kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Data Ekonomi Kuat, Wall Street Bukukan Penurunan Mingguan Terbesar pada Tahun 2023


Sabtu, 25 Februari 2023 / 05:27 WIB
Data Ekonomi Kuat, Wall Street Bukukan Penurunan Mingguan Terbesar pada Tahun 2023
ILUSTRASI. Bursa saham AS. REUTERS/Andrew Kelly


Sumber: Reuters | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Indeks utama Wall Street membukukan penurunan mingguan terbesar pada tahun 2023 setelah anjlok pada perdagangan akhir pekan. Wall Street memerah di saat investor bersiap menghadapi potensi kenaikan suku bunga yang lebih agresif dari Federal Reserve AS di tengah kuatnya data ekonomi AS.

Dow Jones Industrial Average turun 336,99 poin atau 1,02% ke level 32.816,92, sementara indeks S&P 500 kehilangan 42,28 poin atau 1,05% menjadi 3.970,04. Di sisi lain Nasdaq Composite turun 195,46 poin atau 1,69% ke 11.394,94.

Secara mingguan, Dow Jones Industrial Average mencatatkan penurunan sebesar 3% yang merupakan penurunan mingguan terbesar sejak September tahun lalu. Hal ini juga merupakan penurunan mingguan keempat secara berturut-turut dari Dow.

Di saat yang sama, indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite juga masing-masing mencatatkan penurunan mingguan sedalam 2,7% dan 3,3%.

Baca Juga: Indeks Utama Wall Street Tumbang Karena Angka PCE Lebih Tinggi Ketimbang Prediksi

Setelah mencatatkan penguatan pada Januari, pasar saham memerah pada bulan ini karena banyaknya data ekonomi yang memperkuat kekhawatiran bahwa bank sentral AS mungkin harus mempertahankan kebijakan suku bunga lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.

Data pada hari Jumat menunjukkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang merupakan salah satu alat inflasi melonjak 0,6% bulan lalu setelah hanya naik 0,2% pada bulan Desember.

Pengeluaran konsumen, yang menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi AS, melonjak 1,8% bulan lalu, melebihi perkiraan sebelumnya yang hanya naik 1,3%.

Jason Pride, kepala investasi di Glenmede mengatakan siklus pasar sebelumnya telah menyaksikan reaksi serupa terhadap kenaikan suku bunga dan rilis data ekonomi, yang membantu menjelaskan pola perdagangan yang fluktuatif karena investor secara perlahan telah menyesuaikan diri dengan kondisi pasar.

Baca Juga: Bursa Asia Menghijau pada Jumat (24/2) Pagi, Pasar Cermati Data Ekonomi AS dan BoJ

"Pasar belum menyadari kemungkinan resesi yang kami pikir adalah kenyataan," katanya.

Ia mencatat bahwa kenaikan suku bunga di masa lalu biasanya memakan waktu antara enam hingga 18 bulan sebelum efeknya sepenuhnya masuk ke dalam perekonomian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×