kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Harga minyak turun dalam tiga hari berturut-turut


Rabu, 28 Maret 2018 / 07:39 WIB
Harga minyak turun dalam tiga hari berturut-turut
ILUSTRASI. Harga minyak


Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejak mencetak rekor tertinggi sejak Juni 2015 pada akhir pekan lalu, harga minyak turun dalam tiga hari terakhir hingga hari ini. Rabu (28/3) pukul 7.17 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei 2018 di New York Mercantile Exchange turun 0,58% ke US$ 64,87 per barel ketimbang hari sebelumnya.

Dalam tiga hari, harga minyak WTI tergelincir 1,53% dari US$ 65,88 yang merupakan level tertinggi sejak pertengahan Juni 2016. Sejalan, harga minyak brent untuk pengiriman Mei 2018 di ICE Futures pun turun dalam tiga hari terakhir.

Pagi ini, harga minyak brent berada di US$ 69,69 per barel, turun 0,60% jika dibandingkan dengan hari sebelumnya. Dalam tiga hari penurunan harga minyak acuan ini mencapai 1,08%.

Asosiasi industri minyak Amerika Serikat (AS), American Petroleum Institute (API) melaporkan kenaikan persediaan minyak yang lebih tinggi daripada ekspektasi. Menurut catatan API, persediaan minyak naik sebesar 5,3 juta barel menjadi 430,6 juta barel hingga akhir pekan lalu.

Di sisi lain, tekanan harga minyak juga datang dari nilai tukar dollar AS yang membaik. Indeks dollar yang mencerminkan nilai tukar dollar AS terhadap mata uang utama dunia, rebound dari titik terendah dalam lima pekan. "Indeks dollar yang naik kemungkinan juga menekan harga minyak," kata Phillip Streible, senior market strategist RJO Futures kepada Reuters.

Analis Barclays Researc mengatakan, defisit suplai minyak dalam beberapa bulan lalu mengecil karena surplus kenaikan produksi minyak AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×