Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks utama Wall Street dibuka melemah pada awal perdagangan Senin (28/9/2026), setelah Presiden Donald Trump menolak usulan Iran untuk mengakhiri konflik, yang memicu lonjakan harga minyak mentah, menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi, dan mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Treasury.
Mengutip Reuters, pada bel pembukaan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 180,1 poin, atau 0,35% menjadi 51.648,48. Indeks S&P 500 turun 21,7 poin, atau 0,28%, ke level 7.721,7, sementara Nasdaq Composite turun 133,0 poin, atau 0,49%, menjadi 26.935,762.
Sentimen negatif pasar secara keseluruhan sedikit terimbangi oleh kenaikan saham Nvidia sebesar hampir 2% setelah raksasa cip tersebut mengumumkan otorisasi pembelian kembali saham senilai US$ 150 miliar, yang tercatat sebagai peningkatan nilai pembelian kembali saham terbesar yang pernah dilakukan perusahaan tersebut.
Baca Juga: Rupiah Kembali Dekati Rp18.000, Ini Faktor yang Menekannya
Iran mengumumkan proposal perdamaian pada Sidang Umum PBB pekan lalu di New York, seraya menyatakan bahwa proposal tersebut telah disampaikan kepada Amerika Serikat melalui mediator Qatar.
Meskipun Trump mengatakan bahwa ia menolak tawaran tersebut, ia mengungkapkan kepada Axios pada hari Minggu bahwa ia mengharapkan para negosiator AS untuk melanjutkan pembicaraan pekan ini.
Harga minyak mentah melonjak 2% menjadi sekitar US$ 107 per barel. Data LSEG menunjukkan bahwa korelasi bergulir 60 hari antara harga minyak dan kontrak berjangka Wall Street telah mencapai level tertinggi sejak akhir Mei; hal ini mengindikasikan bahwa pasar energi dan ekuitas menjadi semakin sensitif terhadap faktor-faktor makro yang sama, termasuk potensi dampak ekonomi dan inflasi akibat konflik yang berkepanjangan.
Baca Juga: IHSG Kembali Melemah, Investor Waspadai Tekanan Rupiah dan Kebijakan The Fed
Kekhawatiran tersebut juga menekan pasar obligasi pemerintah AS (Treasuries), sehingga mendorong imbal hasil obligasi tenor panjang ke level tertinggi baru dalam beberapa dekade.
Saham perusahaan tambang logam mulia yang terdaftar di bursa AS termasuk di antara saham yang mengalami penurunan terbesar, karena kenaikan imbal hasil obligasi menekan harga aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding assets). Saham Gold Fields turun 13,3% dalam perdagangan pre market, sementara Harmony Gold dan Endeavour Silver masing-masing turun 6% dan 5%.
"Saat ini kita berada dalam situasi pasar yang didominasi oleh satu faktor, di mana harga minyak memengaruhi tingkat suku bunga, dan suku bunga menjadi penggerak utama bagi seluruh kelas aset," ujar Mohit Kumar, seorang ekonom di Jefferies.
Investor sedikit lega di sektor perdagangan menyusul berakhirnya pertemuan puncak AS-China pekan lalu, di mana kedua mitra dagang tersebut sepakat untuk memangkas tarif atas barang impor senilai US$ 60 miliar dari masing-masing pihak. Negara-negara tersebut juga menyepakati perpanjangan gencatan senjata perdagangan selama dua bulan hingga 10 Januari.
Baca Juga: BEI Ungkap Turunnya Saham Gocap Bukan Jadi Pemicu Pelemahan IHSG
Seiring berjalannya pekan ini, perhatian akan tertuju pada sejumlah indikator ekonomi penting di tengah kondisi di mana para pelaku pasar memperhitungkan adanya peluang sebesar 68% bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga setidaknya sebesar 25 basis poin pada bulan Oktober, sebagaimana ditunjukkan oleh perangkat FedWatch milik CME Group.
Namun, Thomas Hayes, ketua Great Hill Capital, menyatakan ketidaksetujuannya terhadap kenaikan suku bunga pada bulan Oktober.
"Setiap kejadian historis di mana The Fed menaikkan suku bunga saat menghadapi guncangan pasokan jangka pendek selalu berakhir buruk. Dan The Fed bersikap tidak sabar. Seharusnya mereka tidak menaikkan suku bunga pada bulan September. Mereka berpotensi melakukan kesalahan yang sama pada bulan Oktober," ujarnya.
Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) untuk bulan Agustus dan laporan Non-Farm Payrolls untuk bulan September yang akan dirilis pekan ini dapat membantu investor memperkirakan arah kebijakan moneter The Fed tahun ini.
Para pembuat kebijakan Michelle Bowman, Lisa Cook, dan Thomas Barkin dijadwalkan untuk berbicara pada hari Senin ini dan kemungkinan akan menegaskan kembali pergeseran kebijakan bank sentral ke arah yang lebih hawkish sejak pertemuan sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














