kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   11.000   0,41%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Dolar AS kembali perkasa, sentimen dalam negeri tak kuat menyokong rupiah


Rabu, 02 September 2020 / 19:24 WIB
ILUSTRASI. Rabu (2/9), kurs rupiah spot melemah 1,18% ke Rp 14.745 per dolar AS.


Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sentimen positif yang menyelimuti nilai tukar rupiah meredup. Dolar Amerika Serikat (AS) berbalik menguat terhadap rupiah. 

Rabu (2/9), kurs rupiah spot melemah 1,18% ke Rp 14.745 per dolar AS. Kompak, kurs tengah Bank Indonesia (BI) juga mencatat rupiah melemah 1,29% ke Rp 14.804 per dolar AS. 

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, rupiah ikut terseret melemah karena nilai tukar kawasan regional juga tertekan atas dolar AS yang bergerak menguat sejak awal perdagangan hari ini. "Penguatan dolar AS tersebut dipicu oleh membaiknya data indeks aktivitas manufaktur AS periode Agustus yang dirilis kemarin malam," kata Ariston, Rabu (2/9). 

Baca Juga: Rupiah spot melemah 1,17% ke Rp 14.745 per dolar AS pada akhir perdagangan Rabu (2/8)

Tercatat, data ISM Manufacturing PMI AS periode Agustus berada di level 56 lebih baik dari proyeksi pasar yang berada di level 54,6. Alhasil, rupiah jadi tertekan. 

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menambahkan deflasi yang terjadi di kawasan Eropa juga turut menyeret rupiah melemah. "Ekonomi kawasan Eropa tertekan membuat dolar AS bisa menguat terhadap major currency," kata Josua. 

Baca Juga: IHSG naik tipis 0,02%, berikut prediksi untuk perdagangan Kamis (3/9)

Sementara, sentimen dari dalam negeri juga tidak berdaya dalam menopang rupiah. Ariston mengatakan faktor deflasi dalam negeri bulan lalu mengindikasikan daya beli masyarakat belum membaik dan memberi sentimen negatif ke rupiah. 




TERBARU

[X]
×