kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45928,35   -6,99   -0.75%
  • EMAS1.321.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga Minyak Dunia Tergelincir Selasa (26/9), Brent ke US$92,42 dan WTI ke US$88,81


Selasa, 26 September 2023 / 14:42 WIB
Harga Minyak Dunia Tergelincir Selasa (26/9), Brent ke US$92,42 dan WTI ke US$88,81
ILUSTRASI. Harga minyak dunia


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak turun pada hari Selasa (26/9). Di tengah kekhawatiran permintaan bahan bakar akan dibatasi oleh bank-bank sentral utama yang mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama, bahkan dengan suplai yang diperkirakan akan ketat.

Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent turun 87 sen menjadi US$92,42 per barel pada pukul 0630 GMT. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan 87 sen lebih rendah pada US$88,81 per barel.

"Kekhawatiran akan resesi ekonomi dapat kembali mendominasi pergerakan pasar minyak karena lonjakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) setelah sikap hawkish The Fed minggu lalu," kata Tina Teng, analis pasar CMC Markets di Auckland mengutip Reuters.

Baca Juga: Kenaikan Harga Minyak Dunia Pengaruhi Bisnis Logistik Kapal Migas

Para pembuat kebijakan ekonomi utama dunia, The Fed dan Bank Sentral Eropa, dalam beberapa hari terakhir telah menegaskan kembali komitmen mereka untuk memerangi inflasi.

Ini menandakan bahwa kebijakan yang ketat mungkin akan bertahan lebih lama dari yang diantisipasi sebelumnya. Suku bunga yang lebih tinggi memperlambat pertumbuhan ekonomi, mengekang permintaan minyak.

Secara terpisah pada hari Senin (25/9), lembaga pemeringkat Moody's mengatakan bahwa penutupan pemerintah AS akan membahayakan kredit negara tersebut.

Hal ini sebuah peringatan yang muncul satu bulan setelah Fitch menurunkan peringkat AS sebanyak satu peringkat akibat krisis plafon utang.

Baca Juga: Harga Minyak Rebound Pada Perdagangan Selasa (26/9) Pagi

Kesengsaraan properti di China juga telah membebani sentimen, tambah Teng dari CMC, dengan pengumuman China Evergrande pada Senin malam bahwa mereka telah gagal membayar kupon obligasi.

Berdampak pada pesimisme investor baru di sektor ini, yang telah lama menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi utama.

Sementara suplai minyak tetap ketat karena Rusia dan Arab Saudi telah memperpanjang pemangkasan produksi hingga akhir tahun.

Moskow pada hari Senin (25/9) melonggarkan larangan sementara terhadap ekspor bensin dan diesel, yang dikeluarkan secara terpisah untuk menstabilkan pasar domestik.

Dengan liburan Golden Week di China yang dimulai pada hari Minggu, harga minyak dapat memperoleh dukungan dari peningkatan perjalanan dan permintaan produk minyak dari konsumen minyak terbesar kedua di dunia ini.

Baca Juga: Kenaikan Harga Minyak Mentah akan Berefek ke Aktivitas Hulu-Hilir Minyak di Indonesia

Harga minyak telah naik sekitar 30% sejak pertengahan tahun ini yang sebagian besar didorong oleh pasokan yang lebih ketat.

Menghapus 0,5 poin persentase dari pertumbuhan PDB global pada paruh kedua tahun ini, menurut JP Morgan.

Namun guncangan ini "tidak cukup besar untuk mengancam ekspansi dengan sendirinya", JP Morgan menambahkan dalam sebuah catatan.

"Kami memperkirakan harga minyak akan mencapai US$94 per barel sampai periode 4Q23 yang merupakan kecuraman maksimum kurva yang kami lihat sebelum OPEC kemungkinan akan mengurangi batasan suplai," ujar Baden Moore, kepala strategi karbon dan komoditas di National Australia Bank.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×