kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 17.911   -17,00   -0,09%
  • IDX 6.193   74,07   1,21%
  • KOMPAS100 796   7,84   0,99%
  • LQ45 608   4,93   0,82%
  • ISSI 217   4,59   2,15%
  • IDX30 337   1,37   0,41%
  • IDXHIDIV20 431   1,76   0,41%
  • IDX80 91   0,94   1,05%
  • IDXV30 118   1,35   1,16%
  • IDXQ30 110   0,20   0,18%

Harga Minyak Stabil, Pasokan Timur Tengah Naik di Tengah Risiko Konflik


Rabu, 07 Oktober 2026 / 05:14 WIB
Harga Minyak Stabil, Pasokan Timur Tengah Naik di Tengah Risiko Konflik
ILUSTRASI. Harga Minyak Mentah Dunia (REUTERS/Eli Hartman)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak dunia bergerak stabil pada perdagangan Selasa (6/10/2026), setelah sempat tertekan.

Pasar menimbang meningkatnya ekspor minyak dari Timur Tengah dan rencana negara-negara G7 melepas cadangan darurat, dengan risiko gangguan pasokan akibat konflik di kawasan.

Harga minyak Brent untuk pengiriman berikutnya naik 26 sen atau 0,3% menjadi US$100,58 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) naik tipis 1 sen menjadi US$89,44 per barel.

Baca Juga: Harga Minyak Stabil Seiring Naiknya Ekspor Timur Tengah & Rencana G7 Melepas Cadangan

Chief Executive Officer Vitol menyebut sekitar 12 juta barel per hari (bph) minyak mentah dan 2 juta bph produk olahan telah dikirim melalui kapal tanker dari Timur Tengah dalam 7-10 hari terakhir.

Arus pasokan tersebut dinilai cukup untuk meredam tekanan kenaikan harga. "Volume pasokan yang keluar dari kawasan menjadi penahan kenaikan harga," ujar CEO Vitol.

Menteri Energi Arab Saudi Prince Abdulaziz bin Salman mengatakan aliran minyak melalui East-West Pipeline menuju pusat ekspor Yanbu di Laut Merah telah mencapai 5,8 juta barel hingga Selasa pagi.

Namun, potensi gangguan pasokan masih membatasi penurunan harga. Dua bandara Arab Saudi di Jazan dan Najran menjadi sasaran serangan pada Senin malam. Otoritas penerbangan Saudi menyebut tiga orang terluka dan kerusakan yang terjadi terbatas.

Baca Juga: Harga Minyak Dibayangi Konflik Timur Tengah, Oversupply Mengintai Pasar

Ketegangan meningkat ketika pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi melancarkan ofensif terhadap kelompok Houthi yang didukung Iran. Arab Saudi juga meningkatkan serangan udara untuk mendukung operasi tersebut.

Risiko pasokan juga datang dari perang Rusia-Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan intelijen terbaru menunjukkan Rusia tengah menyiapkan serangan besar.

Rusia merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Arab Saudi pada 2025. Setiap perkembangan yang membuka peluang peningkatan ekspor minyak Rusia berpotensi menambah pasokan global dan menekan harga.

Di AS, potensi gangguan produksi juga menjadi perhatian. National Hurricane Center memperkirakan terdapat peluang 100% terbentuknya siklon di Teluk Meksiko dalam tujuh hari ke depan.

Baca Juga: Harga Emas Naik Tipis di Tengah Meredanya Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Badai ini berpotensi mengganggu produksi minyak dan gas serta merusak infrastruktur energi.

G7 Siapkan Pelepasan Cadangan

Di sisi lain, pasar masih mencermati rencana pelepasan cadangan minyak dan diesel oleh negara-negara G7. Pada Jumat (2/10/2026), G7 sepakat melepas sekitar 100 juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan darurat untuk meredam tekanan pasokan dan harga.

Badan Energi Internasional (IEA) dijadwalkan membahas mekanisme pelepasan cadangan tersebut pekan depan. Pasar masih menunggu kepastian mengenai volume yang akan dilepas oleh Eropa dan AS.

Harga diesel melonjak dan menjadi perhatian karena bahan bakar tersebut menopang sektor transportasi, pertanian dan industri. Gangguan akibat perang di Iran dan Ukraina turut memangkas ekspor serta merusak kapasitas kilang.

Baca Juga: Harga Minyak Stabil pada Selasa (25/8), Pasar Cermati Dampak Sanksi Baru AS ke Iran

Sementara itu, Energy Information Administration (EIA) memperkirakan produksi minyak dunia turun menjadi 101,1 juta bph pada 2026 dari rekor 106,3 juta bph pada 2025. Permintaan global juga diproyeksikan turun menjadi 102,4 juta bph dari 104,4 juta bph.

Namun, pada 2027 produksi dan konsumsi minyak dunia diperkirakan kembali mencatat rekor, masing-masing mencapai 109,6 juta bph dan 104,6 juta bph.

Di AS, perhatian pasar juga tertuju pada data persediaan minyak. Analis memperkirakan stok minyak mentah AS bertambah 1,7 juta barel pada pekan yang berakhir 2 Oktober.

Jika sesuai perkiraan, kenaikan tersebut akan menjadi pertumbuhan stok selama tiga pekan berturut-turut untuk pertama kalinya sejak Agustus. Kenaikan itu juga sejalan dengan rata-rata pertumbuhan stok selama lima tahun terakhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×