Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli
Harga jual biasanya lebih cepat menyesuaikan dengan pergerakan pasar global karena memperhitungkan stok, permintaan ritel, biaya distribusi, serta strategi penetapan harga Logam Mulia.
"Sementara buyback cenderung lebih stabil karena berfungsi menjaga likuiditas dan kepercayaan pasar,” paparnya.
Ia menambahkan, stabilnya harga buyback justru mencerminkan upaya Antam menjaga agar selisih harga tidak terlalu ekstrem, sehingga pemilik emas tetap merasa aman ketika ingin menjual kembali emasnya.
Baca Juga: Harga Emas Terus Merosot, Begini Nasib Emiten Produsen Emas
Adapun untuk prospek ke depan, Bram menilai peluang penguatan harga emas Antam masih terbuka pada kuartal I-2026, meskipun volatilitas dan fase konsolidasi masih mungkin terjadi dalam jangka pendek.
“Selama ketidakpastian global, isu geopolitik, dan potensi pelonggaran kebijakan moneter global masih menjadi tema besar, emas tetap menarik sebagai aset lindung nilai,” ujarnya.
Jika harga emas global mampu melanjutkan tren naik dan mendekati kisaran US$ 5.800 - US$ 6.000 per ons troi, maka harga emas Antam berpotensi kembali menguat.
Baca Juga: Harga Emas Terkoreksi, Prospek Emiten Tambang Tetap Menarik Jangka Panjang
Secara konservatif, Bram memproyeksikan harga emas Antam pada kuartal I 2026 berada di rentang Rp 2,9 juta hingga Rp 3,2 juta per gram.
“Perlu dicatat, pergerakan harga tidak akan lurus naik. Koreksi jangka pendek masih mungkin terjadi, tetapi secara tren besar, emas masih punya ruang untuk melanjutkan penguatan,” pungkasnya.
Selanjutnya: Batas Investasi Dapen dan Asuransi di Bursa Naik Jadi 20%, Pengamat Soroti Hal Ini
Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (4/2) Jabodetabek Hujan Sangat Lebat di Sini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













