kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45700,06   2,33   0.33%
  • EMAS938.000 -0,85%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Dua pekan asing catatkan net buy, ini rekomendasi analis


Senin, 09 Desember 2019 / 18:00 WIB
Dua pekan asing catatkan net buy, ini rekomendasi analis
ILUSTRASI. Investor mengamati pergerakan saham emiten di Bursa Efek Indonesia.

Reporter: Benedicta Prima | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asing mulai melakukan aksi beli bersih di bursa saham Indonesia. Bloomberg mencatat sejak Senin (25/11) hingga Jumat (6/12), aksi beli bersih asing (net foreign buy) di seluruh pasar mencapai Rp 996,48 miliar.

Berdasarkan data RTI, saham yang paling banyak dilirik asing di pasar reguler dalam satu pekan terakhir antara lain PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) mencapai Rp 224,8 miliar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencapai Rp 165,9 miliar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencapai Rp 102,5 miliar, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mencapai Rp 52,8 miliar dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) mencapai Rp 44 miliar.

Analis MNC Sekuritas Edwin Sebayang mengatakan aksi tersebut terjadi karena asing tengah memanfaatkan momentum kenaikan pasar dalam negeri yang secara siklus pada Desember hingga Februari mengalami kenaikan.

Baca Juga: Asing mulai catatkan beli bersih, begini penyebabnya menurut analis

“Perkiraan saya market akan meningkat signifikan setelah minggu depan, terus rally sampai Januari-Februari 2020,” jelas Edwin saat ditemui di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (9/12).

Dengan siklus tersebut, dia menyarankan investor untuk ikut masuk. Pasalnya ke depan pasar juga diprediksi positif. 

Menurut Edwin, setelah naik hingga Februari 2020, pasar akan cenderung flat dan kembali meningkat setelah September 2020. Edwin memproyeksikan hingga akhir tahun 2020 IHSG akan berada di level 6.272-6.845.

Optimisme pasar tersebut juga didukung oleh tren pemangkasan suku bunga oleh bank sentral. 

Adapun, BI-7DRRR saat ini berada di level 5% atau turun 1% sejak awal tahun. Menurut Edwin, kondisi tersebut mendorong investor untuk masuk ke pasar saham lantaran penurunan suku bunga biasanya akan diikuti oleh penurunan kupon obligasi. 

“Dan mereka akan mencari saham yang memberikan dividend yield tinggi,” jelas Edwin.

Edwin menyarankan sektor perbankan, rokok, energi, telekomunikasi, logam, timah dan properti. 

Edwin menilai saham rokok PT H M Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) menarik diakumulasi lantaran menawarkan dividend yield yang tinggi. 

Baca Juga: IHSG masih ditopang window dressing pada perdagangan esok

Kemudian untuk saham perbankan, dia menyarankan BBCA, BMRI, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Untuk sektor energi, Edwin menyarankan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) lantaran perusahaan ini terus melakuka ekspansi. Melalui anak usahanya PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) baru saja meresmikan pabrik bernilai US$ 380 juta. Selain itu, BRPT juga tengah menjajaki peluang mengakuisisi aset panas bumi (geothermal).

Selanjutnya adalah saham TLKM, PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Indosat Tbk (ISAT), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Untuk sektor komoditas, Edwin menyarankan PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Timah Tbk (TINS).

Sedangkan untuk sektor properti, dia menyarnakan saham PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA).




TERBARU

Close [X]
×