Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga komoditas minyak di pasar global kompak melemah dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan data Trading Economic pada Senin (22/6/2026) pukul 12.45 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak berjangka berada di level US$ 75,4 per barel atau melemah 2,5% harian dan 19,7% dalam sebulan.
Sejalan dengan itu, harga minyak Brent untuk kontrak pengiriman Agustus 2026 juga tercatat melemah 1,5% sehari dan 18,2% sebulan terakhir jadi US$ 79,2 per barel.
Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menjelaskan, pelemahan harga energi saat ini merupakan respons pasar terhadap kombinasi faktor fundamental yang kurang menggembirakan dan perubahan sentimen geopolitik global.
Baca Juga: Keputusan Final Klasifikasi MSCI Jadi Penentu Utama Kecepatan Pemulihan IHSG
Menurutnya, koreksi serentak pada minyak WTI dan Brent terutama dipicu oleh fenomena demand destruction atau penurunan konsumsi akibat harga yang sebelumnya terlalu tinggi.
"Dari sisi fundamental, tekanan terbesar datang dari permintaan. Impor minyak mentah China sebagai pengimpor terbesar dunia turun ke level terendah dalam delapan tahun terakhir, yakni sekitar 7,8 juta barel per hari pada Mei 2026," ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (19/6/2026).
Selain itu, pasar juga mulai mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya sempat menopang harga energi. Hal ini menyusul meredanya ketegangan jangka pendek antara Iran dan Israel.
Wahyu menilai optimisme Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran turut memengaruhi sentimen pasar. Bahkan, Trump disebut beberapa kali mendorong Israel untuk menahan eskalasi konflik demi membuka jalan bagi perdamaian dengan Iran.
Di sisi lain, perubahan ekspektasi terhadap permintaan energi global juga menjadi faktor penting yang menekan harga komoditas energi. Wahyu mengatakan, pasar saat ini lebih fokus pada pelemahan prospek konsumsi dibandingkan faktor spekulatif semata.
Baca Juga: Loyo, Rupiah Spot Melemah 0,13% ke rp 17.827 per Dolar AS pada Senin (22/6) Siang
Ia menyoroti keputusan Energy Information Administration (EIA) yang memangkas proyeksi permintaan minyak global tahun 2026. Langkah tersebut menjadi sinyal bahwa pertumbuhan konsumsi energi diperkirakan tidak sekuat perkiraan sebelumnya.
Tekanan tambahan juga datang dari penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan dolar membuat harga minyak yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi lebih mahal bagi negara-negara pengguna mata uang lain sehingga berpotensi menekan permintaan global.
Selain itu, ekspektasi suku bunga tinggi yang dipertahankan lebih lama oleh Federal Reserve atau The Fed turut membebani prospek pertumbuhan ekonomi dunia.
"Kebijakan moneter ketat untuk mengendalikan inflasi berpotensi memperlambat aktivitas ekonomi global. Jika pertumbuhan ekonomi melambat, konsumsi energi juga akan ikut tertekan," jelasnya.
Meski demikian, Wahyu menilai koreksi harga energi saat ini masih tergolong moderat. Pasalnya, pasar tetap dibayangi risiko gangguan pasokan yang berasal dari kawasan Timur Tengah.
"Risiko geopolitik masih menjadi price floor bagi harga energi. Jadi meskipun permintaan melemah, harga belum tentu jatuh terlalu dalam," katanya.
Baca Juga: IHSG Melemah 1,25% ke 6.099 di Sesi I Senin (22/6), BRPT, MBMA, DEWA Top Losers LQ45
Untuk akhir kuartal III 2026, Wahyu memproyeksikan harga minyak WTI bergerak dalam rentang US$ 70 - US$ 95 per barel.
Adapun harga Brent diperkirakan bergerak pada kisaran US$ 75 - US$ 100 per barel hingga akhir September 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













