kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   30.000   1,05%
  • USD/IDR 17.157   13,00   0,08%
  • IDX 7.624   -52,36   -0,68%
  • KOMPAS100 1.056   -6,56   -0,62%
  • LQ45 760   -4,37   -0,57%
  • ISSI 277   0,16   0,06%
  • IDX30 404   -2,51   -0,62%
  • IDXHIDIV20 489   -2,28   -0,46%
  • IDX80 118   -0,60   -0,51%
  • IDXV30 138   1,46   1,07%
  • IDXQ30 129   -0,80   -0,62%

Grab Akuisisi Bisnis Foodpanda di Taiwan, Akankah Merger dengan GOTO Terjadi?


Rabu, 15 April 2026 / 19:17 WIB
Grab Akuisisi Bisnis Foodpanda di Taiwan, Akankah Merger dengan GOTO Terjadi?
ILUSTRASI. Aksi korporasi Grab yang melakukan akuisisi bisnis Foodpanda di Taiwan menimbulkan tanda tanya mengenai isu merger Grab dengan GOTO. (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Aksi korporasi Grab yang melakukan akuisisi bisnis Foodpanda di Taiwan menimbulkan tanda tanya mengenai isu merger Grab dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). 

Christopher Rusli, Analis Ciptadana Sekuritas Asia mencatat, akuisisi Foodpanda Taiwan senilai US$ 600 juta oleh Grab memperluas pasar potensialnya sebesar 20% (bertambah US$ 40 miliar) dan diperkirakan akan meningkatkan pendapatan. 

“Hal ini dapat mengurangi kemungkinan penggabungan jangka pendek dengan GoTo karena fokus manajemen bergeser ke integrasi. Ini diperparah oleh hambatan regulasi di Indonesia dan perselisihan valuasi yang belum terselesaikan,” ujar Christopher dalam risetnya pada 7 April 2026.  

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Lanjut Melemah pada Kamis (16/4), Cermati Saham Rekomendasi Analis

Selain itu, Grab telah menginvestasikan modal yang signifikan, termasuk akuisisi senilai US$ 600 juta dan rencana pembelian kembali saham senilai US$ 500 juta, bersamaan dengan peningkatan investasi untuk membangun operasinya di Taiwan. Meskipun mempertahankan likuiditas yang solid (US$ 7,4 miliar bruto, US$ 5,4 miliar neto), komitmen ini menimbulkan pertanyaan tentang kapasitas dan kemauan Grab untuk mengejar kesepakatan, sehingga GoTo dapat fokus pada pertumbuhan dan profitabilitas secara independen.

Peter Milliken, Research Analyst Deutsche Bank menyoroti isu adanya laporan yang mengatakan bahwa Grab mempertimbangkan penggabungan dengan Goto sejak Februari tahun 2025. Merespon hal tersebut, manajemen GOTO memberikan pernyataan bahwa mereka belum melakukan diskusi, tetapi kemudian SWF Indonesia, Danantara, mengatakan sedang dalam diskusi untuk mendapatkan saham di entitas gabungan tersebut. Penggantian CEO yang anti-penggabungan telah menambah kredibilitas pemikiran tersebut. 

Isu ini juga sempat dikomentari Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi yang mengatakan bahwa penggabungan sedang dibahas, dan bahwa pertemuan tiga pihak telah terjadi sebagai bagian dari upaya untuk menciptakan layanan yang lebih baik bagi masyarakat. Hal ini untuk menjaga perusahaan tetap berjalan, dan untuk menciptakan lapangan kerja. 

“Kami telah menulis tentang logika komersial dari penggabungan tersebut, melihatnya sebagai perkembangan alami, seperti halnya Uber yang bergabung dengan Didi di Tiongkok dan Grab di Asia Tenggara,” ujar Peter dalam risetnya pada 12 Maret 2026. 

Baca Juga: Arah Rupiah Menanti Kebijakan Suku Bunga, Begini Proyeksinya untuk Kamis (16/4/2026)

Peter menambahkan bahwa merger memberikan potensi keuntungan laten di atas nilai GOTO secara mandiri dan premi pengambilalihan yang mungkin terjadi. Oleh karena itu, Peter melihat GOTO sebagai saham kunci yang wajib dimiliki oleh investor. 

Terlepas dari isu tersebut, Gani, Analis OCBC Sekuritas memproyeksikan pengungkit keuntungan utama GOTO pada tahun 2026 adalah segmen GoTo Financial (GTF) karena telah mencapai skala yang dibutuhkan untuk menghasilkan keuntungan. 

"Segmen on-demand services (ODS) akan terus menyeimbangkan profitabilitas dengan pertumbuhan," ucap Gani kepada Kontan, Rabu (15/4/2026).

Gani melihat pada segmen ODS, berbagai bauran produk seperti “GoFood Hemat” dan “Express” serta kemitraan dengan para komuter diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas, sehingga berdampak positif pada EBITDA yang disesuaikan.

Lalu, pada segmen GTF, GOTO akan terus memanfaatkan ekosistemnya, sambil menawarkan produk pembayaran tunda dan pinjaman dengan bersinergi dengan Bank Jago. Melalui keunggulan AI-nya, GOTO diharapkan dapat mempertahankan kualitas pinjaman. 

Gani tetap optimis terhadap GOTO karena peningkatan tingkat profitabilitasnya dengan kemungkinan mencapai laba bersih pada tahun 2026, posisi pasar yang stabil untuk ODS dan pasar pinjaman yang belum dimanfaatkan, berkat penetrasi aplikasi GoPay yang terus meningkat serta sinergi dalam ekosistem.  

Christopher memproyeksikan pendapatan GOTO pada tahun 2026 mencapai Rp 18,49 triliun. Dia juga memproyeksikan GOTO mencetak laba bersih mencapai Rp 439 miliar. Adapun pada tahun 2025 GOTO mengantongi pendapatan Rp 18,32 triliun dan masih mengalami rugi Rp 1,18 triliun.

Peter dan Christopher, dan Gani merekomendasikan buy saham GOTO dengan target harga masing-masing Rp 95 per saham, Rp 100 per saham, dan Rp 110 per saham. Risiko terhadap rekomendasi tersebut meliputi meningkatnya persaingan, hambatan ekonomi makro, dan potensi ketidakstabilan dalam tingkat kredit macet.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×