Reporter: Rashif Usman | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investor asing mulai mengurangi eksposur investasinya di sejumlah negara berkembang atau emerging market. Fenomena ini tercermin dari meningkatnya arus keluar modal asing di berbagai negara, termasuk India dan Indonesia.
India menjadi salah satu negara yang mencatatkan pembalikan arus modal cukup signifikan. Negara tersebut mencatatkan arus keluar modal bersih sebesar US$ 2,4 miliar pada Mei 2026, berbanding terbalik dengan arus masuk modal bersih sebesar US$ 3,7 miliar pada Mei 2025.
Salah satu pemicu derasnya arus keluar modal tersebut adalah aksi jual investor portofolio asing atau foreign portfolio investor (FPI). Sepanjang Mei 2026, FPI tercatat melakukan penjualan bersih senilai US$ 4,7 miliar. Sementara itu, investasi asing langsung (FDI) bersih India juga tercatat negatif sebesar US$ 0,1 miliar, yang menandakan tekanan turut merambat ke aliran investasi jangka panjang.
Fenomena serupa turut membayangi pasar keuangan Indonesia. Arus keluar modal asing masih menjadi salah satu tekanan utama di pasar domestik, yang tercermin dari kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN).
Baca Juga: Sempat Terlambat, Pos Indonesia Akhirnya Bayar Imbalan Sukuk dan Kompensasi
Yield SBN tenor 10 tahun tercatat berada di level 7,37% per 24 Juli 2026, naik 1,89% dalam sepekan terakhir dan melonjak 13% secara tahunan (year on year/yoy). Kenaikan yield ini mengindikasikan investor asing meminta imbal hasil yang lebih tinggi sebagai kompensasi risiko untuk masuk ke pasar Indonesia.
Analis Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengatakan, investor global memang sedang mengurangi eksposur ke banyak emerging market sekaligus, bukan hanya Indonesia. Faktor utamanya adalah sikap The Fed yang masih hawkish, imbal hasil aset dolar yang lebih menarik, lonjakan ketidakpastian geopolitik, dan episode risk-off yang mendorong investor balik ke aset yang dianggap lebih aman.
Dana cenderung bergerak ke aset berbasis dolar dan pasar yang dianggap lebih defensif, terutama obligasi pemerintah AS dan pasar maju yang likuid. Di sisi ekuitas, minat besar juga mengalir ke tema kecerdasan buatan dan semikonduktor, yang disebut sebagai salah satu magnet utama bagi modal global saat ini.
Untuk Indonesia, outflow masih bisa berlanjut dalam jangka pendek selama tekanan global belum mereda dan premi risiko domestik belum turun. Penyebabnya antara lain suku bunga AS yang tinggi lebih lama, volatilitas rupiah, beban fiskal, serta kekhawatiran pasar terhadap prospek pertumbuhan dan imbal hasil riil yang harus dibayar lebih tinggi oleh investor asing.
"Di pasar obligasi, kenaikan yield SBN menunjukkan investor memang meminta kompensasi lebih besar untuk memegang risiko Indonesia, terutama saat sentimen global risk-off," kata Rully kepada Kontan, Minggu (26/7/2026) malam.
Investor asing berpeluang kembali masuk ketika ada kombinasi, mulai dari The Fed yang lebih dovish, dolar AS melemah, volatilitas global turun, rupiah stabil, dan pertumbuhan domestik kembali terlihat lebih meyakinkan. Untuk Indonesia, katalis tambahan yang penting adalah perbaikan persepsi fiskal dan stabilitas kurs.
Secara terpisah, Co-Founder Alphagate Capital dan Former Chief Indonesia Strategist of J.P. Morgan, Henry WIbowo mengatakan tidak sepenuhnya investor global mengurangi eksposur di negara berkembang. Saat ini, cukup banyak investor global yang masih mempertahankan posisi overweight di pasar negara berkembang.
Namun, pendekatannya menjadi lebih selektif, terutama dengan memprioritaskan negara-negara yang memiliki eksposur kuat terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau AI, seperti Korea Selatan dan Taiwan.
Selektivitas tersebut didorong oleh perbedaan prospek pertumbuhan, kualitas fundamental ekonomi, stabilitas kebijakan, serta besarnya keterkaitan masing-masing negara dengan sektor teknologi dan AI.
Aliran dana investor global saat ini banyak mengarah ke perusahaan dan negara yang memiliki eksposur besar terhadap sektor AI. Di kelompok pasar negara berkembang, Korea Selatan dan Taiwan menjadi tujuan utama. Sementara itu, di kelompok negara maju, Amerika Serikat tetap menjadi salah satu pasar yang paling diminati.
Baca Juga: Rupiah Tertekan Usai Perry Warjiyo Mundur, Rupiah Berpotensi Tembus Rp 18.000
"Sektor AI memiliki prospek pertumbuhan yang sangat besar dan saat ini menjadi salah satu tema investasi utama bagi investor institusi maupun investor ritel. Hal tersebut mendorong arus dana yang signifikan masuk ke perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang semikonduktor, pusat data, komputasi awan, serta berbagai teknologi pendukung AI," tambah Henry.
Di samping itu, Henry optimistis pasar saham Indonesia, khususnya IHSG, telah mencapai titik terendahnya pada Juni 2026. Ia melihat adanya potensi pemulihan IHSG menuju kisaran 7.000–7.500 hingga akhir 2026.
Keputusan S&P untuk mempertahankan peringkat kredit Indonesia dengan prospek stabil juga mencerminkan tingkat kepercayaan yang positif terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Katalis berikutnya yang perlu dicermati adalah keputusan MSCI terkait klasifikasi pasar Indonesia. Dirinya berharap Indonesia tetap dipertahankan dalam kategori pasar negara berkembang dan tidak diturunkan menjadi pasar frontier. Kepastian mengenai klasifikasi tersebut dapat memperbaiki sentimen dan mendorong kembalinya aliran dana asing.
Ke depan, Henry memperkirakan semester II 2026 dapat menjadi periode yang lebih positif bagi pasar modal Indonesia, seiring dengan peluang kembalinya aliran dana asing.
Salah satu faktor pendukungnya adalah valuasi pasar Indonesia yang sudah relatif murah, yaitu sekitar 8–9 kali rasio harga terhadap laba berdasarkan proyeksi laba ke depan (Forward PER). Selain itu, pasar Indonesia juga menawarkan imbal hasil dividen sekitar 6%–8% serta tingkat pengembalian atas ekuitas atau ROE di atas 10%.
"Kombinasi valuasi yang menarik, imbal hasil dividen yang tinggi, fundamental perusahaan yang sehat, serta stabilitas kebijakan ekonomi dapat menjadi katalis utama bagi masuknya kembali investor asing," tambah Henry.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














