Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah global terkoreksi. Pelemahan ini dipicu oleh meredanya risiko geopolitik serta pulihnya aliran logistik pengapalan pasokan fisik.
Berdasarkan data Bloomberg per Senin (21/9/2026) pada pukul 14.20 WIB, harga minyak WTI di bursa Nymex turun 2,11% di level US$ 98,18 per barel. sementara jenis brent di bursa ICE turun 1,97% di level US$ 101,82 per barel.
Pelemahan harga energi global ini terjadi setelah sempat menyentuh level tertingginya di atas US$ 100 per barel.
Baca Juga: Harga Emas Tertekan, Investor Cermati Prospek Suku Bunga Global
Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menjelaskan, koreksi tersebut mencerminkan pergeseran fundamental pada pemulihan kapasitas ekspor fisik, hilangnya fear premium, hingga potensi demand destruction.
Dari sisi pasokan, perbaikan jaringan pipa utama Petroline milik Saudi Aramco menuju Laut Merah berjalan lebih cepat, yang didukung pula oleh mulai pulihnya arus lalu lintas tanker di Selat Hormuz.
Di sisi lain, intensitas ketegangan geopolitik mulai menyurut seiring masuknya mediasi diplomatik China serta retorika negosiasi antara AS dan Iran pada agenda Sidang PBB. Langkah ini mendorong aksi ambil untung pasar.
“Pelemahan harga minyak mentah belakangan ini mencerminkan berkurangnya geopolitical risk premium menyusul sinyal de-eskalasi diplomatik dan pemulihan logistik pengapalan,” ujar Wahyu kepada Kontan, Senin (21/9/2026).
Meskipun risiko militer mereda, bertahannya harga minyak pada level tinggi dalam beberapa waktu terakhir mulai memicu tekanan destruksi permintaan.
Margin kilang hilir (cracking margins) di Asia dan Eropa tertekan sehingga memicu pemangkasan tingkat utilisasi operasional.
Selain itu, potensi kenaikan inflasi akibat harga energi berisiko menahan suku bunga acuan global tetap tinggi (higher for longer), yang berpotensi menekan konsumsi bahan bakar komersial serta aktivitas manufaktur.
Menghadapi tingginya volatilitas pasar yang digerakkan oleh dinamika berita utama, Wahyu menyarankan investor untuk mencermati data volume aliran fisik (oil on water) serta laporan persediaan mingguan EIA/API secara berkala ketimbang terfokus pada narasi politik semata.
Baca Juga: Segera Right Issue 200 Juta Saham Baru, Cek Profil UVCR dan Kinerja Terbarunya
Investor juga diimbau menghindari pemanfaatan leverage tinggi akibat potensi pergeseran harga biner sebesar 3%–5% secara mendadak.
“Dengan asumsi normalisasi logistik berlanjut, setiap lonjakan harga tajam (spike) yang mendekati area resistance akibat berita temporer dapat dimanfaatkan untuk mengambil posisi jual defensif atau merealisasikan laba parsial bagi investor saham sektor energi,” tutur Wahyu.
Hingga kuartal IV 2026, Wahyu memproyeksikan tren harga minyak mentah akan berada dalam fase koreksi terdistribusi.
Dalam skenario konsensus atau kondisi normalisasi, harga minyak jenis Brent diproyeksikan bergerak di rentang US$ 80,00 hingga US$ 105,00 per barel dengan nilai wajar (fair value) melandai ke area US$ 85,00 hingga US$ 90,00 per barel, sementara skenario eskalasi berada pada kisaran US$ 105,00 hingga US$ 115,00 per barel.
Adapun untuk WTI, harganya diproyeksikan bergerak di rentang US$ 75,00 hingga US$ 100,00 per barel dengan spread diskon terhadap Brent sebesar US$ 3,50 hingga US$ 5,00 per barel, serta potensi skenario eskalasi mencapai US$ 98,00 hingga US$ 108,00 per barel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














