kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.613.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 18.104   69,00   0,38%
  • IDX 6.162   -23,32   -0,38%
  • KOMPAS100 805   -1,99   -0,25%
  • LQ45 611   -1,19   -0,19%
  • ISSI 213   -0,56   -0,26%
  • IDX30 344   -0,97   -0,28%
  • IDXHIDIV20 425   -1,85   -0,43%
  • IDX80 92   -0,14   -0,15%
  • IDXV30 116   -0,13   -0,11%
  • IDXQ30 110   -0,29   -0,27%

Dolar AS Masih Perkasa, Yen dan Franc Swiss Diproyeksi Terus Melemah


Selasa, 28 Juli 2026 / 13:21 WIB
Dolar AS Masih Perkasa, Yen dan Franc Swiss Diproyeksi Terus Melemah
ILUSTRASI. Forex - Yen Jepang (REUTERS/Dado Ruvic)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan indeks dolar Amerika Serikat (DXY) diperkirakan akan berlanjut hingga akhir 2026.

Di sisi lain, mata uang safe haven seperti yen Jepang (JPY) dan franc Swiss (CHF) masih berpotensi melanjutkan pelemahannya seiring masih lebarnya selisih suku bunga dengan Amerika Serikat (AS).

Melansir Trading Economics pada Selasa (28/7) pukul 13.05 WIB, indeks dolar AS (DXY) berada di level 101,53 atau menguat 0,36% sepekan terakhir.

Kemudian valas yen Jepang di kisaran 163,74 per dolar AS atau melemah 0,34% dan 4,46% Ytd. Ada pun franc Swiss di level 0,819 per dolar AS atau melemah 0,82% sepekan dan 3,32% Ytd.

Baca Juga: Proyeksi Valas 2026: Dolar AS Menguat, Yen Mulai Menarik Dikoleksi

Analis mata uang dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, mengatakan penguatan dolar AS saat ini ditopang oleh bertahannya kebijakan moneter ketat atau hawkish Federal Reserve (The Fed), di tengah ketahanan ekonomi Amerika Serikat dan kembali meningkatnya tekanan inflasi.

“Ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga Fed tergerus, yang mempertahankan imbal hasil (yield) US Treasury tetap menarik. Sebaliknya, pelemahan signifikan terjadi pada yen Jepang dan Franc Swiss,” ujar Wahyu kepada Kontan, Senin (27/7/2026).

Di sisi lain, pelemahan yen Jepang dan franc Swiss dipengaruhi oleh masih lebarnya selisih suku bunga dengan AS. Meskipun Bank of Japan (BoJ) telah mengakhiri era suku bunga negatif dan menaikkan suku bunga acuannya secara bertahap, perbedaannya dengan suku bunga AS masih dinilai terlalu lebar.

Selain itu, suku bunga Swiss yang relatif rendah juga membuat franc Swiss tetap tertekan.

Wahyu menjelaskan kondisi tersebut mendorong maraknya strategi carry trade, yakni investor meminjam dana dalam yen maupun franc Swiss untuk diinvestasikan pada aset berimbal hasil lebih tinggi, terutama aset berbasis dolar AS. Akibatnya, tekanan terhadap kedua mata uang tersebut terus berlanjut.

Baca Juga: DXY Tergelincir, Intip Valas Prospektif untuk Dikoleksi

Khusus yen Jepang, kenaikan harga energi global turut memperburuk tekanan karena Jepang masih sangat bergantung pada impor energi. Kondisi tersebut memperlemah neraca perdagangan sekaligus menekan nilai tukar yen.

Menurut Wahyu, status yen dan franc Swiss sebagai aset safe haven saat ini belum mampu menopang penguatan nilainya. Pasalnya, arus modal lebih banyak dipengaruhi oleh perbedaan tingkat suku bunga dibandingkan meningkatnya permintaan terhadap aset aman.

"Dalam situasi saat ini, dolar AS bertindak ganda sebagai mata uang dengan imbal hasil tinggi sekaligus aset safe haven utama," katanya.

Ia memperkirakan pelemahan yen dan franc Swiss masih berpotensi berlanjut secara terbatas hingga kuartal IV-2026, terutama apabila harga energi tetap tinggi dan The Fed kembali menunda pelonggaran kebijakan moneternya.

Meski demikian, Wahyu mengingatkan bahwa kedua mata uang tersebut tetap berpeluang mengalami pembalikan arah yang tajam apabila otoritas Jepang melakukan intervensi di pasar valuta asing atau ketika ekspektasi penurunan suku bunga The Fed kembali menguat menjelang akhir tahun.

Baca Juga: Menakar Durasi Tren Pelemahan Valas Asia dan Indikator Penentu pada Semester II-2026

Dari sisi valuasi, Wahyu menilai yen Jepang saat ini sudah berada di area yang sangat undervalued berdasarkan indikator Real Effective Exchange Rate (REER). Namun, ia mengingatkan kondisi tersebut belum cukup menjadi alasan untuk langsung mengoleksi yen maupun franc Swiss.

Ia menyarankan investor menghindari strategi bottom fishing atau membeli hanya karena menganggap valuasi kedua mata uang tersebut sudah murah. Selama tren penguatan dolar AS belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat, risiko pelemahan lanjutan masih tetap terbuka.

Adapun hingga akhir 2026, Wahyu memproyeksikan indeks dolar AS bergerak di kisaran 98,50-104,50. Sementara pasangan USD/JPY diperkirakan berpotensi menguji level 166,00-168,00 sebelum berpeluang terkoreksi ke area 155,00-158,00 pada akhir tahun.

Di saat yang sama, USD/CHF diperkirakan menguji area 0,8250-0,8500 sebelum kembali berkonsolidasi di kisaran 0,7900-0,8150.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×