Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia di pasar spot masih berada dalam tekanan dan telah merosot ke kisaran US$ 4.000 per ons troi.
Penguatan dolar Amerika Serikat (AS), ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama, hingga meredanya ketegangan geopolitik menjadi faktor utama yang membebani pergerakan logam mulia tersebut.
Melansir Trading Economics pada Jumat (25/6/2026) pukul 17.00 WIB, harga emas di pasar spot bertengger di level US$ 4.046,33 per ons troi atau melemah sebanyak 2,55% dalam sepekan dan 9,20% dalam sebulan terakhir.
Baca Juga: Ciputra Development (CTRA) Proyeksikan Laba Turun 10% pada 2026
Harga emas spot saat ini dapat dibilang sudah cukup murah, mengingat pada akhir Januari 2026 lalu sempat terbang hingga menyentuh US$ 5.500 per ons troi.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan, mengatakan pelemahan harga emas saat ini dipengaruhi kombinasi sentimen moneter, penguatan dolar AS, dan perkembangan geopolitik global.
Ia mencatat data inflasi AS terbaru menunjukkan inflasi inti Personal Consumption Expenditures (Core PCE) masih berada di level 3,4%, jauh di atas target inflasi Federal Reserve (The Fed) sebesar 2%. Kondisi ini membuat pasar semakin yakin bahwa suku bunga akan tetap tinggi lebih lama.
“Bahkan saat ini pasar masih memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga lanjutan, sehingga dolar AS dan imbal hasil obligasi AS tetap menarik dibanding aset tanpa imbal hasil seperti emas,” ungkap Brahmantya kepada Kontan, Kamis (25/6/2026).
Katanya, pasar saat ini masih lebih memilih dolar AS dibandingkan emas. Ketika konflik AS-Iran memanas, investor justru banyak masuk ke dolar AS karena statusnya sebagai petrodollar, mengingat perdagangan energi global masih didominasi dolar.
Selain itu, kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran serta mulai pulihnya arus pelayaran di Selat Hormuz juga mengurangi permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas.
Meski demikian, Brahmantya melihat tekanan terhadap harga emas mulai mereda setelah data Core PCE dirilis sesuai ekspektasi pasar. Harga emas bahkan sempat bangkit dari area US$ 3.959 menjadi sekitar US$ 4.026 per ons troi, yang menunjukkan mulai munculnya minat beli di area bawah.
Untuk sisa tahun 2026, ia memperkirakan level support utama emas berada di kisaran US$ 3.900 hingga US$ 3.700 per ons troi. Selama harga mampu bertahan di atas level US$ 3.700 per ons troi, tren kenaikan jangka panjang dinilai masih tetap terjaga.
Di tengah koreksi harga saat ini, Brahmantya menilai investor jangka panjang sudah dapat mulai melakukan akumulasi secara bertahap atau buy on weakness. Menurutnya, kuartal III-2026 menjadi periode yang menarik untuk mulai membangun posisi, seiring pasar yang masih terlalu fokus terhadap penguatan dolar AS dan prospek suku bunga tinggi.
“Namun saya tidak menyarankan masuk sekaligus dalam jumlah besar. Strategi yang lebih bijak adalah melakukan pembelian bertahap di area support utama sambil tetap memantau perkembangan kebijakan The Fed dan situasi geopolitik,” imbuhnya.
Sementara itu, bagi investor dengan profil risiko lebih agresif, volatilitas harga emas berjangka dinilai membuka peluang untuk perdagangan jangka pendek. Adapun bagi investor konservatif, emas fisik tetap menjadi instrumen yang relevan sebagai penyimpan nilai sekaligus lindung nilai dalam jangka panjang.
Terakhir, ia menekankan bahwa saat ini emas sedang menghadapi kombinasi dolar yang kuat, suku bunga tinggi, dan meredanya kekhawatiran inflasi akibat turunnya harga minyak. Namun justru ketika pasar terlalu fokus pada dolar, biasanya peluang akumulasi emas mulai terbuka.
“Karena itu saya melihat koreksi saat ini lebih sebagai fase konsolidasi daripada akhir dari tren jangka panjang emas,” pungkasnya.
Baca Juga: Mata Uang Asia Masih Tertekan Dolar AS, Ini Prospek Semester II-2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














