Reporter: Vivit Dewi | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan mata uang komoditas terhadap dolar AS menunjukkan tren yang bervariasi di tengah perbedaan kebijakan moneter bank sentral dan dinamika pasar global. Di antara dolar Australia, dolar Kanada, dan dolar Selandia Baru, dolar Australia dinilai memiliki prospek paling menarik hingga akhir 2026.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, perbedaan kebijakan suku bunga bank sentral menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan ketiga mata uang tersebut. Meskipun sama-sama mengarah pada pengetatan kebijakan moneter, tingkat suku bunga dan kecepatan perubahan kebijakan masing-masing bank sentral berbeda.
"Perbedaan kebijakan memang berpengaruh, tetapi perbedaan tingkat dan kecepatan, bukan arah, karena keempat bank sentral sama-sama condong mengetat," ujar Sutopo kepada Kontan, Senin (2/11/2026).
Sebagai gambaran, bank sentral Australia (RBA) diperkirakan menaikkan suku bunga menjadi 4,85% dari sebelumnya 4,60%. Sementara itu, Bank of Canada (BoC) telah menaikkan suku bunga menjadi 2,5%. Adapun Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) mempertahankan suku bunga di level 2,75%, meskipun memberikan sinyal potensi kenaikan.
Perbedaan kondisi tersebut tercermin dari kinerja masing-masing mata uang di pasar global. Dolar Australia diperdagangkan di kisaran US$ 0,70 per dolar AS atau menguat sekitar 7% dalam setahun. Sebaliknya, dolar Selandia Baru berada di sekitar US$ 0,561 per dolar AS dan terkoreksi sekitar 1,5% dalam periode yang sama.
Baca Juga: Penjualan INDF dan ICBP Tumbuh, Tapi Laba Bersih Kompak Turun Begini Prospek Sahamnya
Sementara itu, pasangan mata uang USD/CAD bergerak di kisaran 1,40. Dolar Kanada tercatat menguat sekitar 2% dalam sebulan.
Di pasar domestik, ketiga mata uang tersebut juga mencatatkan kenaikan terhadap rupiah. Kurs silang dolar Australia berada di sekitar Rp 12.760, dolar Kanada sekitar Rp 12.980, dan dolar Selandia Baru sekitar Rp 10.200.
Penguatan kurs silang tersebut turut ditopang pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang mencapai sekitar 9% dalam setahun, hingga berada di kisaran Rp 18.150 per dolar AS.
Di sisi lain, keputusan The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga di level 4% dinilai belum memberikan tekanan signifikan terhadap mata uang komoditas. Pasalnya, keputusan tersebut telah sesuai dengan ekspektasi pasar.
Meski demikian, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember diperkirakan mencapai sekitar 75%. Selain itu, indeks dolar AS (DXY) yang berada di kisaran 101,7 masih menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan mata uang komoditas.
Faktor lain yang turut menopang mata uang komoditas adalah harga minyak yang bertahan di sekitar US$ 100 per barel. Kondisi ini menguntungkan dolar Kanada karena Kanada merupakan salah satu negara produsen minyak utama dunia.
Meredanya tekanan jual pada saham teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga memberikan sentimen positif. Berkurangnya permintaan terhadap aset safe haven membuka ruang bagi mata uang komoditas untuk bergerak lebih kuat.
Dolar Australia paling menarik hingga akhir 2026
Dari ketiga mata uang tersebut, Sutopo menilai dolar Australia memiliki prospek paling menarik. Salah satu faktor pendukungnya adalah tingkat suku bunga Australia yang relatif lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat sehingga menawarkan potensi keuntungan dari selisih bunga atau carry trade.
"Dari ketiganya, AUD paling menarik karena hanya AUD yang suku bunganya jelas di atas AS, sehingga memberi keuntungan selisih bunga (carry). Risikonya, kenaikan RBA besok sudah hampir sepenuhnya diperhitungkan dan disebut sebagai siklus puncak,” tuturnya.
Baca Juga: SSMS Tebar Dividen Interim Rp 500 Miliar, Catat Jadwalnya
Untuk prospek hingga akhir 2026, dolar Australia diperkirakan berpeluang menguat menuju US$ 0,71 per dolar AS. Dolar Selandia Baru juga berpotensi naik ke level US$ 0,57 per dolar AS.
Sementara itu, pasangan USD/CAD diproyeksikan bergerak menuju level 1,39, yang mencerminkan potensi penguatan dolar Kanada terhadap dolar AS.
Dengan asumsi nilai tukar rupiah bertahan di kisaran Rp 18.150 per dolar AS, kurs silang ketiga mata uang tersebut diperkirakan berada pada rentang berikut:
-
Dolar Australia: Rp 12.800–Rp 12.900.
-
Dolar Selandia Baru: Rp 10.250–Rp 10.350.
-
Dolar Kanada: Rp 13.000–Rp 13.050.
Meski demikian, prospek penguatan mata uang komoditas masih menghadapi sejumlah risiko. Salah satunya adalah potensi penguatan dolar AS apabila The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Desember.
Selain itu, pergerakan dolar Selandia Baru akan dipengaruhi oleh perkembangan data ketenagakerjaan dan arah kebijakan suku bunga RBNZ. Adapun dolar Kanada masih bergantung pada dinamika harga minyak dunia serta perkembangan negosiasi tarif perdagangan dengan Amerika Serikat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














