kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.160   63,00   0,35%
  • IDX 5.361   -78,03   -1,43%
  • KOMPAS100 694   -9,14   -1,30%
  • LQ45 540   -7,32   -1,34%
  • ISSI 183   -3,19   -1,71%
  • IDX30 302   -3,71   -1,21%
  • IDXHIDIV20 399   -4,22   -1,05%
  • IDX80 80   -0,96   -1,18%
  • IDXV30 111   -0,89   -0,79%
  • IDXQ30 101   -1,08   -1,06%

Dari Kebijakan BI hingga The Fed, Ini Sentimen Pasar Keuangan Pekan Ini


Senin, 26 Oktober 2026 / 14:55 WIB
Dari Kebijakan BI hingga The Fed, Ini Sentimen Pasar Keuangan Pekan Ini
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah melemah (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah kebijakan domestik dan perkembangan global menjadi sentimen yang mempengaruhi pasar keuangan Indonesia sepanjang pekan ini.

Mulai dari pelonggaran likuiditas oleh Bank Indonesia (BI), perubahan perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), hingga meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah.

Tim Riset Syailendra Capital mencatat, BI mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20-21 Oktober 2026. Namun, BI menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5%, sementara suku bunga lending facility dipertahankan di level 6,5%.

BI juga memperkuat insentif lindung nilai melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menarik aliran modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Per 20 Oktober 2026, rupiah tercatat berada di level Rp 17.985 per dolar AS, melemah 7,9% secara year to date (YtD).

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Level Terendah dalam 3 Bulan, Tekanan Pasar Asia Berlanjut

Di sisi likuiditas perbankan, BI menurunkan secara bertahap giro wajib minimum (GWM) bank konvensional dari 9% menjadi 7% dan bank syariah dari 7,5% menjadi 5,5%. Penurunan tahap pertama berlaku mulai 1 November 2026, masing-masing menjadi 8% dan 6,5%, sedangkan tahap kedua dijadwalkan pada 1 Desember 2026.

Selain itu, insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) diturunkan dari 6% menjadi 5% mulai 1 Desember 2026. Rangkaian kebijakan tersebut diperkirakan menambah likuiditas perbankan sekitar Rp 190 triliun, di tengah pertumbuhan kredit pada September 2026 yang mencapai 13,26% secara tahunan.

Dari pasar saham, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026.

“Saham HSC tetap diperdagangkan (bukan delisting), sementara saham yang masuk atau keluar kategori HSC akan langsung disesuaikan dalam IHSG, dan jadwal evaluasi indeks diubah menjadi Jan, Apr, Jul, dan Okt,” ujar Tim Riset Syailendra Capital, dalam riset yang diterima Kontan, Senin (26/10/2026).

Dari pasar komoditas, risiko geopolitik di Timur Tengah turut menjadi perhatian. Tim Riset Syailendra Capital menyoroti ancaman Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk menyerang tujuh kabel bawah laut di Selat Hormuz jika infrastruktur Iran diserang.

Baca Juga: Rupiah Tembus ke Rp 18.100 Per Dolar AS, Terendah dalam 3 Bulan

Ancaman tersebut berpotensi mengganggu konektivitas data dan transaksi keuangan di kawasan Teluk apabila benar-benar terjadi.

Di tengah perkembangan tersebut, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 3,82% sepekan menjadi US$ 103,3 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent menguat 3,14% menjadi US$ 116,7 per barel.

Pada sektor energi domestik, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mulai mengurangi pasokan gas bumi ke Singapura sebesar 31 juta standar kaki kubik per hari sejak 24 Oktober 2026 untuk dialihkan ke kebutuhan dalam negeri, terutama sektor kelistrikan.

Lebih lanjut, di pasar keuangan, rupiah melemah 0,25% sepanjang pekan lalu hingga berada di level Rp 18.090 per dolar AS. Pada periode yang sama, indeks dolar AS atau DXY turun ke level 101,68.

Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun naik ke level 7,45%. Meski demikian, pasar obligasi domestik mencatatkan aliran dana asing masuk atau foreign inflow sebesar Rp 7,5 triliun sepanjang pekan lalu.

Sementara itu, IHSG menguat 4,9% sepanjang pekan lalu ke level 5.439. Namun, penguatan tersebut diiringi arus dana asing keluar atau outflow sebesar Rp 5,4 triliun.

Di pasar saham Amerika Serikat, indeks Dow Jones naik 1,7% dan S&P 500 menguat 0,1%. Sebaliknya, Nasdaq terkoreksi 0,5% pada periode yang sama.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati sejumlah agenda ekonomi Amerika Serikat. Pada 27 Oktober 2026, perhatian tertuju pada indeks kepercayaan konsumen atau CB Consumer Confidence Oktober dan penjualan rumah baru September.

Selanjutnya, pada 28 Oktober 2026, pasar menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve. Adapun pada 29 Oktober 2026, perhatian akan tertuju pada estimasi awal pertumbuhan ekonomi AS kuartal III-2026, data pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) September, serta klaim pengangguran awal.

Baca Juga: Rupiah Terus Tertekan ke Rp 18.117 Per Dolar AS pada Tengah Hari Ini (26/10)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×