Reporter: Alya Fathinah | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga aluminium di pasar global terus menguat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran yang memicu gangguan pasokan dari produsen besar di kawasan Timur Tengah.
Lonjakan harga terjadi setelah dua produsen aluminium utama menghentikan operasinya. Aluminium Bahrain (Alba), pemilik smelter aluminium terbesar di dunia di luar China, menghentikan pengiriman dan menyatakan keadaan kahar (force majeure) akibat terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Di saat yang sama, smelter Qatalum di Qatar juga menghentikan operasinya karena pasokan gas terputus. Penghentian produksi diperkirakan berlangsung penuh hingga akhir Maret dengan proses pemulihan yang bisa memakan waktu antara enam hingga 12 bulan.
Baca Juga: Harga Aluminium Global Melonjak, Ini Pemicunya
Gangguan pasokan tersebut langsung mendorong kenaikan harga aluminium di pasar internasional. Berdasarkan laporan Reuters, harga aluminium mencapai US$ 3.296 per ton pada Kamis (5/3/2026), naik sekitar 5% sejak eskalasi konflik AS dan Iran pada 28 Februari 2026.
Secara year to date (YTD), harga logam ini telah menguat sekitar 10%.
Data Trading Economics juga menunjukkan tren penguatan yang berlanjut. Pada Jumat (6/3/2026) pukul 19.00 WIB, harga aluminium kembali naik 1,72% menjadi US$ 3.337 per ton.
Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menilai pergerakan aluminium pada awal 2026 menunjukkan tren kenaikan yang cukup agresif.
“Aluminium menunjukkan tren bullish yang sangat agresif sejak awal 2026 dan sudah menembus level psikologis penting,” kata Wahyu, Jumat (6/3/2026).
Baca Juga: Harga Aluminium Global Naik, Indonesia Siap Raup Untung dari Bauksit
Ia menilai kenaikan aluminium terlihat lebih tajam dibandingkan sejumlah logam industri lainnya. Kondisi ini dipicu sensitivitas tinggi industri aluminium terhadap biaya energi global, yang meningkat di tengah ketidakpastian geopolitik.
Wahyu juga membandingkan pergerakan aluminium dengan logam lain seperti nikel dan tembaga. Menurutnya, harga nikel sempat menguat pada awal 2026 hingga mencapai US$ 17.322 per ton, namun pergerakannya cenderung lebih volatil setelah sebelumnya mengalami koreksi tajam.
“Nikel sangat bergantung pada dinamika pasokan dari Indonesia serta permintaan dari industri baja tahan karat dan baterai kendaraan listrik,” ujarnya.
Sementara itu, harga tembaga bergerak searah dengan aluminium, tetapi relatif lebih stabil dengan konsolidasi di kisaran US$ 12.960 per ton.
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Investor Menimbang Ketegangan AS-Iran
Menurut Wahyu, kenaikan tembaga biasanya menjadi indikator kondisi ekonomi global. Jika tembaga dan aluminium naik bersamaan, hal ini menandakan meningkatnya permintaan dari sektor transisi energi, termasuk kendaraan listrik dan pembangunan infrastruktur energi.
Untuk jangka pendek, Wahyu memproyeksikan harga aluminium pada semester I 2026 bergerak di kisaran support US$ 3.150 per ton dan resistance US$ 3.420 per ton.
Jika level tersebut berhasil ditembus, rentang pergerakan berikutnya diperkirakan berada pada support US$ 2.950 per ton dan resistance US$ 3.600 per ton.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













