kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -36.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.837   -53,00   -0,30%
  • IDX 6.379   77,40   1,23%
  • KOMPAS100 829   5,55   0,67%
  • LQ45 632   4,54   0,72%
  • ISSI 222   5,44   2,50%
  • IDX30 353   2,47   0,70%
  • IDXHIDIV20 430   2,43   0,57%
  • IDX80 95   0,65   0,69%
  • IDXV30 119   1,23   1,05%
  • IDXQ30 112   0,71   0,64%

Ditinggal Investor Institusi, Indo Premier Kerek Target Harga HRUM Efek Sentimen Ini!


Jumat, 14 Agustus 2026 / 15:00 WIB
Ditinggal Investor Institusi, Indo Premier Kerek Target Harga HRUM Efek Sentimen Ini!
ILUSTRASI. PT Harum Energy Tbk (Dok/HRUM)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Harum Energy Tbk (HRUM) masih menghadapi sejumlah sentimen negatif yang menekan kinerjanya. Namun, di tengah berbagai persoalan tersebut, Indo Premier Sekuritas justru melihat peluang pemulihan kinerja yang cukup menarik bagi emiten tambang ini.

Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dalam riset 13 Agustus 2026 menilai HRUM merupakan cerita pemulihan kinerja yang belum banyak mendapat perhatian pasar. Menurutnya, sejumlah kekhawatiran yang sebelumnya membebani saham HRUM kini telah tercermin dalam valuasi.

"HRUM merupakan cerita pemulihan yang terabaikan dan terbebani oleh sejumlah pemberitaan negatif," ujar Ryan dalam risetnya.

Baca Juga: Pefindo Tegaskan Peringkat idA Darma Henwa (DEWA) Dengan Outlook Stabil

Ia menyebut setidaknya ada tiga persoalan utama yang membayangi HRUM. Pertama, peningkatan produksi tambang bijih nikel berjalan lebih lambat dari perkiraan. Penjualan bijih nikel yang semula direncanakan dimulai pada 2022 baru terealisasi pada kuartal III 2025.

Kedua, kenaikan biaya sulfur membuat margin kas HRUM hanya berada di kisaran US$ 4.000-US$ 5.000 per ton pada kuartal II 2026. Kondisi ini terjadi meski peningkatan volume produksi dari fasilitas HPAL BSE mulai memberikan dorongan terhadap profitabilitas.

Ketiga, keterlambatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) bisnis batu bara turut menekan laba bersih HRUM pada semester I 2026.

Meski demikian, Ryan menilai berbagai persoalan tersebut sudah banyak diperhitungkan oleh pasar. Hal itu tercermin dari menurunnya kepemilikan investor institusi di saham HRUM.

Kini, katalis bagi HRUM diperkirakan mulai datang pada semester II 2026, terutama dari peningkatan volume penjualan batu bara dan bijih nikel.

Bisnis batu bara memang tidak lagi menjadi fokus utama HRUM. Namun, peningkatan volume penjualan pada paruh kedua tahun ini diperkirakan mampu memberikan dorongan berarti terhadap laba bersih perseroan.

Hingga semester I 2026, HRUM baru menjual sekitar 200.000 ton batu bara dari total kuota RKAB sebesar 3 juta ton. Dengan realisasi tersebut, sebagian besar penjualan diperkirakan baru akan terealisasi pada semester II 2026.

Ryan memperkirakan porsi kewajiban pasokan batu bara untuk kebutuhan dalam negeri akan meningkat. Meski demikian, karakteristik batu bara HRUM yang memiliki kalori relatif tinggi dibandingkan kebutuhan PLN serta kenaikan biaya bahan bakar menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.

Ryan tetap memperkirakan HRUM mampu mencatat margin kas batu bara sekitar US$15 per ton pada semester II 2026, termasuk setelah memperhitungkan royalti dan biaya operasional.

Baca Juga: Merdeka Copper Gold (MDKA) Tambah Kepemilikan Saham EMAS Jadi 64,01%

Selain batu bara, bisnis bijih nikel diperkirakan menjadi pendorong lain bagi kinerja HRUM pada paruh kedua 2026.

Hingga semester I 2026, penjualan bijih nikel HRUM mencapai sekitar 2,6 juta ton. Sementara itu, target penjualan sepanjang 2026 berada di kisaran 8 juta-10 juta ton.

Dengan demikian, masih terdapat ruang yang cukup besar bagi peningkatan penjualan pada semester II 2026, terutama seiring dengan peningkatan produksi tambang milik PT Position.

Sekitar 80% bijih nikel HRUM berbentuk saprolit. Menurut Ryan, peningkatan produksi dari PT Position memungkinkan HRUM mengurangi ketergantungan terhadap pasokan bijih dari pihak ketiga. Hal ini pada akhirnya berpotensi menurunkan biaya kas fasilitas pengolahan nikel RKEF milik perseroan.

Penurunan harga patokan mineral untuk bijih saprolit dan limonit juga dinilai menjadi faktor yang mendukung biaya produksi RKEF.

Dengan mempertimbangkan prospek tersebut, Indo Premier Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham HRUM.

Target harga dinaikkan menjadi Rp 1.250 per saham, dari sebelumnya Rp 1.150 per saham. Kenaikan target harga tersebut sejalan dengan revisi proyeksi laba bersih HRUM untuk 2026-2028 sebesar 6%-14%.

Indo Premier juga mengubah pendekatan valuasi HRUM. Jika sebelumnya menggunakan metode nilai aset bersih per segmen, kini valuasi didasarkan pada target rasio harga terhadap laba (price to earnings) sebesar 7,5 kali untuk proyeksi satu tahun ke depan.

Perubahan tersebut mencerminkan pandangan bahwa HRUM kini semakin layak dipandang sebagai perusahaan dengan bisnis nikel yang terintegrasi.

Meski prospek pemulihan semakin terbuka, risiko tetap membayangi. Salah satu risiko utama adalah tingginya biaya sulfur yang dapat menekan kontribusi fasilitas HPAL BSE terhadap kinerja perseroan.

Namun, bagi Indo Premier, tekanan yang selama ini membebani HRUM justru berpotensi menjadi masa lalu. Dengan peningkatan volume batu bara dan bijih nikel yang diperkirakan mulai terasa pada semester II 2026, ruang bagi HRUM untuk membalikkan kinerja dinilai semakin terbuka.

Baca Juga: Harum Energy (HRUM) Kantongi Pendapatan US$ 1,08 Miliar, Laba Naik 22,6% Semester I

Pada tahun ini, Indo Premier Sekuritas memperkirakan pendapatan dan laba bersih HRUM akan mencapai US$ 2,61 miliar dan US$ 101 juta. Sedangkan di tahun 2027, pendapatan dan laba bersih HRUM bisa mencapai US$ 2,97 miliar dan US$ 172 juta. 

Harga saham HRUM hingga pukul 14.38 WIB berada di Rp 850 per saham, naik 1,8% pada Jumat (14/8/2026). Dalam lima hari saham HRUM naik 3,66%. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×