kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.549.000   34.000   1,35%
  • USD/IDR 16.778   18,00   0,11%
  • IDX 8.907   47,41   0,54%
  • KOMPAS100 1.224   6,30   0,52%
  • LQ45 864   4,23   0,49%
  • ISSI 321   0,74   0,23%
  • IDX30 442   -0,45   -0,10%
  • IDXHIDIV20 515   -1,14   -0,22%
  • IDX80 136   0,71   0,53%
  • IDXV30 142   0,77   0,54%
  • IDXQ30 141   -0,42   -0,30%

Gejolak AS-Venezuela Bikin Indeks Dolar AS (DXY) Terangkat, Tapi Dinilai Sementara


Senin, 05 Januari 2026 / 12:11 WIB
Gejolak AS-Venezuela Bikin Indeks Dolar AS (DXY) Terangkat, Tapi Dinilai Sementara
ILUSTRASI. Dolar AS (Reuters/Marcos Brindicci)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Memanasnya geopolitik Amerika Serikat dan Venezuela memicu penguatan indeks dolar Amerika Serikat (DXY). Hingga pukul 11.54 WIB indeks dollar AS di level 98,74 naik 0,32% dari hari sebelumnya. 

Analis PT Finex Bisnis Solusi Future Brahmantya Himawan melihat dari sisi DXY, sentimen risk off yang muncul dapat memberikan dukungan jangka pendek terhadap dolar sebagai aset safe haven. Namun, penguatan tersebut diperkirakan tidak berkelanjutan. 

Menurutnya, Venezuela bukan aktor sistemik dalam ekonomi global, sehingga guncangan yang ditimbulkan tidak cukup besar untuk membalik tren pelemahan dolar yang saat ini masih dibayangi ekspektasi penurunan suku bunga The Fed pada 2026, defisit fiskal AS yang tinggi, serta kekhawatiran atas independensi bank sentral. 

Baca Juga: IHSG Naik 0,65% ke 8.804 pada Sesi I Senin (5/1), BUMI, INCO, ANTM Top Gainers LQ45

"Dalam konteks ini, DXY berpotensi mengalami rebound teknikal ke kisaran 99,5–100," kata Brahmantya kepada Kontan, Senin (5/01/2026).

Lebih lanjut, Brahmantya menyampaikan meningkatnya ketidakpastian dapat menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang berpotensi bergerak melemah secara terbatas seiring fluktuasi DXY dan arus modal global. 

Disamping itu, pasar minyak masih menghadapi risiko kelebihan pasokan pada 2026, terutama dari produsen non-OPEC seperti Amerika Serikat, Brasil, dan Guyana. Oleh karena itu, kenaikan harga minyak diperkirakan bersifat moderat dan masih cenderung stagnan. 

OPEC+ dinilai memilih menjaga stabilitas pasar dan kohesi internal, sambul menunda keputusan strategis hingga pertemuan berikutnya pada 1 Februari mendatang.

Secara keseluruhan, isu Venezuela tidak diperkirakan menimbulkan guncangan besar bagi perekonomian Indonesia, tetapi tetap menjadi faktor risiko eksternal yang perlu dicermati, terutama dalam pengelolaan stabilitas nilai tukar, fiskal, dan kebijakan energi ke depan.

Selanjutnya: Warren Buffett Ungkap Alasan Dukung Penuh Greg Abel Jadi CEO Berkshire Hathaway

Menarik Dibaca: Promo HokBen Spesial Musim Hujan, Beli Hoka Ramen Gratis Bubur Hangat Khas Jepang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×