kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.526.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.159   -7,00   -0,04%
  • IDX 5.057   -41,01   -0,80%
  • KOMPAS100 651   -4,49   -0,68%
  • LQ45 515   -0,12   -0,02%
  • ISSI 169   -2,02   -1,18%
  • IDX30 290   0,46   0,16%
  • IDXHIDIV20 392   3,47   0,89%
  • IDX80 75   -0,37   -0,49%
  • IDXV30 109   1,70   1,58%
  • IDXQ30 98   0,32   0,33%

Harga Minyak WTI Berpeluang Menguat, Ketegangan AS-Iran Jadi Katalis


Senin, 02 November 2026 / 05:40 WIB
Harga Minyak WTI Berpeluang Menguat, Ketegangan AS-Iran Jadi Katalis
ILUSTRASI. Harga Minyak Mentah AS Di Bawah Nol, Pembeli Tidak Bayar Malah Ditawari Uang (Dok/DW.com)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan pekan ini.

Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, menjadi sentimen yang membayangi prospek pasokan minyak global.

Sebagai informasi, melansir Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pada penutupan perdagangan Jumat (30/10/2026) berada di US$ 104,21 per barel, naik 2,08% dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, ketegangan antara AS dan Iran masih menjadi perhatian pasar.

Meski upaya diplomasi melalui mediasi Pakistan dan Qatar masih berlangsung di Doha, aktivitas militer di sekitar Selat Hormuz justru meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi minyak.

"Di sisi lain Amerika melakukan penyerangan terhadap nelayan-nelayan di Selat Hormuz. Ini membuat tekanan tersendiri, kemudian Iran pun juga melakukan serangan balik terhadap kapal-kapal yang ada di Selat Hormuz," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (1/11/2026).

Ibrahim bilang, risiko gangguan distribusi energi juga perlu dicermati di kawasan Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb.

Aktivitas kelompok Houthi Yaman yang terus melancarkan serangan terhadap wilayah Arab Saudi berpotensi menambah ketidakpastian terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.

"Ketegangan di Timur Tengah akan kembali memanas dan ini akan membangkitkan harga minyak," katanya.

Selain Timur Tengah, konflik Rusia dan Ukraina yang masih berlangsung serta meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea turut menambah risiko geopolitik global.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga berpotensi memperbesar tekanan inflasi di Amerika Serikat.

Kenaikan harga energi dapat merembet ke biaya transportasi dan bahan pangan, sehingga memunculkan spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini.

Ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut berpotensi memperkuat dolar AS dan meningkatkan daya tarik instrumen berbasis imbal hasil, sehingga turut memengaruhi pergerakan aset komoditas.

Dengan mempertimbangkan perkembangan tersebut, Ibrahim memperkirakan harga minyak mentah WTI pada perdagangan pekan depan akan bergerak dalam rentang US$ 98,20 per barel hingga US$ 108,30 per barel. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×