Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak stabil di dekat level tertinggi lima pekan pada Selasa (1/4), seiring ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memberlakukan tarif sekunder pada minyak mentah Rusia dan menyerang Iran mengimbangi kekhawatiran tentang dampak perang dagang terhadap pertumbuhan global.
Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent naik 3 sen, atau 0,04%, menjadi US$74,80 per barel pada 13:52 GMT, setelah sebelumnya menembus US$75 per barel.
Sedangkan, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 4 sen, atau 0,06%, menjadi US$71,52.
Baca Juga: Minyak Melemah di Pagi Ini (31/3), Trump Peringatkan Kenakan Tarif ke Pembeli Rusia
Kontrak tersebut ditutup pada level tertinggi lima pekan sehari sebelumnya.
"Meski sanksi yang lebih ketat terhadap Iran, Venezuela, dan Rusia dapat membatasi pasokan global, tarif AS kemungkinan akan melemahkan permintaan energi global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya akan memengaruhi permintaan minyak dalam jangka panjang," kata analis SEB Ole Hvalbye.
"Akibatnya, bertaruh pada arah pasar yang jelas telah – dan masih – menjadi tantangan," tambahnya.
Pada Minggu, Trump mengatakan kepada NBC News bahwa ia sangat marah dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan akan memberlakukan tarif sekunder sebesar 25% hingga 50% pada pembeli minyak Rusia jika Moskow mencoba menghalangi upaya mengakhiri perang di Ukraina.
Tarif terhadap pembeli minyak Rusia – negara pengekspor minyak terbesar kedua di dunia – akan mengganggu pasokan global dan merugikan pelanggan terbesarnya, yaitu China dan India.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok Terseret Kekhawatiran Resesi, Tetapi Catat Kenaikan Minggu Ketiga
Trump juga mengancam Iran dengan tarif serupa serta serangan militer jika Teheran tidak mencapai kesepakatan dengan Gedung Putih terkait program nuklirnya.
Jajak pendapat Reuters terhadap 49 ekonom dan analis pada Maret memperkirakan harga minyak akan tetap tertekan tahun ini akibat tarif AS dan perlambatan ekonomi di India serta China, sementara OPEC+ meningkatkan pasokan.
Pertumbuhan global yang lebih lambat dapat menekan permintaan bahan bakar, yang mungkin menyeimbangkan setiap pengurangan pasokan akibat ancaman Trump.
Harga minyak mendapat sedikit dukungan setelah Rusia memerintahkan Kazakhstan untuk menutup dua dari tiga pelabuhan ekspor minyak utamanya, di tengah ketegangan antara Kazakhstan dan OPEC+ – organisasi negara-negara pengekspor minyak yang dipimpin Rusia – terkait kelebihan produksi.
Kazakhstan harus mulai mengurangi produksi minyak akibat keputusan ini, menurut dua sumber industri kepada Reuters.
Sumber lain menyebutkan bahwa perbaikan di terminal Konsorsium Pipa Kaspia akan memakan waktu lebih dari satu bulan.
Pasar kini menantikan pertemuan komite menteri OPEC+ pada 5 April untuk meninjau kebijakan produksi.
Baca Juga: Harga Minyak Terkoreksi Tipis, Investor Bersiap Hadapi Tarif Dagang Trump
Sumber Reuters menyebutkan bahwa OPEC+ berencana melanjutkan peningkatan produksi sebesar 135.000 barel per hari pada Mei, setelah sebelumnya menyepakati kenaikan serupa untuk April.
Sementara itu, lima analis yang disurvei Reuters memperkirakan rata-rata bahwa persediaan minyak mentah AS turun sekitar 2,1 juta barel dalam pekan yang berakhir pada 28 Maret.
Selanjutnya: Trump Aides Weigh 20% Tariffs as Nervous World Awaits Trade War
Menarik Dibaca: KAI Layani 2 Juta Penumpang Selama Angkutan Lebaran
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News