kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.613.000   23.000   0,89%
  • USD/IDR 17.924   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.242   -56,72   -0,90%
  • KOMPAS100 813   -5,85   -0,71%
  • LQ45 621   -2,15   -0,35%
  • ISSI 215   -3,31   -1,52%
  • IDX30 344   -1,09   -0,32%
  • IDXHIDIV20 429   0,02   0,00%
  • IDX80 93   -0,53   -0,57%
  • IDXV30 116   -0,90   -0,76%
  • IDXQ30 111   -0,10   -0,09%

Harga Gandum dan Gula Naik, Begini Dampaknya pada Saham ICBP, MYOR, SIDO, dan CMRY


Minggu, 27 September 2026 / 16:45 WIB
Harga Gandum dan Gula Naik, Begini Dampaknya pada Saham ICBP, MYOR, SIDO, dan CMRY
ILUSTRASI. PALESTINIAN-ISRAEL-CONFLICT-GAZA-AGRICULTURE (AFP/EYAD BABA)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga sejumlah komoditas bahan baku menjadi sentimen yang perlu dicermati emiten consumer staples pada kuartal ketiga 2026. Harga komoditas kembali meningkat ketika cadangan inventaris dengan harga lebih rendah mulai menipis.

Per awal September 2026, harga gandum tercatat naik 17,5% secara month on month (MoM), sedangkan harga gula dunia melonjak 19,8% MoM. Pelemahan nilai tukar rupiah turut menjadi tantangan karena berpotensi meningkatkan biaya bahan baku impor dan menekan konversi laba emiten.

Kondisi tersebut diperkirakan memberikan dampak berbeda terhadap emiten consumer staples seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), dan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY).

Baca Juga: Segera Eksekusi Rights Issue, IRSX Angkat Hana Hasanah Jadi Komut Baru

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, kenaikan harga gandum dan gula serta pelemahan rupiah berpotensi menekan margin emiten consumer staples.

"Kenaikan harga gandum dan gula serta pelemahan rupiah berpotensi menekan margin emiten consumer staples, terutama ICBP yang sensitif terhadap harga gandum dan MYOR terhadap gula. SIDO relatif lebih defensif, sedangkan CMRY lebih dipengaruhi harga bahan baku dairy," kata Azis kepada Kontan, Jumat (25/9/2026).

Menurut Azis, ICBP dan MYOR menjadi emiten yang perlu lebih diperhatikan dari sisi tekanan biaya bahan baku. Sementara SIDO relatif lebih defensif, sedangkan CMRY akan lebih banyak dipengaruhi pergerakan harga bahan baku produk dairy.

Dampak ke emiten

Pada ICBP, kenaikan harga gandum menjadi perhatian lantaran komoditas tersebut merupakan salah satu bahan baku penting dalam produk mi instan. Tekanan biaya juga dapat berasal dari minyak nabati dan kemasan.

Research Analyst MNC Sekuritas Catherine Florencia M. mengatakan, kuartal ketiga 2026 akan menjadi periode yang lebih menantang bagi ICBP karena manfaat dari persediaan lama dengan harga lebih rendah mulai berkurang.

"ICBP menjadi yang paling terekspos karena persediaan hanya mencakup sekitar tiga hingga enam bulan. Kenaikan harga gandum, minyak nabati, dan kemasan kemungkinan mulai tercermin dalam laporan laba rugi pada kuartal ketiga 2026," tulis Catherine dalam riset MNC Sekuritas, 9 September 2026.

Baca Juga: BEI Resmikan Batas Bawah Rp 1 Mulai Senin (28/9), Ini yang Perlu Investor Cermati

Selain tekanan bahan baku, pelemahan rupiah juga menjadi risiko bagi ICBP. Perseroan memiliki obligasi global sekitar US$ 2,8 miliar. Pada semester pertama 2026, beban keuangan ICBP meningkat 215,9% secara tahunan, sedangkan kerugian selisih kurs mencapai sekitar Rp 3,4 triliun dari sekitar Rp 231 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, MYOR menghadapi tekanan terutama dari kenaikan harga gula. Namun, kinerja margin perusahaan masih menunjukkan perbaikan.

Catherine mencatat gross profit margin (GPM) MYOR mencapai 24,8% pada kuartal kedua 2026, meningkat dari 20,3% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih MYOR juga tumbuh 60,1% secara tahunan pada kuartal kedua 2026 dan 46,5% secara tahunan pada semester pertama 2026.

Menurut Catherine, kenaikan harga komoditas akan menjadi tantangan bagi emiten consumer staples pada kuartal ketiga 2026, terutama karena manfaat dari persediaan murah mulai berkurang. Di sisi lain, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih membuat ruang untuk menaikkan harga jual menjadi terbatas.

Berbeda dengan ICBP dan MYOR, SIDO dinilai relatif lebih defensif. Meski demikian, Azis menyebut prospek emiten consumer staples secara keseluruhan masih menghadapi sejumlah tantangan hingga akhir 2026.

Azis mengatakan, tekanan emiten consumer staples tidak hanya berasal dari kenaikan harga bahan baku dan pelemahan rupiah. Daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih juga berpotensi membatasi pertumbuhan penjualan dan margin.

"Untuk sisa tahun ini, masih banyak tantangan yang perlu dicermati, terutama kenaikan harga bahan baku, pelemahan rupiah, dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Kondisi tersebut berpotensi membuat pertumbuhan penjualan dan margin tetap terbatas," ujar Azis.

Baca Juga: Emiten Dikejar Target Penuhi Minimal Free Float, BEI Catat Ada 329 Emiten

Dari sisi rekomendasi, Azis merekomendasikan trading buy SIDO dengan target harga Rp 350 per saham. Sementara itu, untuk CMRY direkomendasikan buy dengan target harga Rp 6.850 per saham.

Adapun Catherine memberikan rekomendasi hold untuk ICBP dengan target harga Rp 7.500 per saham dan buy untuk MYOR dengan target harga Rp 2.400 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×