kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.310.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga Bitcoin Tengah Tertekan, Apa Penyebabnya?


Jumat, 23 Februari 2024 / 15:16 WIB
Harga Bitcoin Tengah Tertekan, Apa Penyebabnya?
ILUSTRASI. Harga Bitcoin (BTC) pada Jumat (23/2), pukul 15.06 WIB turun 0,53% ke US$ 50.979,60.


Reporter: Nadya Zahira | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga Bitcoin (BTC) pada Jumat (23/2), pukul 15.06 WIB turun 0,53% ke US$ 50.979,60.

Trader Tokocrypto Fyqieh Fachrur menuturkan, harga Bitcoin memang sedang berfluktuasi. Hal itu tercermin dari harga Bitcoin yang berupaya menguji level US$53.000 pada pergerakan tengah pekan ini, namun aksi jual mengakibatkan penurunan lebih dalam di bawah US$ 52.000.

Menurut dia, momentum bullish saat ini terbatas, sehingga investor perlu waspada dalam memantau pergerakan harga selanjutnya, “Investor dan pelaku pasar perlu mewaspadai dinamika ini untuk mengoptimalkan keputusan investasi mereka,” ujar Fyqieh kepada Kontan.co.id, Jumat (23/2). 

Fyqieh menyebutkan, pasar kripto dan Bitcoin saat ini sedang tertekan imbas sinyal pemotongan suku bunga yang  ditunda secara keseluruhan. “Hal ini mengindikasikan adanya potensi tekanan jual dari para pelaku pasar yang mencoba mengambil keuntungan,” kata dia. 

Baca Juga: Halving Bitcoin 60 Hari Lagi, Harga Bitcoin Diprediksi Bakal Fluktuatif

Saat ini, pasar kripto dihadapkan pada dua sentimen negatif yang kemungkinan akan mendorong mayoritas aset berisiko untuk turun.

Pertama, hasil risalah FOMC yang menyarankan agar The Fed melanjutkan penurunan suku bunga secara hati-hati. Ini memberi sinyal bahwa suku bunga akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.

“Banyak analis saat ini berasumsi bahwa hasil risalah FOMC ini akan menaikkan kembali nilai dolar AS, yang kemungkinan akan mendorong mayoritas aset berisiko turun,” imbuhnya. 

Sentimen kedua, yaitu datang dari data arus keluar ETF Bitcoin. Pada tanggal 21 Februari, Fyqieh menyebutkan, ETF BTC mencatat arus keluar bersih senilai US$ 35,6 juta, yang mungkin merupakan aksi ambil untung oleh investor. 

“Ini menjadi angka negatif pertama sejak 25 Januari, setelah sebelumnya terjadi arus masuk bersih selama 17 hari berturut-turut, yang sebagian besar dipimpin oleh BlackRock dan Fidelity,” sebut Fyqieh. 

Fyqieh memprediksi  investor akan tetap menggunakan aset tradisional untuk sementara waktu, mengingat keputusan The Fed untuk menunda penurunan suku bunga telah menyebabkan pasar kripto bersiap menghadapi volatilitas.

Namun, dengan banyaknya peristiwa penting seperti halving Bitcoin dan prediksi kenaikan yang semakin dekat, harga aset kripto kemungkinan akan segera mendapatkan kembali momentumnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×