kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45670,77   -28,01   -4.01%
  • EMAS926.000 0,22%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Dolar AS menguat, Poundsterling diprediksi bakal semakin tertekan


Minggu, 24 November 2019 / 15:34 WIB
Dolar AS menguat, Poundsterling diprediksi bakal semakin tertekan
ILUSTRASI. Karyawan menghitung mata uang dolar Amerika Serikat di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta Pusat, Senin (28/1/2019). Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi menguat 60 poin menjadi Rp14.033 pe

Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Yoyok

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan dolar AS yang cenderung menguat sukses menekan pergerakan poundsterling, hal ini membuat pasangan GBP/USD masih akan tertekan. Apalagi secara teknikal, pergerakan pasangan kurs tersebut cenderung berada dalam area bearish

Analis PT. Rifan Financindo Berjangka Puja Purbaya Sakti mengungkapkan,mata uang dollar AS terangkat setelah data menunjukkan aktivitas pabrik dan layanan AS membaik sebagai tanda ketahanan berkelanjutan ekonomi AS. Apalagi, dollar AS menanjak 0,24% pada level 98,23 terhadap enam mata uang rival utama. 

Baca Juga: Mengintip nasib rupiah di pekan terakhir November

Mengutip Bloomberg, pada perdagangan akhir pekan (22/11) pasangan mata uang GBP/USD ditutup negatif dengan turun sebanyak 0,62% di level 1,2834, akibat dolar AS menguat terhadap sekeranjang mata uang rival utamanya di akhir pekan lalu. 

Sementara itu, kabar positif kembali datang dari perdagangan AS-China. Presiden dari kedua negara tersebut sama-sama memberikan komentar bernada optimistis akan tercapainya kesepakatan.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa China telah mengundang para petinggi bidang perdagangan AS termasuk Wakil Dagang AS Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin ke Beijing untuk membahas putaran baru perundingan langsung. 

Baca Juga: Optimisme dagang AS dan China muncul lagi, euro menguat

Laporan tersebut muncul sehari setelah Reuters mengatakan kesepakatan perdagangan sebagian mungkin tidak akan ditandatangani tahun ini.

Para pejabat China mengisyaratkan bahwa Beijing dan Washington memberi sinyal bahwa kedua pihak hampir menandatangani kesepakatan awal bulan ini, Presiden AS Donald Trump berkomentar pekan lalu dengan mengatakan tidak setuju untuk menurunkan tarif semula sehingga mengurangi harapan kesepakatan perdagangan terwujud lebih cepat. 

Sementara itu, Presiden China Xi Jinping mengatakan bahwa Beijing ingin segera mencapai kesepakatan dagang dengan Washington, serta terus berupaya untuk menghindari perang dagang. Namun, Xi tetap menjaga harga diri negaranya dengan menegaskan bahwa mereka juga tak gentar untuk membalas apabila langkah itu diperlukan. 

Baca Juga: Jadi orang terkaya di dunia, Bill Gates memiliki kekayaan bersih US$ 110 miliar

Sedangkan dari pihak AS, Presiden Donald Trump mengatakan pada Fox News bahwa kesepakatan dengan China sudah sangat dekat. Ia juga menyiratkan kemungkinan untuk tidak menandatangani Undang-Undang yang mendukung Hong Kong, jika hal itu diperlukan untuk mendukung tercapainya kesepakatan dengan Beijing. 

Disisi lain, mata uang Poundsterling merosot ke level terendah terhadap Dollar AS setelah hasil survei Purchasing Managers' Index (PMI) untuk sektor manufaktur dan jasa sama-sama dilaporkan mengalami kontraksi. Kekhawatiran tentang pemilu bulan depan juga mulai merebak kembali, sehingga semakin menekan posisi Poundsterling terhadap rival utamanya Dollar AS. 

Sebagaimana diketahui, ada tiga skenario untuk hasil pemilu Inggris pada tanggal 12 Desember mendatang. Skenario pertama, partai Konservatif memenangkan kursi mayoritas di parlemen Inggris. Skenario ini merupakan rute terbaik yang berpotensi bullish bagi Poundsterling. 

Baca Juga: Asyik, iPhone 11, 11 Pro, dan 11 Pro Max resmi masuk Indonesia 6 Desember 2019

Sedangkan, dua skenario lain dipandang negatif bagi Poundsterling, yaitu kemungkinan parlemen menggantung karena tak ada partai yang berhasil memenangkan kursi mayoritas, serta partai Labour memenangkan kursi mayoritas. Pasalnya, partai Labour bercita-cita untuk menggelar referendum Brexit kedua, serta memaparkan arah kebijakan yang dianggap terlalu sosialis dan anti-pasar.

Secara teknikal, grafik range daily menunjukkan indikator Moving Average Exponential (EMA) melebar dengan arah kurs turun, diikuti Vortex Indicator (VI) dengan kondisi red over blue yang melebar di mana arah kurs berpotensi turun.

Selanjutnya untuk indikator True Strengh Indicator (TSI) berada di area + 19,02 yang menunjukkan arah harga turun. "Secara analisa teknikal, pasangan GBP/USD masih berpotensi lanjutkan koreksi pada perdagangan selanjutnya," jelas Sakti kepada Kontan, Minggu (24/11).

Baca Juga: Kesepakatan dagang AS dan China belum jelas, rupiah sepekan ini cenderung melemah

Untuk itu, dia merekomendasikan trading sell atau jual untuk pasangan GBP/USD, selama harga di bawah 1,2770 dengan level resistance antara 1,2902, 1,2968 dan 1,3074 dan support antara 1,2796, 1,2756 dan 1,2650.




TERBARU

Close [X]
×