kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45919,51   10,20   1.12%
  • EMAS1.350.000 0,52%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga Emas Turun Setelah Menguat dalam 5 Pekan, Simak Prospeknya ke Depan


Selasa, 23 April 2024 / 05:00 WIB
Harga Emas Turun Setelah Menguat dalam 5 Pekan, Simak Prospeknya ke Depan
ILUSTRASI. Harga emas terkoreksi lebih dari 1% pada Senin (22/4) karena meredanya kekhawatiran akan konflik Timur Tengah. REUTERS/Michael Dalder


Reporter: Nadya Zahira | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas terkoreksi lebih dari 1% pada Senin (22/4) karena meredanya kekhawatiran akan konflik Timur Tengah, sehingga telah menurunkan daya tarik emas batangan sebagai aset safe-haven.

Padahal, sebelumnya harga emas telah menguat dalam lima pekan berturut-turut karena kekhawatiran akan pembalasan lebih lanjut antara Iran dan Israel memicu permintaan safe-haven.

Mengutip Trading Ekonomics, harga emas di pasar spot turun 1,4% menjadi US$ 2.357,19 per ons troi. Sementara itu, harga emas berjangka AS juga turun 2,1% menjadi US$ 2.341,61 per ons troi pada Senin (22/4) pukul 21.40 WIB. 

Research and Development ICDX, Rivanda Alwan mengatakan, harga emas mengalami koreksi setelah beberapa komentar hawkish dari para pejabat Fed, namun permintaan emas ke depannya diprediksi akan tinggi jika konflik Israel-Iran kembali memanas. 

Baca Juga: Harga Emas Spot Turun Lebih dari 2% ke Level Terendah Satu Minggu Senin (22/4)

Selain itu, Rivanda menuturkan sentimen lainnya yang membuat harga emas turun karena Federal Reserve Amerika Serikat (AS) berencana akan mempertahankan tingkat suku bunganya yang semakin tinggi di tahun ini. 

“John Williams, Presiden Federal Reserve Bank New York, menyatakan minggu lalu bahwa peningkatan suku bunga bukan merupakan kebutuhan esensial saat ini. Namun, jika data menunjukkan perlunya penyesuaian suku bunga untuk mencapai target tujuan The Fed, maka The Fed tampaknya akan mengambil langkah tersebut,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (22/4). 

Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank Atlanta, Raphael Bostic menekankan bahwa The Fed tidak berencana untuk menurunkan suku bunga hingga akhir tahun. 

“Perubahan sentimen pasar yang cenderung hawkish berpotensi mengurangi minat terhadap logam non-yielding, sehingga menekan harga emas,” kata dia. 

Lebih lanjut, Rivanda mengatakan, meski tampaknya Iran dan Israel telah menghindari eskalasi konflik yang lebih, namun investor harus tetap waspada terhadap perkembangan di Timur Tengah. 

Menurut dia, adanya potensi peningkatan ketegangan di wilayah tersebut dapat mempengaruhi harga emas dan aset safe-haven tradisional. Di lain sisi, Revanda menyebut bahwa para pelaku pasar menunggu data inflasi utama AS yang akan dirilis pada akhir pekan ini.

Baca Juga: Harga Emas Spot Melemah 1% Senin (22/4), Kekhawatiran Konflik Timur Tengah Mereda

“Hal itu guna mengetahui isyarat tingkat suku bunga yang bakal dipatok The Fed,” imbuhnya. 

Revanda memprediksi harga emas internasional pada akhir kuartal II-2024 akan mencapai sekitar US$ 2.270 per ons troi. 

Sedangkan untuk akhir tahun 2024, diprediksi akan berada di level US$ 2.341-US$ 2.500 per ons troi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×