kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.753   44,00   0,25%
  • IDX 6.525   7,36   0,11%
  • KOMPAS100 852   3,39   0,40%
  • LQ45 644   2,00   0,31%
  • ISSI 229   -0,13   -0,06%
  • IDX30 360   1,47   0,41%
  • IDXHIDIV20 443   4,53   1,03%
  • IDX80 97   0,33   0,34%
  • IDXV30 124   2,23   1,83%
  • IDXQ30 115   0,70   0,62%

Harga Emas Diproyeksi Masih Volatil hingga Akhir 2026, Ini Faktor Pemicunya


Senin, 31 Agustus 2026 / 20:21 WIB
Harga Emas Diproyeksi Masih Volatil hingga Akhir 2026, Ini Faktor Pemicunya
ILUSTRASI. Harga emas (REUTERS/Angelika Warmuth)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas diproyeksikan masih bergerak volatil hingga akhir 2026. Dalam jangka pendek, pergerakan harga emas dinilai belum menunjukkan sinyal kuat untuk kembali memasuki tren kenaikan, sementara arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) masih menjadi salah satu faktor penting yang perlu dicermati investor.

Group Head of Operations Syailendra Capital Syanne Gracetinne Polii mengatakan dalam horizon tiga hingga enam bulan ke depan, harga emas berpotensi bergerak sideways atau mengalami koreksi jangka pendek.

"Dalam kurun waktu pendek, mungkin sekitar 3 sampai 6 bulan, harga emas either cenderungnya sideways atau koreksi short-term saja," ujar Syanne di Jakarta, Senin (31/8/2026).

Baca Juga: Pasar Volatil, Laba Bersih BEI Melonjak 178,83% Per Juni 2026

Menurut Syanne, prospek harga emas dalam jangka pendek masih dipengaruhi oleh sejumlah faktor global, terutama arah kebijakan moneter AS. Karena itu, investor belum dapat memastikan bahwa harga emas akan segera kembali memasuki tren kenaikan baru.

Sebelumnya, harga emas mengalami koreksi hingga 26% sepanjang Januari-Juni 2026. Koreksi tersebut menjadi yang terdalam dalam satu dekade terakhir.

Syanne mengatakan tekanan terhadap harga emas pada periode tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk perubahan aturan leverage, aksi ambil untung investor, serta gejolak geopolitik.

Kondisi tersebut membuat ruang pergerakan harga emas dalam jangka pendek masih cukup dinamis. Investor dinilai perlu memperhatikan perkembangan faktor makroekonomi dan kebijakan moneter sebelum mengambil keputusan investasi.

Meski prospek jangka pendek masih menghadapi tekanan, Syanne melihat permintaan emas dalam jangka panjang tetap memiliki sejumlah penopang struktural.

Salah satunya berasal dari pembelian emas oleh bank sentral. Menurut dia, bank sentral cenderung memanfaatkan periode koreksi harga emas untuk meningkatkan cadangan emas mereka.

"Bank Sentral sekarang itu lumayan action-nya jadi kayak dip buyers gitu. Every single correction yang terjadi di emas mereka akan memanfaatkan untuk membeli emas dan meningkatkan cadangan emasnya," beber Syanne.

Baca Juga: Kinerja Emiten Holding Investasi Masih Lesu, Simak Prospeknya di Semester II 2026

Pembelian bank sentral tersebut berpotensi menjadi penopang permintaan ketika harga emas mengalami koreksi. Dengan demikian, meskipun pergerakan harga emas dalam jangka pendek masih berpotensi volatil, permintaan struktural dalam jangka panjang masih relatif kuat.

Sementara itu, Chief Executive Officer Syailendra Capital Fajar R. Hidajat menilai emas memiliki karakteristik yang berbeda dari aset keuangan lainnya sehingga dapat berfungsi sebagai diversifier dalam portofolio.

"Emas memiliki karakteristik yang unik dalam sebuah portofolio. Walaupun bersifat non-yielding asset, namun emas mampu menjadi portfolio diversifier karena korelasi yang bisa berbeda dengan aset keuangan lainnya," ujar Fajar.

Menurut Fajar, investor perlu memahami karakteristik dan fungsi emas sebelum memasukkannya ke dalam portofolio, termasuk memahami risiko fluktuasi harga.

Seiring berkembangnya instrumen investasi, akses terhadap emas juga tidak lagi terbatas pada kepemilikan fisik. Investor kini dapat memperoleh eksposur terhadap emas melalui Exchange Traded Fund (ETF), yakni reksa dana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa.

Syailendra Capital sebelumnya meluncurkan Reksa Dana Syariah Syailendra ETF Sharia Gold (XSGO) yang menggunakan emas sebagai underlying.

Fajar mengatakan perkembangan ETF memberikan alternatif bagi investor untuk memperoleh eksposur terhadap emas melalui mekanisme pasar modal.

Baca Juga: Peta Market Cap BEI Berubah, BREN dan DSSA Mulai Tergusur

"Perkembangan cara investasi emas melalui ETF membuat setiap investor bisa lebih mudah memperoleh eksposur terhadap emas melalui infrastruktur pasar modal yang fleksibel, transparan, dan terstruktur," tambahnya.

Dengan prospek harga yang masih volatil dalam jangka pendek, pemahaman terhadap faktor penggerak harga serta karakteristik instrumen investasi menjadi penting bagi investor. Di sisi lain, pembelian bank sentral dan kebutuhan diversifikasi portofolio menjadi faktor yang dapat menopang minat terhadap emas dalam jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×