kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45697,73   -32,02   -4.39%
  • EMAS946.000 -1,77%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Harga emas dunia bisa tembus US$ 1.900 per ons troi, asalkan...


Sabtu, 22 Februari 2020 / 09:10 WIB
Harga emas dunia bisa tembus US$ 1.900 per ons troi, asalkan...

Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas terus melambung. Merujuk Bloomberg, pada Jumat (21/2) harga emas di pasar spot menyentuh US$ 1.643,41 per ons troi. Harga ini merupakan harga tertinggi emas dalam tujuh tahun terakhir.

Analis Central Capital Futures Wahyu Laksono melihat kondisi fundamental emas yang baik menjadi faktor pendorong tren bullish emas belakangan ini. Terlebih lagi belakangan ini virus corona ikut mendorong kenaikan harga emas.

Baca Juga: Harga emas diprediksi bisa tembus level US$ 1.700 pada tahun ini

Namun Wahyu menilai ada beberapa faktor yang bisa mendongkrak harga emas naik lebih tinggi lagi. Salah satu faktor tersebut adalah aging demographics dan stagflation.

Stagflation sudah pernah terjadi pada tahun 1970-an dan itu disebabkan embargo minyak. Pada periode 2020 - 2030, stagflation mungkin terjadi lagi, hanya saja kali ini disebabkan oleh aging demographics,” terang Wahyu kepada Kontan.co.id, Jumat (21/2).

Aging demographics merupakan suatu kondisi di mana penduduk sudah banyak yang berada di fase tidak produktif. Kondisi ini kemudian bisa mendorong dana kesehatan dan pensiun yang akan memberatkan anggaran negara.

Wahyu menyebut, stagflation merupakan waktu yang paling menguntungkan untuk berinvestasi. Sebab ketika dulu stagflation terjadi, harga emas pada 1973 berada di level US$ 64 per ons troi dan begitu memasuki 1982 telah menyentuh US$ 447 per ons troi. Artinya peningkatan harga emas mencapai 598% pada kurun waktu tersebut.

Aging demographics kerap diiringi dengan deflasi, perlambatan pertumbuhan ekonomi secara organik, dan menekan anggaran. Hal ini berujung dengan kebijakan quantitative easing, seperti yang terjadi di Jepang,” jelas Wahyu.

Perpaduan antara aging demographics dan kebijakan fiskal yang kurang tepat, dinilai Wahyu bisa berujung pada devaluasi mata uang dan meningkatnya inflasi. Dengan demikian, harga emas bisa terdorong lebih tinggi lagi dibanding saat ini.

Baca Juga: Harga emas menguat lagi setelah profit taking siang hari

“Emas mungkin menembus level US$ 1.900 per ons troi, tapi dengan beberapa syarat. Kemungkinan di atas terjadi dan emas menguji level tertinggi yang pernah dicatatkan pada 2011 silam,” tambah Wahyu.

Wahyu menghitung, emas harus menguji level resistance di US$ 1.801,90 terlebih dahulu. Jika resistance tersebut berhasil dilewati, tantangan berikutnya adalah dalam jangka panjang emas harus bisa menembus level resistance tertinggi US$ 1.919,90, harga tertinggi emas pada September 2011.




TERBARU

Close [X]
×