Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga emas melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Selasa (14/7/2026), setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan mengambil sikap kebijakan moneter yang lebih lunak.
Harga emas spot naik 1,6% menjadi US$ 4.063,78 per ons troi pada pukul 13.30 waktu setempat Sebelumnya, emas sempat menyentuh level terendah sejak 1 Juli.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup menguat 1,6% ke level US$ 4.069,70 per ons troi.
Baca Juga: Dolar AS Anjlok Setelah Mahkamah Agung Tolak Tarif Trump
Kenaikan harga emas juga didukung pelemahan dolar AS sebesar 0,6%. Melemahnya dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia itu.
Pedagang logam independen Tai Wong mengatakan, laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang lebih lemah dari perkiraan menjadi pendorong utama reli emas.
"Inflasi utama turun lebih dalam dari perkiraan, sementara inflasi inti tetap tidak berubah dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini seharusnya secara signifikan menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga, setidaknya pada pertemuan The Fed bulan Juli dan September," ujarnya.
Data menunjukkan inflasi konsumen AS melambat lebih besar dari perkiraan pada Juni.
Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 3,5% secara tahunan hingga Juni, setelah melonjak 4,2% pada Mei. Sementara itu, inflasi inti secara bulanan tidak berubah, setelah pada Mei meningkat 0,2%.
Baca Juga: Harga Emas Turun Setelah Data Klaim Pengangguran AS Lebih Kuat dari Perkiraan
Setelah data tersebut dirilis, pelaku pasar membatalkan sebagian besar taruhan bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga dalam rapat kebijakan pada 28–29 Juli.
Fokus investor kini beralih ke data Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) AS yang akan dirilis pada Rabu (15/7), sebagai petunjuk lanjutan mengenai arah inflasi.
Di sisi lain, Ketua The Fed Kevin Warsh, dalam kesaksiannya di hadapan House Financial Services Committee, kembali menegaskan bahwa prioritas utama bank sentral saat ini adalah mengembalikan inflasi ke target 2%.
Selain sentimen inflasi, perkembangan geopolitik juga menjadi perhatian pasar.
Iran meluncurkan rudal balistik ke pangkalan udara AS di Yordania, sementara AS menyerang sejumlah target Iran selama lima jam dalam konflik yang memperebutkan kendali Selat Hormuz. Ketegangan tersebut mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam empat pekan.
Baca Juga: Emas Melemah Usai Reli 2% Kamis (19/2), Dolar Menguat Jelang Data Inflasi AS
Menurut Wong, meningkatnya konflik dengan Iran berpotensi kembali mengerek inflasi dalam waktu dekat sehingga reli emas kemungkinan akan terbatas.
"Reli emas kemungkinan tertahan di sekitar US$ 4.200 dalam beberapa sesi mendatang. Sementara itu, harga perak berpeluang bergerak ke kisaran US$ 63 hingga US$ 64 per ons," katanya.
Inflasi yang lebih tinggi berpotensi membuat bank-bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, kondisi yang umumnya menjadi sentimen negatif bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 2% menjadi US$ 58,79 per ons, platinum menguat 1,6% ke US$ 1.629,83 per ons, sedangkan paladium melonjak 4,8% menjadi US$ 1.307,30 per ons.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














