Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menargetkan penghimpunan dana dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel sepanjang 2026 di kisaran Rp 150 triliun hingga Rp 170 triliun, sejalan dengan rencana penerbitan delapan seri SBN Ritel pada tahun ini.
Target tersebut dinilai masih realistis untuk dicapai, ditopang oleh kombinasi faktor moneter, fiskal, dan struktural yang mendukung minat investor ritel.
Head of Investment Specialist Sinarmas Asset Management Domingus Sinarta Ginting menilai, tren penurunan suku bunga acuan menjadi katalis utama.
Meski Bank Indonesia (BI) tetap berhati-hati demi menjaga stabilitas rupiah, pasar masih membuka peluang pelonggaran lanjutan.
Baca Juga: Penyesuaian Tarif Tol Bisa Pacu Kinerja Jasa Marga (JSMR), Ini Rekomendasi Sahamnya
Selain itu, insentif pajak kupon SBN Ritel yanh sebesar 10% membuat imbal hasil bersih tetap kompetitif dibandingkan deposito perbankan.
“Basis investor ritel juga terus membesar, terutama dari kalangan milenial dan Gen Z, ditopang kemudahan akses melalui kanal distribusi digital serta kondisi likuiditas yang masih cukup longgar dari sisi kebijakan fiskal dan moneter,” ujar Domingus kepada Kontan, Selasa (27/1/2026).
Dari sisi imbal hasil, Domingus memperkirakan kupon delapan seri SBN Ritel yang akan diterbitkan sepanjang 2026 cenderung mengikuti arah penurunan suku bunga dan yield pasar.
Namun, penurunannya diperkirakan tidak akan berlangsung mulus mengingat BI masih mempertimbangkan stabilitas nilai tukar dan ketidakpastian global.
Bagi investor ritel, Domingus menyarankan strategi dapat disesuaikan dengan pandangan terhadap arah suku bunga.
Jika suku bunga diperkirakan turun bertahap, mengunci kupon lebih awal, terutama untuk tenor panjang, dinilai menguntungkan dari sisi pendapatan tetap sekaligus membuka peluang capital gain di pasar sekunder.
Namun, jika ketidakpastian global dan risiko nilai tukar masih tinggi, strategi laddering dengan membeli SBN Ritel secara bertahap sepanjang tahun dinilai lebih aman dibandingkan menempatkan dana sekaligus pada satu seri.
Di sisi lain, Plt Direktur Surat Utang Negara (SUN) Kementerian Keuangan Novi Puspita Wardani mencermati ada perubahan tren signifikan dalam dua tahun terakhir.
Berdasarkan data statistik, sekitar 90% investor ritel kini memilih untuk menahan kepemilikan SBN hingga jatuh tempo (hold to maturity), mencerminkan pergeseran strategi investasi ke arah yang lebih konservatif dan berorientasi jangka panjang.
"Saya nggak tahu apakah karena investor melihat value dari SBN ini atau yang mereka melihat ini sebagai diversifikasi investasi. Sehingga dana aman yaudah biarin aja disitu. Di sisi lain, mereka juga mainin aja instrumen yang ga aman," ujar Novi di Aroem Resto, Rabu (28/1/2026).
Adapun delapan seri SBN ritel yang akan diterbitkan pada 2026 meliputi ORI029 dengan masa penawaran 26 Januari–19 Februari 2026 dengan target dana yang dihimpun sebesar Rp 25 triliun, SR024 pada 6 Maret–15 April 2026, ST016 pada 8 Mei–3 Juni 2026, ORI030 pada 6–30 Juli 2026, SR025 pada 21 Agustus–16 September 2026, SWR007 pada 4 September–21 Oktober 2026, SBR015 pada 28 September–22 Oktober 2026, serta ST017 pada 6 November–2 Desember 2026.
Baca Juga: Komitmen Terapkan ESG, Cek Rekomendasi Saham Jasa Marga (JSMR)
Selanjutnya: 4 Kandungan Skincare Pengganti Merkuri yang Terbukti Ampuh Mencerahkan Kulit
Menarik Dibaca: 4 Kandungan Skincare Pengganti Merkuri yang Terbukti Ampuh Mencerahkan Kulit
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













