kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Saham Wahana Interfood (COCO) Melejit Jelang Eksekusi Rights Issue Rp 1,2 Triliun


Minggu, 05 Juli 2026 / 18:46 WIB
Saham Wahana Interfood (COCO) Melejit Jelang Eksekusi Rights Issue Rp 1,2 Triliun
ILUSTRASI. PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) atau Win&Co Group (COCO/dok)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) di akhir pekan lalu menjadi saham dengan kenaikan tertinggi. Saham COCO ditutup naik 25% menjadi Rp 290 per saham. Akibatnya dalam lima hari saham COCO naik 67,63%. 

Kenaikan harga saham tersebut sejalan dengan rencana emiten produsen kakao dan makanan berbasis cokelat ini yang akan melakukan aksi korporasi rights issue atau Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) III. Perusahaan ini menargetkan dana sebesar Rp 1,28 triliun dalam aksi rights issue ini.

Dalam aksi ini, COCO akan merilis saham baru sebanyak 10,68 miliar saham baru dengan harga Rp 120 per saham. Atau lebih rendah dari harga saham di pasar sekunder. 

Adapun opsi rights issue COCO adalah setiap pemegang 30 saham baru yang mengeksekusi HMETD akan memperoleh 1 waran yang memberikan hak membeli saham perusahaan dengan harga pelaksanaan Rp 800 per saham di masa mendatang.

Jika seluruh waran dieksekusi, perusahaan berpotensi memperoleh tambahan dana hingga Rp 284,75 miliar.

Baca Juga: Rupiah Berpeluang Menguat Terbatas, Tapi Sentimen Domestik Masih Membayangi

Manajemen COCO mengingatkan investor mengenai risiko dilusi yang signifikan dalam aksi korporasi ini. Pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya berpotensi mengalami dilusi hingga 75%, dan dapat meningkat menjadi 75,61% jika seluruh Waran Seri I juga terealisasi.

Aksi korporasi tersebut untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus mengejar peluang pertumbuhan baru di tengah tekanan kinerja yang masih berlangsung.

Berdasarkan prospektus ringkas per 1 Juli 2026, dana hasil rights issue sekitar Rp 1,17 triliun dari dana hasil rights issue akan digunakan untuk ekspansi usaha melalui rencana pengambilalihan PT Sari Murni Abadi (PT SMA).

Sisa dana akan dialokasikan untuk kebutuhan modal kerja, termasuk pembelian bahan baku, riset dan pengembangan produk, serta penguatan strategi pemasaran.

Langkah ini dipandang sebagai bagian dari strategi turnaround COCO untuk memperbaiki kinerja operasional sekaligus mengoptimalkan kapasitas pabrik baru di Sumedang yang memiliki kapasitas hingga 20.000 ton per tahun.

Pada 2025, COCO mencatat penjualan neto naik 2,48% menjadi Rp 165,08 miliar. Namun, perusahaan ini justru membukukan rugi bersih sebesar Rp 250,85 miliar akibat meningkatnya beban operasional, termasuk penyisihan penurunan nilai aset.

Aksi rights issue ini mendapat dukungan penuh dari pemegang saham pengendali, Mahogany Global Investment Pte. Ltd (Mahogany), yang menguasai 51,32% saham COCO.

Mahogany menyatakan komitmennya untuk mengeksekusi seluruh haknya sebanyak 5,48 miliar saham baru. Tidak hanya itu, Mahogany juga akan bertindak sebagai standby buyer yang siap menyerap sisa saham yang tidak diambil pemegang saham publik hingga maksimal 4,30 miliar saham pada harga pelaksanaan Rp 120 per saham.

Baca Juga: Emiten Hotel & Pariwisata Tersengat Momentum Libur Sekolah, Ini Rekomendasi Sahamnya

Untuk meningkatkan minat investor, COCO juga menerbitkan Waran Seri I secara cuma-cuma sebanyak maksimal 355,94 juta waran.

Jadwal Rights Issue COCO sebagai berikut:

  • Cum HMETD (Pasar Reguler & Negosiasi): 8 Juli 2026
  • Recording Date: 10 Juli 2026
  • Periode Perdagangan & Pelaksanaan HMETD: 14–21 Juli 2026
  • Penjatahan Saham Tambahan: 24 Juli 2026
  • Periode Perdagangan Waran Seri I: 14 Juli 2026 – 10 Juli 2031

Meski menghadapi tantangan industri seperti volatilitas bahan baku, COCO tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang industri cokelat nasional.

Berdasarkan data Statista (April 2026), konsumsi cokelat Indonesia diproyeksikan tumbuh rata-rata 4,13% per tahun dan mencapai 108,1 juta kilogram pada 2031.

Pertumbuhan tersebut ditopang meningkatnya kelas menengah serta perubahan gaya hidup konsumen yang mulai mengarah pada produk cokelat premium.

Dengan aksi rights issue ini, COCO menargetkan penguatan posisi bisnis tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga ekspansi ekspor ke berbagai negara termasuk China, India, hingga Turki.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×