Reporter: Vivit Dewi | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar minyak mentah kembali menghadapi tekanan dari meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah. Aktivitas serangan terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz mendorong kenaikan harga minyak, meski pemulihan arus pasokan dan rencana pelepasan cadangan darurat sejumlah negara menjadi faktor penahan laju penguatan.
Mengutip Trading Economics pada Kamis (8/10/2026) pukul 18.40 WIB, harga West Texas Intermediate (WTI) berada di US$ 92,62 per barel, naik 4,94% secara harian. Namun, secara mingguan harga WTI masih terkoreksi 0,33%.
Sementara itu, harga minyak Brent menguat 4,72% secara harian menjadi US$ 104,88 per barel. Dalam sepekan, harga Brent tercatat naik 2,55%.
Penguatan harga minyak terjadi seiring kembali meningkatnya aktivitas serangan terhadap kapal di Selat Hormuz.
Kondisi tersebut turut meningkatkan biaya pengangkutan minyak dari kawasan Teluk Persia menuju China yang telah melonjak hingga sekitar US$ 1,3 juta per hari. Kenaikan biaya tersebut terjadi seiring semakin sedikitnya pemilik kapal yang bersedia melintasi jalur strategis tersebut.
Baca Juga: Permintaan Batubara India Naik, Emiten Mana yang Berpotensi Kecipratan Cuan?
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, prospek harga minyak mentah masih bullish, meski pergerakannya diperkirakan tetap volatil.
"Prospek minyak dan batubara masih cenderung bullish, namun volatilitasnya juga tinggi. Untuk minyak mentah, sentimen terkuat saat ini adalah risiko gangguan pasokan akibat konflik Timur Tengah," kata Lukman kepada Kontan, Kamis (8/10/2026).
Meski risiko gangguan pasokan meningkat, kondisi pasar minyak secara fisik belum sepenuhnya mengalami pengetatan. Arus minyak yang melewati Selat Hormuz telah kembali meningkat dan diperkirakan mencapai sekitar 80% dari level sebelum konflik.
Kondisi tersebut menunjukkan sebagian besar pasokan minyak masih dapat bergerak melalui jalur perdagangan penting tersebut, meskipun risiko keamanan pelayaran mengalami peningkatan.
Di sisi lain, sejumlah negara konsumen telah menyiapkan pelepasan jutaan barel dari cadangan darurat guna membantu menjaga kecukupan pasokan di pasar global. Kebijakan tersebut berpotensi meredam tekanan harga apabila gangguan pasokan tidak berkembang menjadi lebih luas.
Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menyebut risiko geopolitik kini kembali menjadi perhatian utama pasar minyak. Perkembangan terbaru terkait konflik Amerika Serikat dan Iran dinilai kembali meningkatkan premi risiko geopolitik yang sebelumnya sempat mereda.
Baca Juga: Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 (8 Oktober 2026), CUAN dan AMMN Anjlok
"Perkembangan terbaru di mana pemerintahan Trump membatalkan prospek kesepakatan damai dan mengarahkan Pentagon/CENTCOM untuk menyiapkan serangan terhadap infrastruktur energi serta situs nuklir Iran secara drastis mengubah peta fundamental pasar energi global," kata Wahyu.
Menurut Wahyu, ancaman terhadap infrastruktur energi Iran menjadi salah satu risiko terbesar bagi pasokan minyak dunia. Iran merupakan salah satu produsen dan eksportir minyak utama sehingga gangguan terhadap fasilitas hulu, pengolahan, maupun terminal ekspor dapat mengurangi volume minyak yang tersedia di pasar global.
Risiko tersebut berpotensi semakin besar apabila eskalasi konflik kembali mengganggu arus perdagangan minyak. Dengan biaya pengangkutan yang telah melonjak tajam, gangguan berkepanjangan dapat meningkatkan premi risiko sekaligus membuat kondisi pasar minyak semakin ketat.
Untuk akhir 2026, Wahyu memproyeksikan harga WTI berada di sekitar US$ 90 per barel dan Brent US$ 102 per barel.
Sementara itu, Lukman memperkirakan harga WTI berada di kisaran US$ 90–100 per barel dan Brent US$ 100–110 per barel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














