kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45919,51   10,20   1.12%
  • EMAS1.350.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga Komoditas Turun, Simak Rekomendasi Saham Emiten Produsen Mineral Berikut


Senin, 22 Mei 2023 / 10:07 WIB
Harga Komoditas Turun, Simak Rekomendasi Saham Emiten Produsen Mineral Berikut
ILUSTRASI. Harga logam industri, yaitu nikel, alumunium, tembaga, dan timah berada dalam tren penurunan sejak pertengahan April 2023. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/tom.


Reporter: Nur Qolbi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga logam industri, yaitu nikel, alumunium, tembaga, dan timah berada dalam tren penurunan terutama sejak pertengahan April 2023. 

Hal ini membuat saham-saham produsen logam industri turut mencatatkan penurunan harga, seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR). 

Tak berselang lama, harga logam mulia seperti emas dan perak juga mencatatkan koreksi harga, tepatnya sejak awal Mei 2023. Kondisi ini kian menekan saham-saham pertambangan logam mulia, seperti ANTM dan MDKA

Meskipun begitu, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Desy Israhyanti melihat, harga logam mulia masih berpeluang naik. Katalis positifnya berasal dari perlambatan ekonomi yang lebih dalam seiring dengan potensi resesi AS serta krisis sejumlah perbankan sehingga emas menjadi safe haven. 

Baca Juga: Perjuangan Keras Emiten Mineral untuk Bertahan di Tengah Rontoknya Harga

Sementara itu, untuk logam industri, katalis positifnya berasal dari peningkatan permintaan serta kebijakan pemerintah terkait hilirisasi yang terus didorong. Terlebih lagi, saat ini, sejumlah smelter sudah dalam tahap pembangunan maupun finalisasi. 

Di sisi lain, yang menjadi perhatian adalah harga logam industri yang mengalami normalisasi dan pergerakannya juga cukup volatile. 

"Harga komoditas acuan global dipengaruhi kondisi makroekonomi global yang berpengaruh terhadap permintaan hingga harganya," tutur Desy saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (21/5).

Desy menilai, ANTM, INCO, dan MDKA cukup menarik. Ia mempertimbangkan posisinya di pasar yang cukup kuat, kinerja keuangan, dan prospeknya yang masih cukup baik.

Dalam riset tanggal 12 April 2023, Analis MNC Sekuritas Alih Ihsanario melihat, nikel bakal memainkan peran penting bagi ANTM pada tahun 2023. Pasalnya, ada dorongan dari kebijakan pemerintah mengenai insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk mobil listrik dan bus listrik tertentu mulai April-Desember 2023.

Kebijakan ini dapat menarik minat hilirisasi investasi dari produsen kendaraan listrik global seperti Tesla dan BYD. Hal ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperdalam keterlibatannya dalam value chain nikel dan memperoleh return lebih banyak.

Untuk tahun 2023, Alif melihat ANTM dapat mencatatkan tambahan produksi feronikel sebesar 4 ton dari pabrik baru Halmahera Timur yang akan mulai beroperasi pada semester 2 2023. 

Tambahan produksi ini memungkinan adanya peningkatan penjualan segmen ini sebesar 11,5% pada 2023.

Pada kuartal I-2023, volume penjualan feronikel ANTM lebih rendah 24,3% year on year (yoy) menjadi 4.287 ton. 

Rata-rata harga jual alias average selling price (ASP) segmen ini juga turun 14,3% yoy menjadi US$ 19.381 per ton, tetapi relatif datar dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. 

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham BUKA, MAPI, ITMG, WIIM, CPIN, SRTG untuk Hari Ini (22/5)

Kemudian, di segmen penjualan emas, Alif melihat momentum bullish harga emas potensial berlanjut. Prospek ekonomi yang suram sejauh ini menjadikan emas diburu sebagai safe haven. 

Sejalan dengan itu, meningkatnya ketertarikan pasar terhadap emas sinkron dengan upaya ANTM dalam memperluas segmen emas domestik dengan membuka cabang butik terbaru di Pekanbaru pada April 2023.

Pada kuartal I-2023, segmen bisnis emas ANTM mencatatkan kenaikan volume penjualan sebesar 9,9% yoy menjadi 232.000 ons troi. ANTM membukukan ASP yang solid yakni sebesar US$ 2.082 per ons troi.

Kemudian, berdasarkan riset tanggal 4 Mei 2023, Analis BRI Danareksa Sekuritas Hasan Barakwan mengatakan, pihaknya meningkatkan estimasi volume penjualan bijih nikel ANTM tahun ini. Pasalnya, realisasi penjualan bijih nikel ANTM pada kuartal I-2023 melebihi estimasi BRI Danareksa Sekuritas. 

Hasan memperkirakan, volume penjualan bijih nikel ANTM meningkat 16,4% menjadi 11 juta ton, dibanding target ANTM sebesar 9,45 juta ton. 

"BRI Danareksa Sekuritas percaya ANTM dapat mencapai target kami karena tahun lalu kinerja volume penjualannya terganggu oleh aktivitas lockdown China dan kami berasumsi bahwa aktivitas ekonomi China akan dilanjutkan sepenuhnya tahun ini," tutur Hasan. 

Hasan juga menaikkan perkiraan ASP bijih nikel, dari US$ 40 per ton menjadi US$ 50 per ton untuk tahun 2023. Peningkatan perkiraan ini meningkatkan proyeksi laba bersih ANTM di tahun 2023 sebesar 49% menjadi Rp 5,7 triliun, dari sebelumnya Rp 3,9 triliun. 

Pada kuartal I-2023, ANTM membukukan kenaikan laba bersih 13,5% yoy menjadi Rp 1,6 triliun, dari Rp 1,4 triliun pada kuartal I-2022. Realisasi tersebut setara 43% dari estimasi BRI Danareksa Sekuritas dan 42% perkiraan konsensus. 

Hal tersebut didukung oleh kenaikan pendapatan berkat kinerja yang kuat dari segmen bijih nikel. Volume penjualan segmen bijih nikel tumbuh signifikan sebesar 47,8% yoy menjadi 3,4 juta ton sejalan dengam produksinya naik 17% yoy menjadi 3,4 juta ton. 

Lalu terkait dengan tembaga, dalam riset tanggal 16 Mei 2023, Analis BRI Danareksa Sekuritas Hasan Barakwan mengatakan, MDKA belum lama ini menyelesaikan studi pra-kelayakan (PFS) proyek Tembaga Tujuh Bukit (TB Tembaga) yang telah lama ditunggu-tunggu. Ada beberapa poin dari hasil studi yang dilakukan. 

Pertama, sumber daya mineral TB Tembaga sebanyak 1,7 miliar ton dengan kadar 0,47% tembaga dan 0,50 g/t emas (8,1 juta ton tembaga dan 27.Moz emas). Sementara cadangan perdananya sebesar 289 juta ton dengan kadar 0,56% tembaga dan 0,65g/t emas.

Kedua, produksi kumulatif tambang selama 30 tahun sebesar 1,8 juta ton terdiri dari 4,1Moz tembaga dan emas. Kemungkinan cadangan TB Tembaga sebanyak 289 juta ton dan 114,7 juta ton sumber daya tereka. Ini dengan melalui delapan tahun produksi tambang gua sub-level alias sub level cave (SLC). Sementara sisanya melalui block cave (lift 1) produksi. 

Baca Juga: IHSG Berpotensi Menguat, Cek Rekomendasi Saham ANTM, EXCL, GJTL, TLKM Senin (22/5)

Ketiga, net present value (NPV) pasca pajak proyek sebesar US$ 3,0 miliar dengan 7% weighted average cost of capital (WACC) dan internal rate of return (IRR) sebesar 20%. NPV tidak termasuk nilai potensial dari sumber daya yang tersisa dapat dieksploitasi melalui lift masa depan 2 blok gua. 

Proyek TB Tembaga harapannya dapat dimonetisasi pada tahun 2026. Konsentrator tembaga-emas dan infrastruktur permukaan terkait akan dibangun secara bertahap. Pada tahap pertama, perusahaan berencana untuk mengembangkan konsentrator dengan kapasitas 4 juta tpa dengan harapan mulai beroperasi pada tahun 2026. 

Perusahaan kemudian akan meningkatkan kapasitas konsentrator hingga 24 juta tpa pada tahun 2034. 

"Kami mengharapkan konsentrator ini menggunakan cadangan SLC dari tahun 2026-2033 dan perusahaan harus melakukan tap cadangan BC dari tahun 2034 dan seterusnya," ucap Hasan.

Selanjutnya, dalam riset tanggal 5 Mei 2023, Analis Ciptadana Sekuritas Thomas Radityo memberikan komentar untuk ADMR yang memproduksi alumunium di samping batubara. 

Menurutnya, langkah ADMR yang sudah memulai aktivitas prakonstruksi smelter alumunium menjadi katalis positif bagi sahamnya. 

"Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan berpartisipasi aktif dalam industri hilir mineral di Indonesia dan memimpin transformasi bisnis untuk mendukung ekonomi hijau," ucap Thomas. 

MNC Sekuritas merekomendasikan buy ANTM dengan target harga Rp 2.400 per saham. Lalu, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan buy MDKA dengan target harga Rp 5.330. 
Kemudian, Ciptadana Sekuritas merekomendasikan buy INCO dan ADMR dengan target harga masing-masing Rp 8.000 dan Rp 1.800 per saham. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×