Reporter: Vivit Dewi | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas kembali menggeliat pada bulan Agustus 2026 setelah sempat mengalami tekanan cukup dalam pada pertengahan tahun. Pergerakan harga emas tersebut didukung kombinasi sentimen safe haven, pelemahan dolar AS, penurunan yield US Treasury, serta pembelian emas oleh bank sentral.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas ditutup di level US$ 4.481,5 per ons troi pada akhir Agustus 2026, naik 8,79% secara month-on-month (MoM). Secara year to date (YTD), harga emas menguat 1,69%.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan mengatakan, kenaikan harga emas pada Agustus mencerminkan fase pemulihan setelah tekanan yang terjadi pada pertengahan tahun.
"Kenaikan tersebut didorong oleh kombinasi permintaan safe haven, pelemahan dolar pada sebagian periode, penurunan yield Treasury, serta pembelian emas oleh bank sentral," kata Brahmantya kepada Kontan, Selasa (1/9/2026).
Baca Juga: Bitcoin, Emas, hingga Obligasi Menguat di Agustus, Mana yang Paling Cuan?
Sebelumnya, konflik AS–Iran sempat memberikan tekanan terhadap harga emas. Kenaikan harga minyak akibat konflik meningkatkan kekhawatiran inflasi dan ekspektasi suku bunga AS, sementara dolar AS menguat karena turut diburu sebagai aset safe haven.
Memasuki bulan Agustus 2026, tekanan tersebut mulai mereda sehingga sejumlah faktor makro kembali memberikan ruang bagi emas untuk menguat.
"Ketika tekanan tersebut sempat mereda pada Agustus, emas kembali mendapatkan momentum. Jadi menurut saya, kenaikan Agustus bukan hanya faktor geopolitik, tetapi juga perubahan ekspektasi terhadap The Fed, USD dan yield Treasury," kata Brahmantya.
Prospek Emas
Memasuki bulan September 2026, arah kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor. Sinyal hawkish dari Ketua The Fed Kevin Warsh setelah Jackson Hole berpotensi membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan suku bunga yang lebih tinggi.
"Untuk jangka pendek saya justru melihat emas masih berpotensi mengalami koreksi terlebih dahulu," ujar Brahmantya.
Menurut Brahmantya, penguatan ekspektasi suku bunga dapat mendorong kenaikan yield Treasury dan dolar AS. Kedua faktor tersebut berpotensi mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Selain kebijakan moneter AS, perkembangan konflik AS–Iran juga masih dapat memengaruhi arah harga emas. Eskalasi konflik berpotensi meningkatkan permintaan safe haven, tetapi dampaknya terhadap harga minyak perlu dicermati. Kenaikan minyak yang tajam dapat memperbesar tekanan inflasi dan mendorong ekspektasi suku bunga lebih tinggi, sehingga justru menjadi tekanan bagi emas.
Meski membuka peluang koreksi dalam jangka pendek, Brahmantya masih mempertahankan pandangan positif terhadap emas hingga akhir tahun.
"Jadi saya masih bullish untuk jangka menengah hingga akhir tahun, tetapi tidak menutup kemungkinan emas turun terlebih dahulu sebelum kembali naik," kata Brahmantya.
Baca Juga: Harga Emas Diproyeksi Masih Volatil hingga Akhir 2026, Ini Faktor Pemicunya
Dalam skenario koreksi, ia melihat harga emas US$ 4.300–US$ 3.900 per ons troi sebagai area support penting. Level US$ 4.300 menjadi batas awal yang perlu diperhatikan, sedangkan tekanan yang lebih kuat dapat membawa harga menuju kisaran US$ 4.000–US$ 3.900.
Jika area tersebut mampu bertahan, Brahmantya memperkirakan emas memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan hingga akhir tahun.
"Namun selama emas mampu bertahan di zona support tersebut, saya masih melihat peluang rebound menuju US$ 4.800–US$ 5.000 per ons hingga akhir tahun," imbuhnya.
Dengan prospek tersebut, koreksi dalam jangka pendek dinilai masih menjadi bagian dari pergerakan emas sebelum kembali melanjutkan tren penguatan hingga akhir tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














