kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.592.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.707   26,00   0,15%
  • IDX 6.461   -73,54   -1,13%
  • KOMPAS100 856   -10,81   -1,25%
  • LQ45 651   -8,28   -1,26%
  • ISSI 223   -1,77   -0,79%
  • IDX30 361   -4,82   -1,31%
  • IDXHIDIV20 451   -6,99   -1,53%
  • IDX80 98   -1,17   -1,18%
  • IDXV30 124   -1,89   -1,50%
  • IDXQ30 117   -1,35   -1,15%

Harga Minyak Dibayangi Konflik Timur Tengah, Oversupply Mengintai Pasar


Selasa, 15 September 2026 / 21:21 WIB
Harga Minyak Dibayangi Konflik Timur Tengah, Oversupply Mengintai Pasar
ILUSTRASI. Harga minyak mentah masih mendapat dorongan dari meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran (REUTERS/Todd Korol)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah masih mendapat dorongan dari meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi energi global. Meski demikian, tekanan harga berpotensi berbalik apabila konflik mereda dan pasokan minyak kembali normal.

Berdasarkan data Bloomberg, Selasa (15/9/2026) pukul 20.14 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di US$101,68 per barel, naik 0,29% secara harian.

Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, gangguan distribusi melalui Selat Hormuz dan Laut Merah menjadi salah satu faktor yang menjaga harga minyak tetap tinggi.

"Kita lihat dari Hormuz, yang biasanya kapal yang lewat itu tujuh, sekarang tinggal lima. Kemudian di Laut Merah juga ketegangannya semakin kuat," ujar Ibrahim kepada Kontan, Selasa (15/9/2026).

Baca Juga: Harga Emas Masih Berpotensi Naik Meski Yield Treasury Tembus 5%

Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap harga energi sekaligus mendorong inflasi. Apabila inflasi kembali meningkat, ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) juga berpotensi mengalami perubahan.

Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kemungkinan The Fed mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama. Situasi tersebut juga berpotensi memberikan tekanan terhadap harga emas karena investor memiliki pilihan aset lain yang menawarkan imbal hasil.

Meski demikian, prospek harga minyak dapat berubah apabila konflik di Timur Tengah berakhir. Berakhirnya gangguan distribusi dan kembali normalnya pasokan justru dapat meningkatkan risiko terjadinya kelebihan pasokan di pasar global.

Baca Juga: Dual Listing Emiten RI Berpotensi Berlanjut, Ini Saham yang Menarik Dicermati

"Kalau sudah terjadi perdamaian, minyak ini bisa turun lebih cepat karena terjadi oversupply," katanya.

Ibrahim memproyeksikan harga minyak mentah dapat turun ke kisaran US$60-US$65 per barel pada 2027 apabila konflik mereda dan pasokan minyak kembali melimpah.

Dengan demikian, pergerakan harga minyak dalam jangka pendek masih sangat dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah, khususnya kondisi distribusi melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz dan Laut Merah. Sementara itu, normalisasi pasokan berpotensi menjadi katalis penurunan harga minyak pada 2027.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×