kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.613.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 18.107   72,00   0,40%
  • IDX 6.183   -2,63   -0,04%
  • KOMPAS100 808   1,43   0,18%
  • LQ45 614   1,74   0,28%
  • ISSI 214   -0,13   -0,06%
  • IDX30 346   0,71   0,21%
  • IDXHIDIV20 428   0,49   0,12%
  • IDX80 92   0,28   0,30%
  • IDXV30 117   0,42   0,36%
  • IDXQ30 111   0,29   0,26%

Harga Minyak Naik, Prospek Saham Buana Lintas (BULL) Kian Menarik di Paruh II-2026


Selasa, 28 Juli 2026 / 11:33 WIB
Harga Minyak Naik, Prospek Saham Buana Lintas (BULL) Kian Menarik di Paruh II-2026
ILUSTRASI. PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) (Dok/BULL)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memasuki paruh kedua tahun 2026, prospek PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) dinilai semakin menarik. Selain diperkirakan membukukan kinerja keuangan yang lebih kuat pada kuartal II-2026, emiten pelayaran minyak dan gas ini juga mendapat dorongan sentimen dari kenaikan harga minyak dunia serta spekulasi aksi korporasi yang melibatkan perusahaan pelayaran LNG asal Korea Selatan.

Analis UOB Kay Hian, Willinoy Sitorus dalam riset 28 Juli 2026 mempertahankan, rekomendasi buy untuk saham BULL dengan target harga Rp 750 per saham. Valuasi tersebut didasarkan pada 7 kali EV/EBITDA 2026, sejalan dengan perusahaan pelayaran sejenis di tingkat regional maupun global.

Willinoy memperkirakan laporan keuangan audit kuartal II-2026 yang akan dirilis pada Agustus mendatang akan menunjukkan peningkatan laba bersih secara kuartalan yang signifikan.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 18.095 per Dolar AS di Tengah Hari Ini (28/7), Terburuk di Asia

"Kami memperkirakan hasil audit kuartal II tahun 2026 akan menunjukkan kinerja yang kuat secara kuartalan. Sentimen positif juga didukung spekulasi aksi korporasi yang masih berlangsung serta kenaikan harga minyak," ujar Willinoy dalam riset.

Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak mentah Brent yang sempat menyentuh level US$ 100 per barel sebelum terkoreksi ke kisaran US$ 93 per barel turut mengangkat tarif angkut kapal tanker. Salah satunya tercermin dari tarif kapal Aframax yang pulih menjadi sekitar US$ 77.000 per hari, meski masih di bawah puncaknya pada Maret yang menembus US$ 100.000 per hari.

Menurut Willinoy, kondisi tersebut sangat menguntungkan BULL karena lebih dari 90% armadanya beroperasi di pasar internasional dengan kontrak spot jangka pendek, sehingga perusahaan dapat lebih cepat menikmati kenaikan tarif pengangkutan.

Ia menambahkan, sekalipun tensi geopolitik mereda, tarif angkut diperkirakan tetap bertahan tinggi. Pasalnya, konflik global telah mengubah fokus negara-negara importir energi dari sekadar efisiensi biaya menjadi keamanan pasokan energi, sehingga jarak pengiriman minyak diperkirakan tetap lebih panjang dalam jangka panjang.

Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada kabar bahwa IMM Private Equity dan IMM Investment Corp dikabarkan hampir menyelesaikan penjualan Hyundai LNG Shipping kepada Grup Sinar Mas setelah melalui proses peninjauan terkait keamanan nasional Korea Selatan.

Willinoy melihat adanya kemungkinan keterkaitan dengan BULL mengingat perusahaan memiliki hubungan pembiayaan jangka panjang dengan Sinar Mas dan kelompok tersebut juga memiliki kepemilikan saham di BULL melalui beberapa entitas investasi.

Berdasarkan data armada Hyundai LNG Shipping, kapasitas angkut perusahaan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 2,4 kali lebih besar dibandingkan armada BULL pada akhir 2025. Dengan estimasi valuasi sekitar US$ 2 miliar, Willinoy menilai kemampuan neraca BULL saja kemungkinan belum cukup untuk mendanai transaksi sebesar itu.

Baca Juga: Ini Faktor Pendorong Kinerja Unilever (UNVR) Moncer di Semester I-2026

"Dalam pandangan kami, aksi korporasi sangat mungkin terjadi, meskipun hingga saat ini belum ada skema resmi yang diumumkan. Ini merupakan inferensi kami dan bukan informasi yang telah dikonfirmasi," kata Willinoy.

Menurut dia, apabila terdapat sinergi dengan bisnis LNG, struktur pendapatan BULL akan menjadi lebih seimbang karena kontrak pengangkutan LNG umumnya bersifat jangka panjang dan dapat melengkapi pendapatan dari bisnis tanker spot.

Prospek industri juga dinilai tetap positif. UOB Kay Hian mencatat bahwa pasca gangguan perdagangan minyak global akibat konflik Amerika Serikat-Iran, persediaan minyak negara-negara OECD diperkirakan hanya setara sekitar 50 hari konsumsi pada akhir 2026, level terendah sejak pencatatan dimulai pada 2003. Proses pengisian kembali cadangan minyak diperkirakan berlangsung hingga 2028 sehingga akan meningkatkan permintaan kapal tanker.

Selain itu, sanksi terhadap Iran, Rusia, dan Venezuela telah mengurangi sekitar 15,6% armada tanker minyak dunia dari pasar. Kondisi tersebut, ditambah perubahan pola distribusi minyak global, diperkirakan menciptakan ketidakseimbangan pasokan dan permintaan jasa angkutan laut yang menopang tarif tetap tinggi.

BULL sendiri tengah mempercepat ekspansi armada untuk menangkap peluang tersebut. Hingga kuartal II-2026 perusahaan memiliki 11 kapal, terdiri atas tiga Aframax, lima Handysize, dua LNG carrier, dan satu LPG carrier.

Manajemen menargetkan jumlah armada meningkat menjadi 21 kapal pada paruh kedua 2026 melalui penambahan enam kapal Handysize, dua LNG carrier, serta satu FPSO dan satu FSO. Sejalan dengan ekspansi itu, belanja modal (capex) diperkirakan melonjak dari sekitar US$29 juta pada 2025 menjadi US$72 juta pada 2026.

Meski ekspansi yang agresif membawa risiko eksekusi, Willinoy menilai fundamental perusahaan masih cukup kuat. Salah satunya ditopang oleh rasio utang terhadap ekuitas (D/E) yang turun menjadi 0,6 kali pada kuartal I-2026, jauh lebih rendah dibandingkan 3,7 kali pada 2021.

UOB Kay Hian belum mengubah proyeksi laba BULL untuk 2026–2027, namun melihat peluang kenaikan proyeksi setelah laporan keuangan kuartal II dirilis. Berdasarkan riset, UOB memperkirakan laba bersih BULL akan mencapai US$ 82 juta di tahun 2026 dan 2027. 

Saat ini, proyeksi dasar UOB masih menggunakan asumsi penambahan tujuh kapal baru tahun ini, lebih rendah dibandingkan panduan manajemen yang mencapai sekitar 11 kapal.

Baca Juga: Ekspansi FTTH, Anak Usaha WIFI Terbitkan Samurai Bond Senilai 21,4 Juta Yen

Adapun sejumlah katalis yang dinilai dapat mendorong harga saham BULL ke depan meliputi kinerja kuat kuartal II-2026, penyelesaian pengiriman armada baru sesuai jadwal sepanjang paruh kedua tahun ini, serta kejelasan terkait potensi aksi korporasi yang saat ini masih menjadi spekulasi pasar.

Saham BULL hingga pukul 11.07 WIB pada Selasa (28/7/2026), berada di level Rp 422 per saham, naik 1,44% dari hari sebelumnya. Sedangkan dalam sebulan harga saham BULL telah naik 21,26%. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×