kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.595.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 17.912   -76,00   -0,42%
  • IDX 6.071   -50,56   -0,83%
  • KOMPAS100 785   -8,35   -1,05%
  • LQ45 601   -6,98   -1,15%
  • ISSI 211   -1,12   -0,53%
  • IDX30 333   -4,43   -1,31%
  • IDXHIDIV20 424   -2,18   -0,51%
  • IDX80 90   -0,99   -1,09%
  • IDXV30 115   -0,39   -0,33%
  • IDXQ30 109   -0,96   -0,88%

Harga Minyak WTI Berpotensi Melemah, US$ 86 Per Bare Jadi Level Support Berikutnya


Rabu, 30 September 2026 / 19:58 WIB
Harga Minyak WTI Berpotensi Melemah, US$ 86 Per Bare Jadi Level Support Berikutnya
ILUSTRASI. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kembali bergerak volatil di tengah ketidakpastian konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran. (REUTERS/Eli Hartman)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kembali bergerak volatil di tengah ketidakpastian konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Harga minyak mendapat dukungan dari meningkatnya risiko gangguan pasokan setelah Presiden AS Donald Trump membantah adanya rencana untuk melonggarkan sanksi terhadap Iran. Namun, dari sisi teknikal, WTI masih menghadapi potensi pelemahan karena harga belum mampu menembus zona supply penting.

Melansir Trading Economics pada Rabu (30/9/2026) pukul 19.40 WIB, harga minyal mentah WTI bertengger di kisaran US$ 90,6 per barel. Nilai ini tercatat meningkat 1,4% secara harian, tetapi masih mencatatkan koreksi 1,7% sepekan terakhir.

Baca Juga: IHSG Oktober 2026 Berpeluang Rebound, Simak Proyeksinya

Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mencermati pergerakan minyak WTI pada timeframe daily masih berpotensi melanjutkan pelemahan setelah harga belum mampu ditutup di atas zona supply US$ 96,5-US$ 99,1 per barel.

“Kegagalan harga untuk menembus area tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual masih berpotensi mendominasi pergerakan WTI,” jelas Geraldo dalam keterangannya, Rabu (30/9/2026).

Dari analisanya, ia melihat kondisi tersebut membuka peluang bagi harga minyak untuk membentuk pola ABC Correction. Jika tekanan bearish berlanjut, WTI berpotensi bergerak menuju zona support terdekat pada US$ 88,6-US$ 86,6 per barel.

Meski demikian, sentimen fundamental minyak saat ini memberikan dinamika yang berbeda. Harga minyak kembali naik pada perdagangan Rabu setelah Presiden Trump membantah laporan bahwa AS bersedia melonggarkan sanksi terhadap Iran.

Ketidakpastian mengenai negosiasi AS-Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz masih menjadi faktor utama yang menjaga premi risiko di pasar minyak. Selama belum terdapat kepastian mengenai penyelesaian konflik dan normalisasi jalur pengiriman energi, pelaku pasar masih berpotensi memasukkan risiko gangguan pasokan ke dalam harga WTI.

Di sisi lain, terdapat tanda-tanda pemulihan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Reuters mencatat bahwa aktivitas ekspor mulai pulih, termasuk setelah Arab Saudi kembali melakukan pengiriman melalui pelabuhan di Laut Merah setelah East-West Pipeline kembali beroperasi. Ekspor minyak regional juga telah meningkat hingga level tertinggi sejak Februari.

Baca Juga: Biaya Produksi Naik 52%, Margin Emiten Plastik Bisa Tertekan hingga Akhir 2026

Kenaikan persediaan minyak mentah dan bensin di AS berdasarkan data American Petroleum Institute (API) juga menjadi faktor yang berpotensi membatasi penguatan harga.

Pasar kini menunggu data resmi persediaan dari Energy Information Administration (EIA) untuk melihat apakah peningkatan stok tersebut kembali memberikan tekanan terhadap harga minyak.

Kondisi tersebut membuat pergerakan WTI berada di antara risiko geopolitik dan pemulihan pasokan. Ketidakpastian konflik AS-Iran dapat menjaga volatilitas sekaligus memberikan dukungan terhadap harga, sedangkan meningkatnya aliran ekspor dan persediaan AS dapat membatasi ruang penguatan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×