Reporter: Dimas Andi | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penerbitan obligasi dan sukuk cukup gencar dilakukan oleh sejumlah emiten pada awal 2026. Sebagian besar emiten tersebut menjadikan surat utang sebagai instrumen untuk memenuhi kebutuhan refinancing.
PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) bakal menerbitkan surat utang senilai Rp 1,27 triliun, terdiri dari Obligasi Berkelanjutan VII Tahap III senilai Rp 1,06 triliun dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap III senilai Rp 210,1 miliar.
Suluruh dana hasil penerbitan obligasi dan sukuk akan digunakan untuk mendanai sebagian kewajiban TBIG berupa pelunasan seluruh pokok Obligasi Berkelanjutan VI Tahap V 2025 Seri A yang jatuh tempo pada 22 Februari 2026.
Baca Juga: ASLI, DPUM dan SPRE Tengah Proses Akuisisi, Begini Rekomendasi Sahamnya Sudah Melejit
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga akan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap IV 2026 senilai Rp 612,75 miliar. Seluruh dana hasil obligasi tersebut akan dipakai untuk pembayaran dipercepat atas seluruh pokok pinjaman BUMI sebesar US$ 20,45 juta atau setara Rp 347,34 miliar kepada Indies Special Opportunities III Ltd dan Indies Special Opportunities IV Ltd. Adapun sisanya akan digunakan untuk modal kerja perusahaan.
Emiten sawit, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) menawarkan surat utang senilai Rp 1,2 triliun yang terdiri dari Obligasi Berkelanjutan V Tahap II 2026 senilai Rp 672 miliar dan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap II 2026 senilai Rp 528 miliar.
Mayoritas penggunaan dana obligasi dan sukuk tersebut juga ditujukan untuk refinancing. Rinciannya, sekitar 78% dana hasil obligasi akan digunakan SMAR untuk pembayaran sebagian pokok utang bank jangka panjang sebesar Rp 520 miiar kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), sementara 99% dana hasil sukuk dipakai untuk pembayaran utang obligasi senilai Rp 520 miliar.
Belum lama ini, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) turut mencatatkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap II 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI) senilai Rp 500 miliar. Mayoritas dana obligasi ini digunakan untuk pelunasan utang obligasi senilai Rp 400,93 miliar.
Hal berbeda ditunjukkan oleh PT RMK Energy Tbk (RMKE) yang berencana terbitkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap II 2026 senilai Rp 600 miliar. Emiten jasa logistik pertambangan batubara ini menggunakan mayoritas dana obligasinya untuk pemberian pinjaman kepada anak usaha yaitu PT Royaltama Multi Komoditi Nusantara (RMKN) dan PT Royaltama Mulia Kencana Tbk (RMUK).
Awal Januari lalu, PT Bank UOB Indonesia Tbk (BBIA) turut menerbitkan Obligasi Subordinasi Berkelanjutan IV Tahap II 2026 senilai Rp 500 miliar yang ditujukan untuk meningkatkan penyaluran kredit dan menjaga ketahanan permodalan.
Baca Juga: IHSG Fluktuatif, Pasar Waran Terstruktur Tetap Tumbuh Subur
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan mengatakan, banyaknya emiten yang melakukan refinancing melalui penerbitan surat utang baru jelas ditujukan supaya mereka bisa menurunkan beban bunga sekaligus memperpanjang tenor utang. Emiten tersebut juga memanfaatkan momentum suku bunga acuan yang mulai stabil dan ekspektasi penurunan pada masa depan untuk memperoleh tingkat bunga yang lebih rendah.
"Refinancing lewat obligasi rupiah juga membantu dalam mengurangi risiko volatilitas kurs, terutama bagi emiten yang sebelumnya memiliki pinjaman valas," ujar dia, Rabu (28/1/2026).
Sisi positif penerbitan surat utang untuk refinancing adalah struktur utang emiten menjadi lebih sehat dan memperlonggar arus kas. Sisi negatifnya, total utang yang ditanggung emiten pada dasarnya tetap tinggi, sehingga leverage masih perlu dicermati, khususnya jika kinerja operasional emiten belum pulih signifikan.
Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus memperkirakan, penerbitan obligasi atau sukuk bakal tetap ramai selepas Januari 2026, terlebih lagi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) berpotensi kembali turun. Hal ini menjadi katalis positif bagi emiten yang membutuhkan pendanaan dengan bunga lebih rendah, baik untuk keperluan refinancing maupun ekspansi.
Kondisi pasar saham yang rawan mengalami gejolak juga memicu inisiatif emiten untuk menggalang pendanaan melalui penerbitan surat utang. "Apabila ada emiten yang ingin mencari alternatif pendanaan melalui pasar sahamnya, rasa-rasanya mereka akan mencoba menerbitkan obligasi terlebih dahulu," kata dia, Rabu (28/1).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan, pihak emiten tentu bakal tetap berhati-hati dalam menerbitkan obligasi pada 2026 sekalipun sudah memasuki era suku bunga yang lebih rendah. Sebab, ada faktor lain yang cukup krusial bagi emiten penerbit obligasi, yaitu peringkat kredit dari lembaga pemeringkat nasional maupun internasional.
"Penerbit obligasi yang mendapat rating positif akan mendapat kepercayaan tinggi dari investor dan bisa memperluas basis permintaan di pasar," imbuhnya, Rabu (28/1/2026).
Baca Juga: Target SBN Ritel 2026 Hingga Rp170 T Dinilai Realistis, Ini Katalis Penopangnya
Dari sekian emiten penerbit obligasi baru-baru ini, Nafan merekomendasikan buy on weakness saham BUMI dan TOBA dengan target harga masing-masing di level Rp 520 per saham dan Rp 1.075 per saham.
Sementara itu, David menyarankan agar investor yang berinvestasi di saham penerbit obligasi untuk selalu mencermati tujuan penggunaan dana, perubahan rasio utang, serta dampak penerbitan instrumen tersebut terhadap laba bersih dan arus kas.
Selanjutnya: Akvindo: Dukungan Pemerintah Penting untuk Mengurangi Kebiasaan Merokok
Menarik Dibaca: 4 Tips Skincare Member Blackpink, Rahasia Wajah Glowing Jisoo hingga Jennie
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













