Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dinilai masih positif hingga akhir 2026. Penguatan harga batubara global serta peningkatan kapasitas logistik melalui proyek jalur kereta api Tanjung Enim-Keramasan diperkirakan menjadi katalis utama yang menopang kinerja emiten tambang batubara pelat merah tersebut.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, kenaikan harga batubara global berpotensi meningkatkan realisasi harga jual rata-rata (average selling price/ASP) PTBA sehingga mampu menjaga margin keuntungan perusahaan.
Data terbaru pada Rabu (22/7), harga batubata Newcastle melonjak menjadi US$ 130 per ton atau meningkat sekitar 17,97% secara tahunan (YoY).
Kenaikan ini didorong oleh perang Amerika Serikat-Iran yang mendorong pembangkit listrik beralih ke batubara sebagai pengganti pasokan LNG yang terganggu, serta diperkuat oleh pengetatan pasokan batubara di Provinsi Shanxi, China.
Baca Juga: Rupiah Tertekan Merespon Keputusan Suku Bunga BI, Simak Proyeksi Kamis (23/7)
Selain didukung harga batubara, proyek utama yang menjadi perhatian adalah jalur kereta Tanjung Enim-Keramasan, yang ditargetkan mulai beroperasi secara komersial (Commercial Operation Date/COD) pada semester II-2026.
Kata Nafan, ini menjadi katalis yang bersifat struktural. Infrastruktur tersebut dinilai dapat meningkatkan kapasitas logistik PTBA sehingga mampu mengoptimalkan volume produksi dan penjualan sekaligus mengurangi hambatan distribusi.
Menurutnya, apabila pemerintah melonggarkan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nasional, peluang pertumbuhan volume penjualan PTBA akan semakin terbuka.
Selain itu, strategi hilirisasi yang terus dijalankan perseroan juga berpotensi menciptakan nilai tambah dalam jangka panjang, sehingga PTBA tidak hanya bergantung pada siklus harga batu bara semata.
“Dengan neraca yang solid, arus kas yang kuat, dan posisi sebagai produsen berbiaya relatif kompetitif, PTBA masih memiliki fundamental yang cukup baik untuk menjaga kinerjanya hingga akhir tahun,” ujar Nafan kepada Kontan, Rabu (22/7/2026).
Baca Juga: Siloam (SILO) Ekspansi dengan Layanan Bedah Robotik, Saham & Prospek Dinilai Positif
Di sisi lain, Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Ryan Santoso, mencatat sekitar 54% penjualan PTBA pada tahun buku 2025 berasal dari pasar domestik, dengan 37% di antaranya disalurkan ke PLN melalui skema Domestic Market Obligation (DMO) yang menetapkan batas harga US$ 70 per ton.
Kebijakan ini membatasi kemampuan PTBA untuk menikmati sepenuhnya tingginya harga batubara di pasar spot saat ini. Namun di sisi lain, DMO juga memberikan kepastian penyerapan volume penjualan dan mendukung target pertumbuhan volume sebesar 5% menjadi 49,6 juta ton, meskipun pemerintah memangkas kuota produksi nasional (RKAB) menjadi 600 juta ton.
“Artinya, apabila pemerintah memutuskan meningkatkan kembali kuota produksi nasional, kami meyakini PTBA juga berpotensi menaikkan target volume produksinya pada 2026,” ungkap Ryan dalam riset 8 Juni 2026.
Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah biaya penambangan. Harga minyak di kisaran US$ 90 - US$ 110 per barel berpotensi meningkatkan biaya bahan bakar dan tarif kontraktor. Meski demikian, dengan target volume produksi yang kuat dan harga batubara yang masih tinggi, Ryan memperkirakan dampak positifnya akan lebih besar dibandingkan kenaikan biaya tersebut.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi mengatakan, saat ini PTBA memiliki neraca keuangan yang kuat dengan posisi kas bersih (net cash) serta menawarkan dividend yield sekitar 7%-8%.
Ia menilai, saham PTBA diperdagangkan pada valuasi yang lebih tinggi dibandingkan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang saat ini berada di kisaran Price to Earnings (P/E) 5–6 kali.
Baca Juga: Percepat Pemerataan 4G dan 5G, XLSMART (EXCL) Tambah Spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz
Wafi menekankan, premi valuasi tersebut mencerminkan profil risiko yang lebih rendah serta visibilitas dividen yang lebih baik, bukan karena prospek pertumbuhan yang lebih tinggi. Dengan kata lain, PTBA merupakan pilihan defensif bagi investor yang ingin berinvestasi di sektor batubara Indonesia.
“Namun, prospek penurunan struktural industri batubara dalam jangka panjang serta kebijakan DMO yang membatasi harga jual ke pasar domestik masih menjadi faktor yang membatasi potensi kenaikan valuasi saham PTBA,” ujar Wafi dalam riset 9 Juli 2026.
Melihat kinerja keuangan, Wafi memproyeksi, pendapatan PTBA pada 2026 diperkirakan mencapai Rp 44,34 triliun, meningkat 3,96% YoY dibandingkan realisasi 2025 yang sebesar Rp 42,65 triliun.
Kemudian untuk laba bersihnya PTBA, diperkirakan tahun 2026 bisa lebih tinggi, yakni naik 24,88% YoY menjadi Rp 3,66 triliun, dari Rp 2,93 triliun pada 2025.
Dengan berbagai faktor tersebut, Wafi pun memberikan rekomendasi untuk buy PTBA dengan target Rp 3.200 per saham. Ryan menaikkan, rekomendasi menjadi neutral dari sebelumnya sell, dengan target Rp 2.800 per saham.
Tak ketinggalan Equity Research Analyst Ajaib Sekuritas Rizal Rafly merekomendasikan investor untuk buy saham PTBA dengan target Rp 3.150 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
