Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penjualan Sukuk Ritel (SR) seri SR025 mendekati akhir masa penawaran. Meski sebagian besar kuota telah terserap, laju penjualan SR025 dinilai tidak sekuat sejumlah seri SBN ritel sebelumnya.
SR025 ditawarkan hingga Rabu, 16 September 2026 pukul 12.00 WIB. Melansir data terbaru Bibit.id pada Senin (14/9) pukul 17.20 WIB, SR025-T3 telah menyerap sekitar Rp 21,43 triliun atau 93,2% dari total kuota Rp 23 triliun.
Sementara SR025-T5 telah terserap sekitar Rp 4,12 triliun atau 68,6% dari total kuota Rp 6 triliun.
Dengan demikian, total penjualan SR025 telah mencapai sekitar Rp 25,54 triliun atau sekitar 88,1% dari total kuota Rp 29 triliun.
Meski begitu, total kuota ini sudah bertambah, ketimbang kuota pada awal penerbitan SR025 yang ditetapkan sebesar Rp 20 triliun.
Baca Juga: Kian Mahal, Kurs Dolar AS di Bank Tembus Rp 17.700 pada Hari Ini (12/5)
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, antusiasme investor terhadap SR025 sebenarnya masih sehat, hanya tidak sampai menciptakan euforia.
Artinya, sebagian besar kuota SR025 telah terserap, terutama pada tenor tiga tahun.
"Kalau terlihat lebih lambat dibanding beberapa seri sebelumnya, menurut saya pembandingnya memang terlalu tinggi. ORI030 baru saja mencatat penjualan yang sangat kuat, sementara ST016 sebelumnya juga mendapat pemesanan lebih dari Rp 22 triliun," jelas Yusuf kepada Kontan, Senin (14/9/2026).
Yusuf menjelaskan, investor ritel sepanjang tahun ini sudah beberapa kali menempatkan dana pada ORI029, SR024, ST016, hingga ORI030. Dengan demikian, dana investor yang sama tidak dapat terus masuk ke SBN ritel dengan intensitas yang sama.
"Kondisinya juga berbeda. SR025 hadir ketika BI Rate masih 5,75 persen, rupiah berada di sekitar Rp17.500 per dolar AS, dan harga minyak masih tinggi. Dalam situasi seperti ini, rumah tangga cenderung mempertahankan likuiditas," jelasnya.
Kupon SR025 Kurang Menggigit
Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih mengatakan, perbedaan kupon dengan ORI030 menjadi salah satu faktor yang cukup menahan permintaan SR025.
ORI030 yang ditawarkan pada Juli 2026 memberikan kupon 6,90% untuk tenor tiga tahun dan 7% untuk tenor enam tahun. Sementara itu, SR025 yang ditawarkan pada Agustus 2026 memiliki kupon 6,80% untuk tenor tiga tahun dan 6,90% untuk tenor lima tahun.
"Investor ritel yang sensitif terhadap yield membuat perbedaan kupon sebesar 10 basis poin (bps) atau 0,10% untuk membatasi alokasi dana pada SR025," ujar Ratih.
Baca Juga: Setoran Pajak Digital Tembus Rp 48,11 Triliun hingga Februari 2026
Menurut Ratih, selain kupon yang lebih rendah, SR025 juga menghadapi persaingan likuiditas dari instrumen negara lainnya, terutama SRBI. SRBI tenor 12 bulan pada Agustus 2026 menawarkan yield hingga 7,37%.
Tak hanya SRBI, obligasi FR di pasar sekunder juga menjadi alternatif bagi investor berpengalaman. Ratih bilang, investor yang memiliki pemahaman lebih tinggi mengenai pasar obligasi berpotensi mengalihkan dananya ke seri FR yang diperdagangkan di pasar sekunder.
Pasalnya, tekanan terhadap harga obligasi akibat kenaikan BI Rate membuat yield to maturity (YtM) sejumlah obligasi FR menjadi lebih tinggi. Kondisi ini memberikan alternatif bagi investor yang mengejar imbal hasil lebih tinggi dibandingkan kupon SR025.
Lebih lanjut, Yusuf melihat SR025 tenor tiga tahun lebih menarik bagi investor dibandingkan tenor lima tahun. Selain komitmen dana yang lebih pendek, penyerapan kuota tenor tiga tahun juga tercatat lebih cepat. Sementara itu, selisih kupon antara tenor tiga tahun dan lima tahun hanya 0,1%.
Menjelang dua hari terakhir masa penawaran, Yusuf masih melihat peluang peningkatan pemesanan SR025. Investor yang baru memperoleh gaji, dana deposito yang jatuh tempo, atau baru memastikan ketersediaan kuota berpotensi masuk pada periode akhir.
Baca Juga: Volume Transaksi BRILink Agen Tembus Rp 420 Triliun pada Kuartal I-2026
Dengan kondisi tersebut, tenor tiga tahun masih berpeluang mendekati habis, terutama jika distribusi diperkuat pada hari terakhir. Sementara itu, tenor lima tahun diperkirakan masih menyisakan kuota lebih besar.
Yusuf pun tidak melihat peluang realistis SR025 memecahkan rekor penjualan ORI030. Namun, sisa kuota SR025 untuk dua hari terakhir dinilai bukan merupakan kondisi yang mengkhawatirkan.
SBR015 dan ST017 Lebih Menarik?
Untuk sisa 2026, setelah SR025 berakhir pada 16 September, masih ada tiga SBN ritel yang dijadwalkan ditawarkan pemerintah. SWR007 sebenarnya sudah mulai ditawarkan sejak 4 September dan akan berakhir 21 Oktober.
SBR015 mulai ditawarkan 28 September–22 Oktober 2026. ST017 menjadi salah satu SBN ritel penutup tahun, dengan periode penawaran 6 November–2 Desember 2026
Yusuf melihat prospek yang berbeda. SBR015 dan ST017 yang menggunakan skema floating with floor berpotensi lebih menarik bagi investor di tengah kondisi suku bunga yang masih tinggi dan penuh ketidakpastian.
Dengan skema tersebut, imbal hasil dapat mengikuti perkembangan BI Rate, tetapi tetap memiliki batas bawah. Karakter ini membuat investor tidak harus terlalu cepat mengunci kupon tetap seperti pada SR025.
Baca Juga: Belanja Pemerintah Melonjak 52,6%, Tembus Rp 1.059 Triliun hingga Mei 2026
Sementara itu, Yusuf memandang SWR007 tidak tepat dibandingkan secara langsung dengan SR025. Pasalnya, instrumen tersebut berkaitan dengan wakaf uang dan memiliki tujuan sosial yang lebih kuat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














