Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan kenaikan laba bersih sebesar 31,68% secara tahunan menjadi US$ 76,06 juta sepanjang tahun 2025. Pertumbuhan laba bersih tersebut ditopang dari kenaikan pendapatan INCO yang meningkat 4,18% secara tahunan menjadi US$ 990,19 juta.
Vale Indonesia menyebut, kinerja operasional sepanjang tahun lalu tumbuh cukup baik. Produksi nikel matte misalnya mencapai 72.027 metrik ton sepanjang tahun 2025, naik dari tahun 2024 sebanyak 71.311 ton.
Secara triwulanan, produksi di triwulan IV tahun 2025, INCO mencatat produksi nikel dalam matte sebesar 17.052 ton atau sekitar 12% lebih rendah dibandingkan 19.391 ton pada triwulan III-2025.
Baca Juga: Kuota RKAB dan Proyek HPAL Dorong Prospek Saham Vale Indonesia (INCO)
Penurunan tersebut disebabkan oleh kegiatan pembangunan kembali Furnace 3 yang dimulai pada November dan ditargetkan selesai pada Mei 2026. Jika dibanding kuartal IV tahun 2024, ketika produksi mencapai 18.528 ton, hasil produksi pada kuartal IV-2025 tercatat sedikit lebih rendah, namun secara keseluruhan produksi sepanjang tahun tetap lebih tinggi dibandingkan tahun
lalu.
Selain itu produksi nikel matte Vale juga terus mencatat pertumbuhan secara komersialnya terutama penjualan bijih nikel saprolit dari blok Pomalaa dan Bahodopi. Pada 2025, penjualan bijih saprolit mencapai 2.316.023 wet metric tons (wmt), dengan volume bulanan tertinggi pada Oktober sebesar 516.167 wmt.
Secara keseluruhan, Blok Bahodopi memberikan kontribusi terbesar terhadap penjualan bijih saprolit sepanjang tahun.
Pengiriman nikel matte Vale juga mencatat kenaikan yang moderat pada 2025 mencapai 73.093 ton dibandingkan 72.625 ton di 2024. "Hal ini mendukung Vale bisa mempertahankan EBITDA yang solid sebesar US$ 228,2 juta sepanjang tahun lalu, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Direktur & Chief Financial Officer Vale Indonesia, Rizky Putra dalam keterbukaan informasi di BEI.
Secara triwulanan, perusahaan ini membukukan EBITDA sebesar US$ 61,9 juta, turun 17% dari triwulan sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh lebih rendahnya volume produksi.
Adapun harga realisasi rata-rata nikel matte pada tahun 2025 tercatat sebesar US$ 12.157 per ton, turun 7% dibandingkan US$ 13.086 per ton pada tahun sebelumnya.
Baca Juga: Cuma Dapat Kuota Nikel 30%, Cek Rekomendasi Saham Vale Indonesia (INCO)
"Meskipun berada dalam kondisi harga yang lebih lemah, peningkatan tingkat payability nikel matte yang mulai berlaku pada Juli tahun lalu, serta volume pengiriman yang lebih tinggi, mendorong kenaikan total pendapatan,” terang Rizky.
Secara triwulanan, pendapatan mencapai US$ 284,8 juta, naik 2% dibandingkan triwulan sebelumnya, didorong oleh pemulihan harga nikel yang moderat. "Hal ini menegaskan komitmen kuat perusahaan bersama para pemegang saham dalam menghadapi kondisi pasar yang menantang serta keyakinan terhadap prospek jangka panjang industri,” tutur Rizky.
Dari sisi biaya, meskipun INCO telah melaksanakan pemeliharaan besar pada salah satu furnace dan berhasil mempertahankan unit biaya kas penjualan yang kompetitif sebesar US$ 9.339 per ton pada tahun 2025, sedikit lebih rendah dibandingkan US$ 9.374 per ton pada tahun sebelumnya.
Peningkatan ini mencerminkan disiplin biaya yang kuat serta menghasilkan tingkat biaya kas tahunan terendah dalam empat tahun terakhir, turun dari sekitar US$ 11.201 per ton pada tahun 2022.
Sementara itu, unit biaya kas penjualan untuk bisnis bijih nikel Vale Indonesia tetap stabil pada kisaran US$ 17–US$ 19 per ton, termasuk biaya royalti dan logistik untuk bijih saprolit campuran.
Angka ini mencerminkan bijih yang sepenuhnya bersumber dari blok Bahodopi, mengingat penjualan dari blok Pomalaa masih terbatas pada kegiatan pengambilan bulk sampling test. Aktivitas penambangan penuh di Pomalaa diperkirakan dimulai pada tahun 2026.
Vale Indonesia juga memaparkan, laba bersih yang meningkat 32% secara tahunan menjadi US$ 76,1 juta mencerminkan perbaikan operasional yang konsisten, level produksi yang lebih kuat, serta pendekatan yang disiplin dalam efisiensi biaya.
Pada triwulan 4 tahun lalu, konsumsi HSFO, diesel, dan batu bara menurun sejalan dengan volume produksi yang lebih rendah, seiring dimulainya pembangunan kembali Furnace 3 sebagai upaya untuk menjaga kapasitas produksi di masa depan dan memastikan keselamatan operasional. Selama triwulan tersebut, harga HSFO turun sebesar 4%, sementara harga diesel dan batu bara masingmasing mengalami kenaikan moderat sebesar 6% dan 1%.
Baca Juga: Rebound Harga Nikel Berpeluang Redam Dampak Pemangkasan Kuota Vale Indonesia (INCO)
Sepanjang tahun, Vale Indonesia mengalokasikan sekitar US$ 485,9 juta untuk belanja modal, meningkat 46% dibandingkan US$ 332,1 juta pada tahun sebelumnya.
Peningkatan ini terutama mencerminkan belanja untuk proyek-proyek pengembangan serta kebutuhan modal sustaining.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













