kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.992.000   -5.000   -0,17%
  • USD/IDR 17.008   36,00   0,21%
  • IDX 7.022   -114,92   -1,61%
  • KOMPAS100 967   -21,57   -2,18%
  • LQ45 714   -14,61   -2,01%
  • ISSI 244   -4,92   -1,97%
  • IDX30 388   -4,33   -1,10%
  • IDXHIDIV20 485   -2,12   -0,43%
  • IDX80 109   -2,57   -2,31%
  • IDXV30 132   0,44   0,33%
  • IDXQ30 126   -0,69   -0,54%

Harga Aluminium Melesat, Begini Efeknya Bagi Emiten Sektor Tersebut


Senin, 16 Maret 2026 / 19:58 WIB
Harga Aluminium Melesat, Begini Efeknya Bagi Emiten Sektor Tersebut
ILUSTRASI. INALUM) resmi menerbitkan EPD untuk produk Aluminium Ingot G1 (DOK/INALUM)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah turut mengerek harga komoditas aluminium di pasar global. Lonjakan harga aluminium dapat menjadi sentimen yang mempengaruhi kelangsungan usaha emiten-emiten pengembang smelter maupun pemain lama di sektor hilir komoditas tersebut.

Mengutip data Trading Economics, harga aluminium meningkat 11,82% dalam sebulan terakhir ke level US$ 3.399,65 per ton pada Senin (16/3) pukul 19.25 WIB.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, melesatnya harga aluminium memberikan sentimen positif bagi emiten yang terlibat dalam rantai nilai komoditas ini di Indonesia.

Baca Juga: Beban Fiskal Makin Berat, Rupiah Tertekan dan Sempat Sentuh Rp 17.006 Senin (16/3)

Bagi emiten yang sedang mengembangkan proyek hilirisasi seperti PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), kenaikan harga aluminium akan mendongkrak prospek keekonomian proyek smelter maupun refinery alumina. Sebab, margin antara harga aluminium global dan biaya produksi cenderung melebar.

"Harga aluminium yang tinggi juga mempercepat potensi payback period proyek hilirisasi, sehingga meningkatkan kelayakan investasi jangka panjang," ujar dia, Senin (16/3).

Di sisi lain, penguatan harga aluminium akan memberi dampak yang cenderung campuran bagi emiten hiliri yang sudah lama beroperasi, seperti PT Indal Aluminium Industry Tbk (INAI) dan PT Alumindo Light Metal Industry Tbk (ALMI).

Di satu sisi, harga jual produk aluminium dapat meningkat sehingga berpotensi menaikkan pendapatan. Namun di sisi lain, biaya bahan baku juga naik, sehingga margin bergantung pada kemampuan emiten yang bersangkutan dalam meneruskan kenaikan harga ke konsumen.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menambahkan, lonjakan harga aluminium yang disertai kebijakan larangan ekspor mineral mentah bakal memicu percepatan agenda diversifikasi bagi emiten-emiten pertambangan.

Sisi positifnya, emiten tambang yang masuk ke sektor aluminium dapat menikmati peningkatan margin secara eksponensial seiring nilai tambah hilirisasi dan jaminan keberlangsungan bisnis di era transisi energi. Terlebih lagi, aluminium menjadi salah satu komoditas penting dalam pengembangan industri kendaraan listrik dan energi terbarukan.

Sisi negatifnya, emiten yang berekspansi membangun pabrik pengolahan aluminium dipastikan membutuhkan capital expenditure (capex) besar dan periode balik modal panjang. "Keberhasilannya sangat bergantung pada ketersediaan serta harga sumber energi listrik skala besar," imbuh dia, Senin (16/3/2026).

Baca Juga: IHSG Turun 1,61% Hari ini (16/3), Simak Pergerakannya pada Selasa (17/3)

Wafi menambahkan, di tengah tren lonjakan harga aluminium, emiten yang bergerak di sektor terkait rantai pasok komoditas ini mesti aktif melakukan lindung nilai bahan baku, mengamankan kontrak pasokan energi jangka panjang, hingga mengunci komitmen dengan offtaker berskala global.

Sementara menurut Arinda, ketika harga aluminium melesat, emiten di sektor ini perlu memastikan efisiensi biaya produksi, terutama pada energi dan bahan baku karena produksi aluminium sangat bergantung pada listrik.

Selain itu, emiten perlu memperkuat integrasi hulu hilir untuk mengamankan pasokan bauksit dan alumina agar tidak terlalu bergantung pada impor. Emiten juga mesti mengamankan sebagian harga melalui kontrak jangka panjang atau hedging untuk menjaga stabilitas margin.

Lebih lanjut, emiten perlu memperhatikan potensi koreksi harga aluminium setelah lonjakan tajam, risiko geopolitik yang mempengaruhi rantai pasok global, serta risiko pembengkakan biaya proyek smelter.

"Selain itu, regulasi pemerintah terkait hilirisasi, ekspor, dan insentif fiskal juga menjadi faktor penting yang dapat mempengaruhi profitabilitas industri aluminium," jelas dia.

Arinda menyebut, dari perspektif investasi, emiten aluminium yang paling menarik biasanya adalah perusahaan yang memiliki integrasi kuat dari tambang hingga hilir atau perusahaan dengan proyek hilirisasi skala besar dan dukungan sumber daya yang kuat.

Dari situ, ia menyarankan investor untuk mempertimbangkan saham ANTM dan ADMR dengan target harga di level Rp 4.500 per saham dan Rp 2.150 per saham.

Di lain pihak, Wafi menyarankan investor untuk mempertimbangkan saham ADMR, ANTM, dan CITA dengan target harga masing-masing di level Rp 1.800 per saham, Rp 4.000 per saham, dan Rp 5.000 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×