kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.537.000   -4.000   -0,16%
  • USD/IDR 18.161   -13,00   -0,07%
  • IDX 4.861   -43,35   -0,88%
  • KOMPAS100 623   -5,97   -0,95%
  • LQ45 496   -1,10   -0,22%
  • ISSI 161   -2,65   -1,62%
  • IDX30 280   0,03   0,01%
  • IDXHIDIV20 378   0,27   0,07%
  • IDX80 72   -0,63   -0,86%
  • IDXV30 105   -0,64   -0,61%
  • IDXQ30 94   0,30   0,32%

Harga Minyak Dunia Berpotensi Melemah, Negosiasi AS-Iran Jadi Penentu


Rabu, 04 November 2026 / 11:23 WIB
Harga Minyak Dunia Berpotensi Melemah, Negosiasi AS-Iran Jadi Penentu
ILUSTRASI. Harga minyak mentah masih dibayangi tekanan bearish di tengah ketidakpastian perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran. ? (REUTERS/Christian Hartmann)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) masih dibayangi tekanan bearish di tengah ketidakpastian perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

Harapan meredanya ketegangan melalui jalur diplomasi berpotensi menekan harga minyak, meski risiko eskalasi konflik masih dapat memicu gejolak pasar.

Melansir Trading Economics pada Rabu (4/11/2026) pukul 10.58 WIB, harga minyak WTI bertengger di level US$ 95,7 per barel atau melemah 0,44% secara harian dan 7% sepekan terakhir.

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, secara teknikal tren pelemahan harga minyak WTI masih cukup dominan pada grafik harian (daily). Hal ini tercermin dari terbentuknya pola double top dan indikasi bearish divergence yang menunjukkan momentum kenaikan harga mulai melemah.

Baca Juga: Harga Emas Terkoreksi 3% Dalam Sepekan, Analis Melihat Peluang Rebound

Pola double top menggambarkan kondisi ketika harga gagal menembus level puncak yang sama sebanyak dua kali. Sementara itu, bearish divergence mengindikasikan melemahnya momentum kenaikan berdasarkan perbedaan antara pergerakan harga dan indikator teknikal.

Dengan kondisi tersebut, WTI berpotensi melanjutkan koreksi menuju area support US$ 89,97-US$ 86,82 per barel dalam jangka pendek.

"Zona tersebut menjadi area teknikal yang perlu diperhatikan untuk melihat apakah tekanan jual masih berlanjut atau mulai tertahan. Selama tren pelemahan belum menunjukkan tanda pembalikan yang kuat, peluang koreksi lebih dalam tetap perlu diwaspadai," ujar Geraldo dalam risetnya, Rabu (4/11/2026).

Dari sisi fundamental, pergerakan harga minyak masih sensitif terhadap perkembangan hubungan AS dan Iran. Harapan tercapainya kesepakatan diplomatik antara kedua negara sebelumnya mendorong penurunan harga minyak karena meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Demokrat Kuasai DPR AS, Investor Waspadai Regulasi AI dan Risiko Fiskal

Jika negosiasi menghasilkan kesepakatan konkret, risiko gangguan distribusi minyak global berpotensi berkurang. Kondisi tersebut dapat menekan premi risiko geopolitik yang selama ini menopang harga minyak.

Namun, ketidakpastian masih membayangi proses diplomasi tersebut. Belum tercapainya kesepakatan membuat pasar tetap mewaspadai kemungkinan memburuknya hubungan kedua negara. Eskalasi konflik berpotensi kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah dan mendorong kenaikan harga.

Dengan demikian, pasar minyak menghadapi dua sentimen yang berlawanan. Prospek meredanya konflik AS-Iran berpotensi menekan harga, sedangkan risiko eskalasi geopolitik dapat kembali menjadi penopang harga minyak mentah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×