kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

DILD kantongi kredit Rp 100 miliar


Minggu, 23 Januari 2011 / 12:07 WIB
DILD kantongi kredit Rp 100 miliar


Reporter: Adisti Dini Indreswari |

JAKARTA. PT Intiland Development Tbk (DILD) melalui anak usahanya, PT Intiwhiz International, semakin giat berekspansi di bisnis perhotelan. Sampai lima tahun ke depan, DILD menargetkan membangun 60 hotel dengan brand Whiz Hotel.

Pengembang properti ini, pada Oktober 2010 lalu, mendapat fasilitas kredit komersial dari Bank Bukopin untuk pembangunan Whiz Hotel.

Sekretaris Perusahaan DILD, Theresia Rustandi, menjelaskan, Bank Bukopin memberi pinjaman sebesar Rp 100 miliar dengan jangka waktu tujuh tahun. "Cukup untuk membangun tiga sampai lima hotel," kata dia kepada KONTAN, Jumat (21/1).

Saat ini, baru satu Whiz Hotel yang sudah beroperasi, yaitu di kawasan wisata Malioboro, Yogyakarta, yang diresmikan Agustus 2010. Dua Whiz Hotel lain, yaitu di Semarang dan Kuta Bali, sudah masuk tahap pembangunan.

Intiwhiz International masih berniat membangun hotel di 18 lokasi yang sudah disiapkan. Antara lain di Surabaya, Jakarta, Balikpapan, Lampung, dan di Bandung. Adapun investasi yang disiapkan senilai Rp 40 miliar-Rp 50 miliar per hotel. Berarti, total dana yang harus disediakan mencapai Rp 2,4 triliun sampai Rp 3 triliun.

Dari mana sumber dana sebesar itu? "Investasi itu tidak dianggarkan sekaligus, tapi bertahap sesuai perkembangan proyek," terang Theresia.

Sebenarnya, Whiz Hotel bukan hotel mewah berbintang lima. Hotel ini berbintang dua plus. "Kami mendapat sertifikasi bintang dua, tapi sebenarnya kami memiliki kualitas bintang tiga," tegasnya.

Theresia menuturkan, DILD memang menghilangkan sejumlah fasilitas seperti kolam renang, sehingga gagal mendapat sertifikasi bintang tiga. "Pebisnis tidak butuh fasilitas itu, padahal biaya perawatannya mahal," ungkap dia. Whiz Hotel memang mengincar pangsa pasar pebisnis.

Meski gencar membangun Whiz Hotel, ternyata kontribusinya terhadap pendapatan DILD masih minim, hanya 5%. "Kalau ke-60 hotel sudah beroperasi semua mungkin baru signifikan," kata Theresia.

Saat ini, 70% pendapatan DILD berasal dari penjualan perumahan. Di masa mendatang, DILD akan lebih fokus membangun superblok. Selain karena tren, keterbatasan lahan menjadi alasannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×