terutama pada sektor perbankan, memang sudah cukup signifikan. Hal itu tercermin dari rasio price to book value (PBV) yang kini berada jauh di bawah rata-rata historisnya.
Tonton: Heboh Rumor PHK 90% Karyawan Tokopedia! Benarkah TikTok Lakukan PHK Massal?
Namun, menurut Harry, penurunan valuasi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan risiko fundamental yang masih membayangi industri perbankan.
"Valuasi yang turun saat ini belum sepenuhnya mencerminkan risiko kondisi ekonomi yang dihadapi sektor perbankan. Ke depan, kondisi ekonomi masih berpotensi menekan pertumbuhan kredit, memicu kontraksi net interest margin (NIM), meningkatkan rasio kredit bermasalah (NPL), serta mendorong kenaikan biaya provisi," ujar Harry.
Banyak Saham LQ45 Diperdagangkan di Bawah Valuasi Historis
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, mengatakan secara umum valuasi saham-saham blue chip saat ini sudah lebih menarik dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir.
Beberapa contohnya antara lain:
- BBCA diperdagangkan pada PER sekitar 11,9 kali, dibanding rata-rata historis 17 kali.
- BBRI memiliki PER sekitar 6,9 kali, lebih rendah dari rata-rata historis 9,9 kali.
- BMRI diperdagangkan pada PER sekitar 6,1 kali, dibanding rata-rata historis 8,2 kali.
- KLBF memiliki PER sekitar 9,6 kali, jauh di bawah rata-rata historis 15,6 kali.
- CPIN diperdagangkan pada PER sekitar 7,8 kali, sedangkan rata-rata historisnya 15,1 kali.
- ICBP memiliki PER sekitar 8,7 kali, lebih rendah dibanding rata-rata historis 13,5 kali.
Meski demikian, Alrich menilai valuasi murah tersebut tidak hanya disebabkan oleh penurunan harga saham, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor eksternal.
Sepanjang semester I 2026, pasar masih dibayangi ketidakpastian arah suku bunga global, tensi geopolitik, arus keluar dana asing (foreign outflow), ketidakpastian kebijakan pemerintah, serta ekspektasi pertumbuhan laba emiten yang lebih moderat.
Akibatnya, investor masih menerapkan premi risiko (risk premium) yang lebih tinggi sehingga belum sepenuhnya percaya diri meski valuasi saham terlihat murah.
Tonton: Tak Cuma Shopee dan Tokopedia Pemerintah Akan Tunjuk Semua Marketplace Pungut Pajak Penjual
Sektor yang Dinilai Menarik
Menurut Alrich, beberapa sektor mulai menawarkan peluang investasi yang menarik, antara lain:
Sektor perbankan
- BBCA
- BBRI
- BMRI
- BBNI
Fundamental perbankan masih dinilai solid dengan kualitas aset yang terjaga dan profitabilitas yang tetap tinggi.
Sektor consumer staples
- ICBP
- INDF
- KLBF
Sektor poultry
- CPIN
- JPFA
Sektor telekomunikasi
- TLKM
Tonton: Harga Emas Hari ini Naik, Harga Buyback Meroket (3 Juli 2026)
Saham yang Dinilai Sudah Tidak Murah
Sebaliknya, beberapa saham dinilai sudah tidak lagi murah jika dibandingkan prospek pertumbuhan labanya.
Di antaranya:
- MAPI, yang PER-nya sudah berada di atas rata-rata historis.
- ITMG, yang diperdagangkan di atas valuasi historis meski masih ditopang dividen tinggi.
- AMMN.
- CUAN.
- Sejumlah saham growth stocks lainnya yang mengandalkan ekspektasi pertumbuhan jangka panjang.
Indikator yang Perlu Diperhatikan Investor
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, mengingatkan investor agar tidak hanya mengandalkan PER dalam menilai suatu saham.
Menurutnya, untuk sektor perbankan indikator yang lebih penting adalah:
- Price to Book Value (PBV).
- Return on Equity (ROE).
Sementara untuk sektor non-keuangan, investor sebaiknya memperhatikan:
- EV/EBITDA.
- Pertumbuhan laba (earnings growth).
- Free cash flow.
Ketiga indikator tersebut dinilai mampu memberikan gambaran valuasi yang lebih akurat dibandingkan hanya menggunakan PER.
Baca Juga: IHSG Melonjak 2% ke 5.863 di Pagi Ini (3/7), Top Gainers LQ45: AMMN, ANTM, HRTA
Rekomendasi Saham Pilihan
Elandry merekomendasikan beberapa saham berikut beserta target harganya:
- BBCA: target Rp9.000.
- BBRI: target Rp4.800.
- BMRI: target Rp5.800.
- TLKM: target Rp3.300.
- ASII: target Rp5.800.
Meski valuasi sejumlah saham LQ45 saat ini sudah lebih murah dibandingkan rata-rata historis, analis mengingatkan investor untuk tetap memperhatikan prospek fundamental, pertumbuhan laba, serta kondisi makroekonomi sebelum mengambil keputusan investasi. Dengan demikian, keputusan membeli saham tidak hanya didasarkan pada valuasi yang terlihat murah, tetapi juga mempertimbangkan kualitas bisnis dan potensi pertumbuhan jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














