kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.940   30,00   0,17%
  • IDX 6.349   9,12   0,14%
  • KOMPAS100 837   -1,78   -0,21%
  • LQ45 634   -2,99   -0,47%
  • ISSI 218   0,16   0,07%
  • IDX30 357   -1,44   -0,40%
  • IDXHIDIV20 442   -1,71   -0,39%
  • IDX80 95   -0,33   -0,35%
  • IDXV30 119   0,15   0,13%
  • IDXQ30 114   -0,58   -0,50%

Dampak Eskalasi Perang dan Naiknya Inflasi terhadap Outlook Pasar Reksadana Domestik


Senin, 14 Maret 2022 / 15:13 WIB
ILUSTRASI. Pasar modal. Dampak Eskalasi Perang dan Naiknya Inflasi terhadap Outlook Pasar Reksadana Domestik.


Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik Rusia – Ukraina belum juga menemui titik terang, bahkan semakin memanas. Pertemuan diplomatis terakhir antara Rusia dan Menteri Luar Negeri Ukraina yang dijembatani Turki gagal menemui titik kesepakatan sebab Rusia masih belum berencana untuk keluar dari Ukraina. 

Belum lagi, Executive Order yang baru saja ditandatangani Presiden AS untuk melarang impor LNG, minyak dan batubara dari Rusia sebagai sanksi untuk memaksa Rusia menghentikan agresi militernya, semakin memperkeruh keadaan. Tak hanya AS, aliansi negara barat lainnya seperti Inggris sedang meninjau rencananya untuk menghentikan impor gas dari Rusia.

Infovesta Utama dalam laporan mingguannya yang dirilis Senin (14/3), menilai, dengan ketergantungan impor minyak dan gas dari Rusia sebagai salah satu penghasil terbesar dunia, artinya akan ada gap terhadap pasokan yang perlu diisi. 

Baca Juga: Kinerja Bank Digital Mulai Membaik

Pada akhirnya, upaya pemboikotan minyak dan gas Rusia dinilai justru berpotensi memperparah gangguan pasokan. Alhasil hal tersebut semakin mengerek harga komoditas yang tentunya dapat mengangkat tingkat inflasi.

Hal ini tercermin dari rilis statistik inflasi AS per Februari 2022 yang terakselerasi ke level 7,9% di mana tertinggi sejak 40 tahun terakhir dengan kontributor utama berasal dari energi sebesar 25,6% (yang makin diperparah oleh perang Rusia-Ukraina). 

“Selain itu, Bank Sentral Eropa (ECB) baru saja mengumumkan akan mempercepat program pembelian aset (tapering) di mana disinyalir akan dimulai bulan depan dan berakhir pada kuartal III-2022. Pertimbangan tersebut seiring dengan lonjakan inflasi Zona Eropa (5,8%) yang tak terbendungi,” tulis Infovesta Utama dalam risetnya.

Infovesta Utama menyebut, hal tersebut semakin memberikan ketidakpastian terhadap outlook ekonomi global dan menimbulkan kekhawatiran akan kebijakan moneter yang akan ditempuh di tengah perang yang masih terjadi. 

Baca Juga: Rusia Akan Bayar Utang dengan Rubel Jika Sanksi Cegah Pakai Mata Uang Asing




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×