kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.700.000   20.000   0,75%
  • USD/IDR 17.890   8,00   0,04%
  • IDX 6.302   -72,08   -1,13%
  • KOMPAS100 823   -12,50   -1,50%
  • LQ45 627   -6,68   -1,05%
  • ISSI 217   -3,15   -1,43%
  • IDX30 351   -3,41   -0,96%
  • IDXHIDIV20 427   -2,06   -0,48%
  • IDX80 94   -1,35   -1,41%
  • IDXV30 117   -1,05   -0,89%
  • IDXQ30 111   -0,62   -0,56%

Harga Minyak Turun 2%, Dibayangi Prospek Permintaan Global yang Melemah


Jumat, 14 Agustus 2026 / 05:08 WIB
Harga Minyak Turun 2%, Dibayangi Prospek Permintaan Global yang Melemah
ILUSTRASI. Harga Minyak Mentah AS Di Bawah Nol, Pembeli Tidak Bayar Malah Ditawari Uang (Dok/DW.com)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak mentah turun lebih dari 2% pada perdagangan Kamis (13/8/2026), menghentikan reli selama hampir sepekan.

Pasar tertekan oleh prospek permintaan global yang melemah dan lonjakan tajam persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS).

Harga minyak sempat anjlok lebih dari 3,5% dalam perdagangan intraday sebelum memangkas sebagian kerugian setelah muncul laporan serangan kelompok Houthi terhadap kilang Saudi Aramco di Arab Saudi.

Risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah kembali menjadi perhatian pasar.

Baca Juga: Harga Minyak Turun, Dipicu Lemahnya Prospek Permintaan dan Kenaikan Stok AS

Harga Brent ditutup turun US$ 1,91 atau 2,15% menjadi US$ 87,07 per barel. Penurunan ini mengakhiri kenaikan selama enam sesi berturut-turut.

Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 2,02 atau 2,4% menjadi US$ 81,25 per barel setelah mencatat kenaikan selama lima sesi.

Tekanan utama datang dari data persediaan minyak AS. Administrasi Informasi Energi AS (EIA) melaporkan stok minyak mentah komersial naik 17,4 juta barel menjadi 424,4 juta barel pada pekan yang berakhir 7 Agustus.

Kenaikan tersebut merupakan yang terbesar sejak Januari 2023 dan membawa persediaan ke level tertinggi sejak 5 Juni.

Lonjakan stok terjadi ketika ekspor minyak mentah AS menurun, sehingga memperkuat kekhawatiran bahwa permintaan minyak tidak sekuat perkiraan sebelumnya.

Baca Juga: Harga Minyak Turun Pasca Trump Isyaratkan Kemungkinan Kesepakatan Damai dengan Iran

Prospek permintaan global juga semakin suram setelah Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2026 menjadi 580.000 barel per hari.

Badan Energi Internasional (IEA) bahkan memperkirakan konsumsi minyak tahun ini menyusut 1,6 juta barel per hari, lebih dalam dibandingkan proyeksi penurunan 1 juta barel per hari pada bulan sebelumnya.

Menurut IEA, harga yang lebih tinggi serta pembatasan pasokan akibat perang AS-Israel dengan Iran menekan konsumsi minyak.

## Risiko Gangguan Pasokan Masih Membayangi

Meski sentimen permintaan menekan harga, risiko gangguan pasokan masih menjadi penahan penurunan minyak. Laporan kantor berita Saba yang dikelola Houthi menyebut kelompok tersebut menyerang kilang Aramco di Jazan, Arab Saudi, dengan dua drone pada Kamis.

Serangan tersebut mendorong harga produk diesel ke level tertinggi sepanjang masa. Berdasarkan situs Saudi Aramco, kilang Jazan memiliki kapasitas produksi 250.000 barel diesel ultra-rendah sulfur per hari.

Baca Juga: Harga Minyak Turun 1%, Investor Fokus pada Selat Hormuz Usai Perundingan Perdamaian

Seorang sumber militer Houthi mengatakan serangan itu merupakan respons atas apa yang disebut kelompok tersebut sebagai pelanggaran wilayah udara dan kedaulatan Yaman oleh Arab Saudi. Pemerintah Arab Saudi belum memberikan komentar atas laporan tersebut.

Selain itu, ketegangan terkait Selat Hormuz turut menjaga risiko pasokan minyak global. AS dan Iran mengeluarkan klaim yang berlawanan mengenai kendali atas jalur pelayaran strategis tersebut.

Sekitar 20% pasokan minyak global sebelumnya melintasi Selat Hormuz sebelum perang Iran dimulai. Seorang pejabat senior unit paramiliter Basij Iran mengatakan selat tersebut berada di bawah kendali dan pengelolaan Iran.

Pernyataan itu muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan AS memiliki kendali penuh atas jalur tersebut.

Pergerakan kapal melalui Selat Hormuz juga menunjukkan gangguan yang cukup besar. Data pelayaran menunjukkan jumlah kapal yang melintas, tidak termasuk kapal kontainer, turun menjadi lima pada Rabu, terendah dalam tiga pekan.

Sebelum perang, sekitar 125-140 kapal melintasi jalur tersebut setiap hari.

"Berita yang saling bertentangan terus membentuk narasi mengenai siapa yang mengendalikan Selat Hormuz dan berapa banyak kapal yang dapat melintas," kata Kepala Ekonom Matador Economics Tim Snyder.

Baca Juga: Harga Minyak Turun ke Level Terendah Sejak Perang Iran Usai Kesepakatan Damai Diteken

Tekanan pasokan juga datang dari Rusia. Ekspor produk minyak Rusia melalui laut turun tajam pada Juli setelah serangan drone Ukraina memicu perawatan tidak terencana di sejumlah kilang utama.

Di Kota Orsk, sebuah kilang minyak yang terkena serangan drone Ukraina dua hari sebelumnya terpaksa menghentikan operasional. Gubernur wilayah setempat mengatakan perbaikan fasilitas tersebut dapat memakan waktu hingga enam bulan.

Dengan demikian, pasar minyak kini menghadapi dua kekuatan yang berlawanan: prospek permintaan yang memburuk dan kenaikan stok AS menekan harga, sementara konflik di Timur Tengah dan gangguan produksi Rusia membatasi ruang penurunan lebih dalam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×