kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Emiten Hotel & Pariwisata Tersengat Momentum Libur Sekolah, Ini Rekomendasi Sahamnya


Minggu, 05 Juli 2026 / 18:25 WIB
Emiten Hotel & Pariwisata Tersengat Momentum Libur Sekolah, Ini Rekomendasi Sahamnya
ILUSTRASI. Emiten di sektor hotel dan pariwisata berpotensi mencatatkan kinerja yang lebih baik pada kuartal III-2026 seiring bergulirnya musim libur sekolah (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten di sektor hotel dan pariwisata berpotensi mencatatkan kinerja yang lebih baik pada kuartal III-2026 seiring bergulirnya musim libur sekolah yang berlangsung pada periode Juni-Juli 2026. 

Meningkatnya mobilitas masyarakat untuk berwisata diperkirakan akan mendorong tingkat okupansi hotel, kunjungan ke destinasi rekreasi, hingga permintaan terhadap berbagai layanan penunjang pariwisata.

Junior Analyst Kiwoom Sekuritas Kevin Yudha Pratama mengatakan sentimen libur sekolah tetap menjadi katalis positif bagi emiten yang memiliki eksposur langsung ke hotel, resort, dan rekreasi, terutama karena periode libur sekolah biasanya mulai akhir Juni, sehingga dampaknya dapat terlihat pada kinerja kuartal III. 

Baca Juga: Rupiah Berpeluang Menguat Terbatas, Tapi Sentimen Domestik Masih Membayangi

Secara historis, emiten yang lebih bergantung pada segmen hotel dan pariwisata seperti BUVA dan PJAA cenderung mencatatkan kenaikan pendapatan pada kuartal III dibandingkan kuartal II, seiring peningkatan okupansi, kunjungan wisata, dan aktivitas rekreasi. 

Meski begitu, Kevin berpendapat, dampak positif musim libur sekolah tidak dirasakan secara merata oleh seluruh emiten di sektor properti. Emiten yang memiliki portofolio bisnis lebih terdiversifikasi, seperti CTRA dan PWON, cenderung memperoleh manfaat yang lebih terbatas.

Pasalnya, kinerja kedua emiten tersebut tidak hanya ditopang oleh bisnis hotel, tetapi juga berasal dari penjualan properti, pendapatan berulang (recurring income), serta portofolio properti mixed-use.

Disisi lain, sentimen libur sekolah tidak selalu diikuti penguatan harga saham para emiten. Sebab, momentum libur sekolah merupakan faktor musiman yang umumnya telah diantisipasi oleh pelaku pasar. 

Baca Juga: MBG Dorong Permintaan, Saham Sektor Poultry Masih Positif di Kuartal III-2026

"Kenaikan okupansi hotel maupun traffic pengunjung memang positif secara operasional, terutama bagi emiten seperti BUVA dan PJAA, tetapi pelaku pasar tetap akan melihat apakah dampaknya cukup signifikan terhadap pendapatan dan laba setahun penuh," kata Kevin kepada Kontan, Jumat (3/7/2026).

Selain itu, bagi emiten properti yang lebih terdiversifikasi, kontribusi segmen hotel relatif lebih kecil sehingga efek positif dari musim liburan cenderung terdilusi. 

"Jadi, bukan berarti pasar tidak mengapresiasi sektor perhotelan, melainkan pelaku pasar cenderung lebih selektif dan lebih fokus pada katalis perkembangan, seperti pengembangan proyek baru, potensi peningkatan laba dan margin, valuasi, serta faktor makro seperti suku bunga dan daya beli," ucap Kevin.

Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand bilang pelaku pasar pada umumnya sudah mengantisipasi periode musiman ini jauh sebelum periode libur dimulai, sehingga efeknya sudah terdiskon di harga. Kondisi yang lebih menentukan pergerakan saham adalah faktor makro seperti suku bunga, nilai tukar, dan sentimen risk-on atau risk-off yang jauh lebih dominan dari sekadar katalis musiman. 

"Selain itu, sektor hotel dan leisure masih dianggap discretionary yang sensitif terhadap daya beli, sehingga di lingkungan daya beli kelas menengah yang tertekan saat ini, pasar lebih memilih wait and see terhadap keberlanjutan pemulihan permintaan," ujar Abida.

Dari sisi rekomendasi saham, Kevin menyarankan untuk mencermati saham BUVA, dimana secara teknikal bergerak mengkonsolidasi di area MA resistance jangka pendek. Potensi kenaikan juga didukung oleh Stochastic RSI yang mulai bergerak bullish serta MACD line yang bergerak positif dengan histogram positif. Dus, ia merekomendasikan trading buy saham BUVA dengan target harga di level Rp 860 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×